Bab 16

1291 Kata
Adalah sebuah keajaiban Ayu tiba dirumah dengan selamat. Menyetir mobil sendiri dengan pikiran berkecamuk selama perjalanan hingga tanpa disadari sudah tiba di rumah tanpa menabrak apapun selama perjalanan merupakan hal yang luar biasa. Ayu berjalan gontai memasuki rumah. menaiki tangga menuju lantai atas. Awalnya ingin memasuki kamarnya tapi diurungkannya, hatinya sakit, benci segala sesuatu yang berhubungan dengan Devan untuk saat ini. Maka Ayu membelokkan langkahnya menuju ke kamar rahasianya.Suasana kamar tampak gelap saat Ayu memasuki kamar itu, karena tertutup oleh Gorden, Ayu menghempas asal tasnya di atas ranjang begitu memasuki kamar itu. Berjalan dengan lunglai menyibak gorden hingga cahaya terang matahari menerangi kamar yang awalnya gelap itu. Ayu berdiri mematung di depan jendela menatap menerawang ke kejauhan dengan pikiran yang berkecamuk. Adegan Devan yang sedang mencumbu Adelia kembali berkelebat di ingatannya. Air mata kembali merebak di pelupuk matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Sakit.sangat sakit..sesakit inikah rasanya dikhianati? ...sakitnya bagai tersayat sembilu yang rasanya tak terperikan... Semua pengorbanannya selama ini kepada Devan terasa sia-sia. Dua tahun pengorbanannya terhadap kekurangan Devan dibalas dengan pengkhianatan. Ayu berdecih dan tertawa pelan bagai orang bodoh. Menertawakan kebodohannya yang selama ini begitu cinta buta pada Devan. "AKKHHHHHH...." Teriak Ayu keras, hendak melampiaskan semua amarahnya pada Devan dengan berteriak. "TEGA KAMU MASSS..." tangis Ayu pilu. "PENGKHIANAT" "b******k" Segala sumpah serapah Ayu teriakkan dengan perasaan marah. Meraih benda di atas nakas melempar kaca riasnya hingga retak dan berbunyi nyaring. Ayu menatap kaca yang sudah retak seribu itu seolah seperti hatinya kini yang telah hancur berkeping-keping saat ini. Ayu kembali menghamburkan dan membanting segala sesuatu yang tertangkap oleh matanya. membuka semua lemari dan menghamburkan segala isinya. Terus mengamuk menyalurkan seluruh emosi kemarahannya. membanting semua barang hingga pecah dan rusak. Terus mengamuk dan menangis melampiaskan segala kesedihannya hingga kelelahan. Dengan nafas memburu dan sesegukan Ayu menatap seisi kamarnya yang telah berantakan. Kondisi kamar sudah seperti kapal pecah. Ayu terduduk lemas di atas tempat tidur. Kamar yang berantakan saat ini seolah seperti suasana hatinya yang kini muram, berantakan, hancur , remuk , patah semua bercampur menjadi satu menggambarkan susana hatinya saat ini. Tatapannya kosong, matanya sembab dan rambutnya acak acakan akibat amukannya tadi. Cintanya sungguh bodoh dan buta. Dan sekarang dia menerima akibatnya dari cinta butanya itu. Terjatuh dalam jurang kesedihan. Seharusnya dari awal dia tidak memberikan seluruh hatinya pada Devan, tidak percaya sepenuhnya pada Devan sehingga begitu terluka sakitnya tidak akan sesakit ini. Dia bisa menerima pukulan-pukulan Devan, cemooh Devan dan segala emosi dan sikap posesif Devan yang terkadang membuatnya menderita dan menyiksanya. Itu semua Ayu anggap sebagai bentuk dari rasa cinta Devan yang begitu dalam padanya. Ayu tertawa sinis, menertawakan kebodohannya sekali lagi. Ayu tercenung lama, memikirkan apa yang akan dia lakukan saat ini. Jujur saja rasanya dia ingin langsung pergi jauh meninggalkan rumah ini dan Devan, untuk menenangkan diri. Apakah dia sanggup menjauh dari Devan? Ayu yang selama hidupnya sangat bergantung pada Devan merasa berat untuk melakukan hal itu. Bahkan setelah semua perlakuan Devan, Rasa cinta Ayu masih begitu dalam pada Devan. Ayu masih berharap bahwa Devan hanya gelap mata sehingga terjerat oleh bujuk rayu Dokternya itu. Ayu masih yakin cinta Devan hanya untuknya dan di hati Devan hanya dirinya yang bertahta. Sedalam itulah cinta Ayu pada Devan. Ayu berpikir untuk saat ini dia lebih baik memendam hal ini untuk dirinya sendiri.Ayu merasa masih sanggup menahan rasa sakit hatinya. Ayu takut jika dia bertanya langsung pada Devan, Takut pada jawaban yang akan Devan berikan, Ayu tidak siap jika menerima berita yang menyakitkan. Tanpa Ayu sadari hari telah mulai gelap, matahari telah kembali pada peraduannya. Dengan langkah gontai Ayu segera menutup gorden, dan beranjak meninggalkan kamar itu. Kembali ke kamar tidurnya bersama Devan. Mandi dan membersihkan diri. kemudian turun ke dapur memakan hidangan yang sudah disajikan oleh bi mumun yang baru saja selesai memasak. Bibi Mumun mengamati wajah Ayu yang sembab " Nyonya habis menangis?" tanya bi mumun pelan. Ayu sadar ketika berkaca setelah