“Uncle Iyo geli, tau!” “Sukurin! Salah siapa jahilin Uncle?” “Itu tadi kakak duluan kok. Kakak yang ngasih ide pertama kali.” “Eh, tapi kan Rena juga ikutan ngasih ide.” “Pokoknya mau Rena atau Reno, kalian berdua harus Uncle hukum.” Suara tiga orang yang sedang bicara bersahutan itu terdengar dari arah halaman belakang. Seperti biasa, kalau Mario sedang berkunjung ke Jogja, Rena dan Reno akan menempel padanya seperti perangko. Mereka bertiga akan asyik bermain sampai berisik seperti itu. Setiap kali itu terjadi, Mentari hanya bisa memerhatikan kelakuan mereka bertiga sambil menggeleng tak percaya. Tak jarang juga tertawa saking gelinya. Karena sudah jam makan malam, akhirnya Mentari yang sejak tadi hanya memerhatikan dari dalam kini mulai keluar ke halaman belakang dan menegur, “Ayo

