Dua jam setelah Reta membuat masalah, Marcel kembali ke kamar wanita itu. Wanita itu sudah tidur, jas Marcel sudah dilempar ke arah pecahan kaca, sementara tubuh wanita itu tertutup selimut. Marcel menghela napas melihat kaca jendela yang hancur. Angin malam yang dingin menerobos masuk tanpa kesulitan. Memperbaiki jendela itu sekarang pun, tampak tidak memungkinkan.
Marcel menoleh pada Reta. Tampak bahu wanita itu masih masih terlihat, yang berarti dia masih memakai pakaian seperti tadi. Marcel akhirnya pergi ke lemari kamar itu untuk mencari selimut. Di rak terbawah lemari, Marcel melihat selimut tebal yang langsung diambilnya. Marcel membuka lipatan selimut itu dan melempar selimutnya ke atas tubuh Reta.
Setelahnya, Marcel pergi ke luar dan melihat ponsel Reta masih di sana. Marcel mengambil ponsel itu dan untungnya, ponsel itu masih bisa menyala. Namun, gambar di layar ponsel itu membuat Marcel harus menahan umpatan. Wanita itu memasang foto ciuman mereka di sana.
Marcel yang geram, berniat menghapus foto itu, tapi ponsel Reta dikunci kode. Akhirnya, setelah menarik tirai lebar kamar itu menutup untuk setidaknya menghalau angin malam, Marcel kembali ke mobilnya dengan membawa ponsel itu. Marcel mencoba memasukkan segala macam angka di sana, tapi gagal.
Marcel lantas teringat kunci kode kamar Reta dan memasukkannya, tapi gagal juga. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba perpaduan semua empat digit angka. Begitulah, Marcel melewatkan malam. Dengan sia-sia.
***
Reta pikir, semalam akan dingin, tapi ternyata tidak. Malah, ia merasa agak gerah ketika bangun. Semalam, ia memang mematikan AC karena berpikir udara malam sudah cukup dingin. Namun, ketika Reta menoleh ke jendela kamar itu, dilihatnya tirainya sudah tertutup.
Reta beranjak duduk dengan kening berkerut heran. Ia berusaha menyingkirkan selimut di atas tubuhnya, tapi kemudian menyadari jika selimut di atas tubuhnya ada dua.
Marcel. Semalam pria itu pasti datang lagi. Ah, seharusnya semalam Reta tidak tidur.
Reta bangun dengan penuh penyesalan, lalu pergi ke kamar mandi. Meski begitu, Reta sengaja memilih pakaian yang pendek meski ia merasa kedinginan ketika keluar dari hangatnya air shower.
Tidak apa-apa. Membutuhkan perjuangan besar untuk menumbangkan manusia batu seperti Marcel. Reta akan melakukan apa pun untuk membuat pria itu pergi dengan sendirinuya, atau memohon sentuhan darinya. Meski yang mana pun, pada akhirnya Reta akan mengusir pria itu dari hidupnya. Hanya jalannya yang berbeda, tapi tujuan akhirnya sama.
Setelah mandi, Reta memastikan memakai sepatunya lebih dulu sebelum pergi untuk mengambil ponselnya di balkon. Namun, ponselnya tak ada di sana. Apa mungkin jatuh ke bawah?
Namun, ketika Reta melongok ke bawah dan melihat ke mobil Marcel, dilihatnya pria itu tampak fokus mengotak-atik ponsel di tangannya. Keningnya berkerut dalam, matanya nyaris tak berkedip.
Gotcha!
Dia memakan umpan Reta, rupanya.
Dengan rencana licik yang sudah tersusun rapi dalam kepalanya, Reta bergegas turun.
***
Marcel tersentak ketika tiba-tiba pintu mobilnya terbuka dan Reta naik di kursi penumpang di sebelahnya. Kali ini hanya memakai tank top dan celana pendek.
“Apa kau gila?!” sentak Marcel kesal. “Apa kau tidak merasakan dingin?!”
“Dingin,” jawab Reta sembari mencondongkan tubuh ke arah Marcel. “Karena itu, aku butuh kehangatan darimu.”
Tangan Reta menyusuri paha Marcel. Seketika, Marcel menepis tangan wanita itu dan membuka pintu mobil, tapi Reta melempar tubuhnya melewati Marcel untuk menahan pintu dengan tangannya. Tubuh atasnya kini berada di pangkuan Marcel. Marcel melotot galak pada wanita itu.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Marcel.
Gilanya lagi, wanita itu malah menyandarkan kepalanya di paha Marcel.
“Kau pikir kau bisa kabur setelah mencuri ponselku?” sembur wanita itu.
“Aku tidak mencurinya,” desis Marcel tak terima. Marcel menunjukkan gambar di layar ponsel itu. “Tapi, apa maksudnya ini? Hapus ini!”
Reta mengangkat alis. “Jika aku menghapusnya, kau akan pergi dan tidak menggangguku lagi?”
“Aku di sini untuk mengawal dan menjagamu, jadi ...”
Marcel nyaris mengerang dan segera menahan tangan Reta yang sudah mendarat di dadanya, dan bergerak di sana.
“Kau benar-benar tidak tertarik pada tubuhku?” Reta tersenyum miring.
“Tidak,” jawab Marcel tegas. Meski saat ini, tubuhnya mulai terasa panas.
“Kalau begitu ...” Reta menarik turun tali tank top-nya, membuat Marcel seketika memalingkan wajah kasar.
“Jika kau tidak pergi, aku bisa melemparmu keluar dari sini,” ancam Marcel sembari membuka pintu di sebelahnya, mengalahkan pegangan tangan Reta.
“Cih, pembohong payah,” desis Reta meledek.
Reta lalu menegakkan tubuh dan Marcel pikir, wanita itu akan menyerah. Namun, tiba-tiba dia berpindah ke depan Marcel. Duduk di pangkuan Marcel menghadap Marcel. Refleks Marcel memundurkan tubuhnya sejauh mungkin, tapi gerakannya terbatas. Ketika Reta terus maju ke arahnya, Marcel tak punya pilihan lain. Ia menarik tuas kursi hingga sandaran kursinya jatuh ke belakang.
“Pergi dari pangkuanku!” teriak Marcel marah.
Reta tertawa puas. “Iya, iya, ini aku hanya lewat. Aku mau keluar lewat pintu di sebelahmu,” Reta menjawab santai.
Marcel seketika melotot pada wanita itu. “Di sebelah sana ada pintu!” bentaknya frustrasi.
“Kalau ada yang sulit, kenapa harus memilih yang mudah?” sahut wanita itu santai.
Namun, bukannya segera turun, wanita itu kembali beraksi. Tangannya bergerak di perut Marcel dan terus turun, membuat Marcel tak punya pilihan selain menyentakkan wanita itu ke arah pintu, membuatnya terlempar keluar dari mobil dengan kepala mendarat lebih dulu ke tanah. Bahkan, sepertinya kepalanya sempat menghantam pintu.
“b******n b******k!” maki Reta. “Akan kubuat kau membayar untuk ini, aku bersumpah!”
Marcel yang sudah menegakkan tubuh menoleh pada Reta, merasa agak bersalah melihat posisi jatuh wanita itu.
“Melihat kau masih bisa mengumpat, kurasa kau baik-baik saja,” ucap Marcel.
Reta akhirnya berdiri dan hendak masuk ke mobil, tapi Marcel sudah menutup pintu dan menguncinya. Reta hendak masuk lewat pintu belakang, tapi Marcel lebih cepat. Dia mengunci semua pintu.
Reta menggedor jendela kaca mobil Marcel dengan marah. Samar, Marcel bisa mendengar suara teriakannya,
“Kau akan mati hari ini! Aku akan membunuhmu! Keluar kau, Pengecut! Dasar b******k kau, Marcel!”
Marcel memijat pelipisnya sembari memejamkan mata. Sepertinya, ia baru saja menyenggol timer dari bom waktu Reta. Wanita itu tidak akan memedulikan waktunya untuk meledak setelah ini. Dia bisa meledak kapan saja dan di mana saja.
Marcel menunduk menatap ponsel Reta di tangannya. Belum lagi ini. Apa sebaiknya Marcel menghancurkan ponsel ini?
Tidak. Bukan hanya bom yang akan meledak jika Marcel melakukan itu, malah nuklir yang akan diluncurkan Reta padanya. Dan Marcel tak punya cukup kepercayaan diri untuk menghadapi itu.
Tidak untuk saat ini. Ketika tubuhnya terus-menerus merepons setiap sentuhan panas wanita itu.
***