Kepalaku terasa berat dan sakit luar biasa, seakan-akan berada dalam mobil yang dikemudikan dengan ugal-ugalan. Omong-omong soal mengemudi yang tidak benar, aku jadi teringat Teresa. Secepat kilat, kejadian yang baru saja kualami mulai muncul dalam benakku. Menyadarkanku dari kebingungan sesaat, runtutan kejadian terakhir saat aku berusaha melarikan diri dari seorang Immortal yang berakhir dengan sebuah kegagalan. Lalu pemandangan yang kini kulihat adalah kain-kain yang menggantung di langit-langit atap, serta saling terikat satu sama lain membentuk sebuah simpul. Tempatku berbaring juga begitu empuk, mungkin alasnya terbuat dari kain sutra. Warna merah delima mendominasi seluruh ruangan, jelas ini bukan kamar yang semalam aku tempati, bukan pula markas para Hunter. Begitu turun dari ranj