mandi wajahnya tampak sembab akibat tangis yang berkepanjangan. Ayu tidak akan bisa menutupi wajahnya yang sembab itu. " Aku baru selesai nonton drama yang sedih bi." jawab Ayu asal. Bi mumun hanya diam tidak ingin bertanya lebih lanjut, sudah sering dia mendapati nyonyanya berwajah sembab, atau terkadang terdapat lebam di wajah ataupun di tubuhnya. Alasan nyonyanya hanya jatuh atau menonton drama sedih untuk menutup kebenaran yang sudah bi mumun ketahui. Bi mumun mengetahui terkadang Tuannya jika marah emosinya bisa meluap-luap dan tidak terkontrol dan jadi suka berbuat kasar. Dan selalu nyonyanya yang menjadi sasaran kemarahan tuannya itu. Terkadang jeritan-jeritan pilu nyonyanya dan teriakan marah tuannya sampai hingga pavilium. " Apakah nyonya habis berantem sama tuan?" Tanya bi mumun memberanikan diri. Dia mengasihi nyonyanya yang baik hati ini seperti anaknya. Ayu menatap bi mumun sambil menghela nafas berat. Dengan menatap bi mumun rasa sedihnya kembali menyeruak " Dia selingkuh bi.." ujar Ayu dengan suara bergetar. Tidak bisa memendam gundahnya seorang diri. " Tuan Devan? Tidak mungkin! Saya tahu dia sangat mencintai nyonya" ujar bi mumun tidak percaya dengan apa yang baru saja nyonyanya sampaikan. Ayu tersenyum miris. Bahkan pembantunya tidak percaya bahwa Devan tega berselingkuh darinya. " Aku juga tidak akan percaya jika tidak melihatnya dengan kedua mataku ini" Bi mumun hanya bisa diam tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak menyangka bahwa tuannya tega mengkhianati nyonyanya. Bagaimanapun dia tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga majikannya. Ayu menatap gawainya yang diletakkan di atas meja. Gawai itu bergetar menandakan ada panggilan masuk. Muncul nama Suami tercinta di layar. Ayu kembali meyantap hidangan di atas meja dengan lahap. Mengacuhkan panggilan dari suaminya. Dia belum siap berbicara dengan Devan saat ini walaupun hanya melalui telepon. Tapi panggilan dari Devan terus menerus bergetar. Mau tidak mau Ayu akhirnya menyerah dan mengangkat panggilan itu. "Kamu ngapain aja? Berkali-kali aku hubungi tidak juga diangkat!" Devan langsung menyemburkan kemarahannya disebrang sana dengan suara keras begitu panggilannya diangkat oleh Ayu. Bahkan Ayu belum sempat menyapa dengan kata hallo. " Makan" jawab Ayu singkat dan acuh. Biasanya Ayu akan menjawab dengan kata-kata maaf begitu Devan menegurnya dengan marah. "Ada apa?"tanya Ayu langsung tidak ingin berbicara lebih lama. Devan terdiam disebrang sana. Sepertinya jawaban Ayu membuatnya heran. "Kenapa suaramu serak?" Tanya devan kemudian menyadari bahwa suara Ayu tampak serak. Tapi Ayu enggan untuk menjawab hal itu. Malah balik bertanya pada Devan. " Kenapa menelepon?" " Ohh..itu.. hari ini aku ada urusan sampai malam. Jangan menungguku. Tidurlah duluan" ujar Devan teringat tujuannya menelepon Ayu. Saat ini dia sudah berada di sebuah hotel bersama Adelia. Melanjutkan kegiatan mereka yang masih terasa kurang saat di kantor. Maka setelah ronde kedua. Mereka segera menuju ke hotel terdekat untuk melanjutkan ronde-ronde berikutnya. Rasa haus akan s*x Devan yang sudah ditahannya lama semakin membuatnya kecanduan akan tubuh Adelia. Saat ini bahkan Adelia sedang menggenjot diatasnya, disaat Devan sedang berbicara dengan Ayu di telepon. Devan berusaha agar deru nafasnya yang memburu tidak terdengar oleh Ayu. " Baiklah."Ayu menjawab singkat. Langsung mematikan teleponnya. Di tempatnya Devan memandangi teleponnya dengan heran mendengar reaksi Ayu yang begitu pelit bicara. Biasanya Ayu akan berceloteh panjang lebar dan mengucapkan kata cinta sebelum Devan yang berinisiatif mematikan telepon terlebih dahulu. Semua pikirannya langsung sirna begitu dirasakan nikmat yang kembali menjalari batang penisnya saat Adelia mulai menggenjot tubuhnya dengan tempo yang semakin cepat. "Ouhhh" erang Devan. Langsung menghempaskan gawainya ke sembarang tempat. Menyambut pelepasannya yang akan segera digapainya. Melupakan Ayu yang menantinya di rumah dengan penuh rasa kecewa. Ayu menatap gawainya dengan tatapan miris. Jelas-jelas suaminya itu sedang bersenggama dengan Adelia. " Baiklah mas, kalau ini yang kamu pilih." Ujar Ayu akhirnya mengambil suatu keputusan. Tadinya dia akan memberi Devan kesempatan jika Devan pulang malam ini, tapi tampaknya Devan lebih mementingkan nafsunya dari pada istrinya. Jadi untuk apa Ayu memberikan kesempatan Pada suaminya itu. Mulai sekarang Ayu akan menghapus Devan dari hatinya. To Be Continue..... Jangan lupa like & comentnya ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN