Wening terbangun dari tidurnya, dia melihat jam di dinding kamar menunjukkan pukul satu dini hari. Dia tersenyum menatap suaminya tertidur pulas, namun sayangnya bibir Galih belum juga lepas dari dadanya. Wening heran, kenapa suaminya menjadi maniak benda miliknya yang satu ini? Sepertinya tiada hari bagi Galih tanpa menghisap dan memainkan bagian tubuh favorit Wening. Wening berusaha menjauh bibir Galih dari puncak dadanya, seakan peka bibir Galih kembali menghisap dengan kuat sontak Wening mendesah dan meringis bersamaan. "Ya ampun Mas, kuat banget sih hisapannya." Melihat wajah polos Galih membuat Wening tidak tega, sepertinya dia harus menahan diri untuk beberapa menit sebelum beranjak ke kamar mandi membuang hajatnya. "Kalau nggak nyusu pasti ngorok, ada aja kelakuannya." De

