Hari ini tidak seperti biasanya Ayu sudah terbangun sedari pagi.
Dia berinisiatif memasak bersama bik Mumun. Memasak menu spesial kesukaan Devan.
Ditengah kesibukannya Ayu bahkan tidak sadar bahwa Devan telah berada di dapur sudah dengan penampilan yang rapi.
" Wah pantas saja mas bangun kamu sudah tidak ada. Ternyata sedang masak" ujar Devan pada Ayu yang masih sibuk dengan pisau dan sayur di tangannya.
" Pagi sayang" kecup Devan di pipi Ayu begitu sudah berdiri di samping Ayu.
" Pagi mas. Iya nih. Bangun kepagian. Jadinya kepikiran buat masakin makanan kesukaan mas saja" jawab Ayu sambil terus melanjutkan kegiatannya mengiris sayuran yang sedikit lagi selesai. Ayu segera mencuci tangannya begitu pekerjaannya beres.
" Ayo mas kita ke meja saja. Makanan mas sudah matang dari tadi. Yang ini biar bik Mumun yang lanjutkan" setelah mencuci tangannya Ayu menggandeng Devan menuju ke ruang makan.
Diatas meja telah tersaji beberapa macam menu makanan yang merupakan makanan kesukaan devan.
" Tampaknya lezat. Tapii.." Devan menggantung kalimatnya sambil mengamati banyaknya makanan yang tersaji diatas meja makan mereka.
"Kamu masak terlalu banyak, sayang. Kita tidak akan sanggup habiskan semua ini" Devan menatap pada banyaknya menu di atas meja. Padahal yang makan hanya dirinya dan ayu. Deva sangsi mereka akan sanggup menghabiskan semua itu.
" Tidak apa-apa. Sisanya bisa untuk makan siang dan makan malam kita. Jadi nanti tinggal dihangatkan." Ujar Ayu santai sambil menarik bangku untuk duduk.
Mereka menyantap sarapan diatas meja dengan lahap. Terutama Devan karena menu hari ini adalah menu kesukaannya.
" Nanti siang akan kuantarkan ke kantor" usul Ayu. Sudah lama Ayu tidak berkunjung ke kantor Devan.
Devan yang saat itu sedang menelan makanannya tiba-tiba tersedak dan terbatuk-batuk, Ayu segera menyerahkan segelas air minum untuk Devan.
" Ini minumnya mas. Makan pelan-pelan saja mas, jangan buru-buru."
Devan segera meminum air di gelas yang diterimanya dari Ayu hingga tandas.
"Aku bawa sekarang saja bekalnya. Kamu lebih baik di rumah saja" ujar Devan.
" Kenapa? Kalau dibawa sekarang lauknya sudah dingin. Mas kan ga suka makan nasi yang sudah dingin" heran Ayu, biasanya Devan akan langsung senang begitu dia akan mengunjunginya dikantor.
Tapi itu dulu, akhir-akhir ini Devan selalu melarang Ayu untuk datang jika Ayu mengungkap keinginannya untuk berkunjung ke kantor.
" Kan dikantor ada microwave sayang. Bisa dihangatkan di kantor. Aku tidak mau kamu ke kantor. Hari ini ada pertemuan bisnis. Rekan bisnis mas orangnya genit. Mata keranjang. Mas takut dia tertarik sama kamu." Ujar Devan menjelaskan.
Alasan yang tidak masuk akal pikir Ayu. Tapi Ayu hanya diam saja agar tidak terjadi perdebatan diantara mereka. Sebisa mungkin Ayu menghindari percecokan dengan Devan.
Memang sejak Devan dinyatakan disfungsi ereksi, dia menjadi lebih posesif. Devan takut Ayu akan berpaling darinya. Ayu sebisa mungkin dilarang keluar rumah jika tidak bersama Devan.
Ayu tidak menolak sikap Posesif Devan. Selama ini juga dia memang tidak suka bepergian jalan-jalan keluar.
Ayu adalah tipe wanita rumahan yang lebih nyaman menghabiskan waktu di rumah saja di bandingkan jalan-jalan atau berkumpul bersama teman-temannya. Sehingga sekarang satu per satu temannya menjauh darinya, dan hilang kontak, tidak pernah saling menyapa lagi.
Kini hidup Ayu hanya berpusat pada Devan.
