BAB 9

1803 Kata

Aiko berjalan cepat sambil mencoba bersiul untuk menghibur diri, tetapi tidak berhasil. Cuaca yang dingin dan flu membuat siulannya seperti bunyi balon kempes. Ia sudah hampir sampai di halte bus yang dimaksud Takumi. Tepat di belokan jalan itu. “Nah, itu Takumi-san,” gumam Aiko pada diri sendiri ketika membelok dan melihat sosok Takumi yang berdiri di halte bus. Oh, ternyata Takumi tidak sendirian. Ia asyik mengobrol dengan seorang laki-laki bermantel cokelat panjang sambil tertawa-tawa akrab. Namun sebelum Aiko sempat menghampiri mereka untuk melihat dan mendengar lebih jelas, laki-laki bermantel cokelat itu menjabat tangan Takumi, membuka payungnya dan berjalan menembus hujan, meninggalkan Takumi sendirian di halte bus. Aiko melihat Takumi mendongak memandangi hujan yang terus turun.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN