Ketika cinta datang, dia tidak akan memilih siapa pemiliknya karena cinta itu rasa yang terikat tanpa asa yang berlebihan
Alena datang ke sebuah acara pesta topeng yang direkomendasikan oleh Becca, sahabatnya. Acara kencan buta yang diselenggarakan di sebuah club terkenal di kota mereka. Sebenarnya Alena enggan untuk mengikuti acara perjodohan seperti ini. Hanya saja, Alena tidak ingin dikejar-kejar Brian, mantan kekasihnya. Brian seorang anak pewaris sebuah perusaahan yang bergerak dibidang teknologi. Sebagai generasi penerus, tentu saja pernikahan Brian telah disiapkan oleh ibunya. Sayangnya, Brian terlanjur jatuh cinta pada Alena seorang gadis panti yang menjadi temannya di bangku kuliah. Alena dan Brian terpaksa mengakhiri hubungan mereka karena cinta beda status. Semua tidak semudah membalikkan tangan, Brian bersikeras mempertahankan hubungan mereka meskipun Alena menolak hal itu. Hingga akhirnya, Alena memilih jalan pintas untuk merusak image-nya selama ini.
Alena melangkahkan kakinya ke dalam club yang penuh dnegan hingar bingar suara musik yang memekakan telinganya. Alena merasa risih dengan apa yang dia gunakan, sebuah gaun yang memamerkan d**a dan kaki jenjangnya. Alena mengumpat di dalam hati, tidak seharusnya dia mengikuti saran dari Becca.
"Tsk, seharusnya aku tidak mengikuti saran Becca, aku merasa seperti w************n," keluh Alena yang menatap minuman di hadapannya. Minuman berwarna pelangi, sangat cantik, namun tak secantik efek minuman itu di dalam tubuh Alena.
Sementara itu, Svarga mengikuti keinginan sahabatnya Ryan untuk datang ke pesta topeng yang diselenggarakan di salah satu club milik Ryan.
"Hai, Bro, akhirnya lo datang!" sapa Ryan yang senang dengan kedatangan sahabatnya,
"Hm,"
"Lo sendiri?"
"Hm,"
"Tsk, gak ada jawaban selain 'hm'?" sindir Ryan yang mulai jengah dengan Svarga,
"Lo mau gue jawab apa?" tanya Svarga yang membat Ryan meringis,
"Ya, lo bener. Gue mau ajak lo have fun bersama, lo nggak lihat banyak cewek-cewek cantik di sini," jawab Ryan,"lo butuh kekasih bayaran untuk bertemu Nyonya Nawasena, bukan?"
"Jadi, ini jawaban lo buat masalah gue?"
"Ya, mau bagaimana lagi. Sulit banget cari kriteria cewek seperti yang lo mau," curhat Ryan yang membuat Svarga melirik dengan tajam,"ckckck, lirikan mata lo, serem. Slow, bisa?" bujuk Ryan,
"Kalau gue bisa. Gue gak minta bantuan lo. Lo tau sendiri, keluarga gue berisik. Apalagi, gue pernah gagal menikah sekali, dan sekarang nenek minta gue memiliki kekasih sebelum nenek ulang tahun,"
"Why?" tanya Ryan kepo,"apa karena sepupu tampan lo, mau nikah sama anak perempuan salah satu dewan direksi grub Century?" tebak Ryan yang membuat Svarga menganggukkan kepalanya.
"Tsk, kasihan..."
Svarga menatap Ryan yang kini menutup mulutnya sendiri, merasa keberadaannya tidak aman, Ryan segera mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
"Lo bisa cari cewek bayaran untuk itu, benar kan?" tanya Ryan,
Svarga menggelengkan kepala,"tidak. Gue gak mau ambil resiko ambil sembarang wanita seperti saran lo," jawab Svarga.
Ryan menghela nafas panjang,"ribet amat!"
"Keluarga besar gue gak sebodoh itu. Paham kan?"
"Tapi, lo lihat pilihan gue dulu. Gue bisa bedakan mana yang segel sama oplosan..." bujuk Ryan,
Svarga menggelengkan kepala untuk kesekian kali, Ryan sahabat baiknya ini terkenal ambigu dalam setiap perkataann dan perbuatan.
"Hm, coba saja," putus Svarga yang pasrah dengan sikap Ryan yang keras kepala.
Satu per satu wanita Ryan tunjuk, membuat Svarga memiliki pilihan yang sebenarnya tidak dia suka. Svarga bukan tipe pemilih, hanya saja Svarga memiliki pilihannya sendiri. Sayangnya, pilihan Svarga memiliki seorang kekasih, dan Svarga tidak ingin menjadi sosok yang jahat untuk wanita itu. Namun, secercah harapan muncul ketika Svarga melihat wanita pilihan Ryan. Wanita yang duduk sendiri di depan meja bar, wanita yang tak asing bagi Svarga. Svarga menepuk bahu Ryan, menandakan agar sahabatnya itu berhenti memberikan Svarga pilihan. Ryan menatap Svarga yang kini meninggalkan dirinya dan menuju ke tempat wanita yang dia tunjuk secara random.
Svarga menghampiri wanita yang menarik perhatiannya beberapa bulan yang lalu, wanita yang Svarga perhatikan dalam diam.
"Kamu sendiri?" tanya Svarga yang menyapa wanita itu,
"Iya,"
"Boleh, aku duduk?" tanya Svarga yang dijawab dengan anggukan kepala wanita itu,"kenapa kamu ke tempat seperti ini sendirian?"
"Aku hanya ingin lari dari masalah saja, sebenarnya seperti itu, tapi menjadi lebih rumit karena aku tidak bisa berbaur dengan mereka," jawab Alena yang menunjuk ke arah kerumunan manusia yang menari bersama,
"Kalau boleh tau, apa tujuan kamu ke sini?"
"Aku ingin memiliki partner ONS," jawab Alena to the point,
"Apa?" Svarga sedikit terkejut mendengar jawaban Alena,
"Kenapa? Bukannya itu hal yang biasa dilakukan beberapa orang yang datang ke tempat seperti ini,"
Svarga mengiyakan asumsi Alena, dia memberanikan diri untuk mendekati Alena, setidaknya Alena pilihan yang tepat untuk menjadi tameng dari permasalahannya, bukankah mereka berdua bisa menjalin hubungan simbiosis mutualisme?
"Bagaiamana dengan aku?" tanya Svarga yang menyodorkan dirinya sebagai solusi dari masalah Alena.
"Kamu?"
"Hm, aku tidak terlalu buruk untuk urusan ranjang," jawab Svarga meyakinkan Alena.
"Boleh,"
"Jadi, dimana kita akan-,"
"Ah, itu, aku-,"
Svarga tersenyum, sepertinya ini kali pertama Alena melakukan hal ini. Alena mengikuti langkah Svarga, mereka menuju ke sebuah hotel bintang lima yang berada tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
"Sepertinya kita salah tempat, hotel ini sangat mahal. Aku-,"
"Aku yang akan membayar semua," potong Svarga,
Alena mengangguk patuh,
Alena dan Svarga masih menggunakan topeng di wajah mereka, hal ini dilakukan untuk melindungi privasi mereka berdua. Alena dan Svarga masuk ke dalam kamar yang mereka pesan, ralat Svarga pesan.
Alena takjub dengan pemandangan dari jendela kamar mereka. tampak gemerlap lampu kota terlihat cantik menghiasi malam di mana Alena akan memberikan mahkota yang dia jaga kepada pria asing.
"Kamu mau mandi dulu?" tanya Svarga,
Alena menganggukkan kepala kaku. Alena sangat gugup. Ternyata apa yang akan dia lakukan tidak semudah itu. Alena hanya gadis polos yang baru mengenal cinta dan terluka saat mulai membuka hatinya. Setelah bergantian membersihkan diri, Alena dan Svaga menggunakan jubah mandi berwarna putih yang disediakan oleh pihak hotel. Alena menatap Svarga yang tampak takcanggung dengan keadaan mereka berdua,
"Apa ini kali pertama kamu melakukan hal ini?" tanya Svarga yang menunggu jawaban Alena.
Alena gugup. Dia tidak ingin pasangan ONS yang susah payah dia dapatkan pergi dan membuat usaha Alena sia-sia.
"Aku-,"
"Aku tidak ingin merusak kamu, jika kamu-,"
"Aku melakukan ini karena aku membutuhkannya, jad jangan ragu untuk melakukan hal itu. Mungkin, aku tidak berpengalaman, tapi aku termasuk wanita yang bisa belajar dengan cepat," bujuk Alena yang membuat Svarga tertegun mendengar apa yang Alena katakan.