" Ya sudah. Kalau begitu nanti aku siapkan bekal untuk mas. Selesaikan makan dulu" ujar ayu sambil melanjutkan makannya.
" Oh iya. Minggu depan ada undangan penggalangan dana yayasan yang didirikan oleh keluarga rekan bisnis mas. Kebetulan kita diundang. Ini kesempatan mas kenal dengan pebisnis-pebisnis lain. " ujar Devan dengan penuh semangat.
Akhir-akhir ini Devan sedang mengembangkan bisnisnya tapi dia butuh dana Yang tidak sedikit. Jadi dia perlu melobby beberapa pebisnis kawakan untuk memuluskan bisnisnya.
" Baiklah. Aku akan pergi mencari gaun nanti" angguk Ayu mengerti.
"Mau aku temani berbelanja?" Tawar Devan mengajukan diri untuk menemani Ayu berbelanja. Sudah lama mereka tidak berjalan-jalan sekedar menghabiskan waktu dengan berbelanja.
"Mas akhir-akhir ini kan sibuk. Aku tidak mau merepotkan mas. Aku bisa pergi sendiri kok" ujar Ayu menolak tawaran Devan. Dia tidak ingin Devan jadi repot dan kecapean karena menemaninya berbelanja.
" Tidak apa-apa. Hari ini pekerjaan mas tidak banyak. Mas bisa luangkan waktu untuk menemani kamu. Kita kan sudah lama tidak pergi jalan-jalan berdua"
" Baiklah kalau mas bersikeras. Nanti mas yang jemput atau aku yang mampir ke kantor?"
" Mas jemput saja."
" Ok"
Pembicaraan pun selesai. Devan sudah menyelesaikan sarapannya. Ayu bergegas menyiapkan bekal makan siang untuk dibawa oleh suami tercintanya.
Setelah menerima bekalnya Devan pun berpamitan untuk berangkat kerja sambil mengecup kening Ayu dengan lembut.
"Hati-hati dijalan ya mas. Jangan nngebut" peringat Ayu.
Tanpa lelah Ayu selalu mengingatkan devan untuk berhati-hati menyetir. Karena Ayu menjadi trauma pada kecelakaan yang dialami suaminya 2 tahun yang lalu.
" Iya sayang." Jawab Devan sambil memberikan senyum menenangkan.
Seperginya Devan. Ayu kembali membantu bik Mumun membersihkan meja makan.
" Biar saya saja non yang membereskan meja"
" Tidak apa-apa bik. Aku juga tidak ada kegiatan"
" Non harusnya kayak ibu-ibu yang lain. Jalan-jalan sama teman. Shopping, han ot..apa tuh namanya non yg ngumpul-ngumpul sambil nonkrong"
" Namanya Hang out bik " ujar Ayu membenarkan.
" Nah iya. Sesekali Hang ot, non"
" Mau hang out sama siapa bik. Aku kan ga punya teman. Lagian mas Devan orangnya cemburuan. Aku keluar sebentar ketemuan sama teman saja dimarahi." ujar Ayu sambil ketawa melihat cara bik Mumun mengucapkan kata-kata sulit dengan lidah yang kaku.
" Ya, sudah bi, aku ke kamar dulu ya." pamit Ayu setelah semua piring kotor sudah diangkat dari meja makan.
"iya non" jawab bik Mumun sambil sibuk mencuci tumpukan piring kotor di wastafel.
Ayu beranjak dari dapur menuju ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Di kamar, Ayu berguling-guling sebentar sambil memainkan gawainya menghabiskan waktu sambil menunggu kedatangan Devan yang berjanji akan menjemputnya untuk mencari gaun.
Sebenarnya Ayu mencemaskan kodisi Devan akhir-akhir ini, sepertinya suaminya menjadi sangat sibuk. Ayu takut Devan akan jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja.
Ayu tahu devan begitu ambisus. Kesuksesannya saat ini tidak membuatnya berpuas diri, dia selalu ingin mendapat lebih dan lebih. Devan beberapa hari lalu bercerita bahwa dia membutuhkan investor untuk mendanai bisnis baru yang akan didirikannya nanti. Dia sudah mengajukan proposal ke beberapa perusahaan tapi belum ada yang menanggapi proposalnya.
Ayu berpikir bahwa acara amal ini akan menjadi kesempatan bagi Devan untuk mencoba mendekati investor agar mau menanamkan dananya di perusahaannya nanti.