*Author Pov*
Tiga hari lagi pertandingan penyisihan pertama akan digelar. Suasana gedung olahraga sore itu terasa berbeda dari biasanya.
Walaupun latihan tetap berjalan seperti biasa, ada ketegangan kecil yang mulai terasa di antara mereka.
Bukan takut. Tapi gugup, antusias dan juga penasaran.
Saat ini Pak Ridwan selaku pembimbing klub resmi dari sekolah tengah berdiri di depan mereka sambil memegang beberapa lembar kertas hasil pembagian jadwal pertandingan.
Anak-anak klub langsung berkumpul mendekat dengan penuh rasa penasaran.
“Untuk tim Harimau Putih,” ucap Pak Ridwan sambil melihat kertas di tangannya, “kita ada di urutan kelas C.”
Semua langsung fokus mendengarkan.
“Kita akan bermain di hari keempat jam sebelas siang.”
Radi langsung menoleh cepat ke arah Juna.
“Anjir, bentar lagi.”
Juna mengangguk kecil. Jujur saja, dadanya mulai terasa berdebar. Selama ini mereka terus latihan tanpa benar-benar memikirkan kalau pertandingan resmi itu ternyata sudah sedekat ini.
“Aku juga sudah mendapatkan izin untuk klub kita,” lanjut Pak Ridwan. “Sama seperti ekskul olahraga lain yang ikut pertandingan ini.”
Senyum tipis muncul di wajah Rio. Setidaknya pihak sekolah benar-benar mulai memperhatikan mereka sekarang.
“Wakil Kepala Sekolah benar-benar ingin kalian membuktikan kalau tim ini bisa bangkit kembali,” sambung Pak Ridwan penuh semangat. “Beliau mempercayakannya pada kalian.”
Kalimat itu langsung membuat suasana menjadi sedikit lebih serius. Karena mereka tahu klub Harimau Putih memang sempat lama mati. Dan sekarang, harapan untuk menghidupkannya lagi ada di pundak mereka.
Rio mengepalkan tangannya pelan. Begitu juga yang lain.
“Kalau begitu,” ujar Pak Ridwan lagi sambil menatap mereka satu per satu, “karena waktu kita sudah tidak banyak, mulai hari ini tidak ada lagi waktu libur sampai pertandingan penyisihan nanti.”
“SIAP!”
“Saya yakin kita tidak akan kalah dengan mereka, ataupun dengan pendatang baru lain seperti kita.”
Pak Ridwan tersenyum lebar.
“Kobarkan semangat kalian!”
“Ooo!!!”
Suara teriakan mereka menggema memenuhi gedung olahraga. Bahkan beberapa siswa yang lewat di luar gedung sampai menoleh karena mendengar teriakan kompak itu.
Setelah pengarahan selesai, latihan kembali dimulai. Namun kali ini atmosfernya terasa lebih panas. Terasa jauh lebih serius daripada sebelumnya.
“Radi! servis ulang!” ucap Alvian yang memang sudah menunggu untuk kembali berlatih.
“Siap!”
“Juna, fokus kaki tumpuan!”
“Iya Pak!”
“Haikal jangan ngelamun!”
“Astaga Pak, saya cuma kedip.”
Tawa kecil sempat terdengar sebelum latihan kembali serius. Alvan benar-benar tidak memberi mereka kesempatan santai.
Bola terus dilambungkan. Gerakan demi gerakan diulang berkali-kali. Keringat bahkan sudah membasahi lantai lapangan.
Namun anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh seperti biasanya.
Karena sekarang mereka tahu tujuan latihan ini, mereka ingin menang.
Atau setidaknya mereka ingin membuktikan kalau Harimau Putih pantas untuk kembali berdiri.
Di sela latihan, Pak Ridwan menghampiri Alvan yang sedang memperhatikan permainan Juna dan Radi.
“Karena anggaran yang diterima klub ini tidak sebanyak ekskul lain,” ujar Pak Ridwan pelan, “kita akan ke gedung atlet pakai mobil yang saya pinjam dari teman.”
Alvan langsung menoleh.
“Serius, Pak?”
Pak Ridwan mengangguk kecil.
“Daripada kalian repot naik kendaraan sendiri-sendiri.”
Alvan tersenyum tipis.
“Terima kasih banyak, Pak.”
“Santai aja,” balas Pak Ridwan. “Saya juga ingin lihat klub ini maju dan bangkit lagi.”
Alvan sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya ikut mengangguk.
“Saya sendiri nanti akan minta beberapa teman saya buat bantu selama pertandingan penyisihan.”
“Bagus.”
Pak Ridwan kembali melihat anak-anak yang sedang latihan. Wajahnya terlihat puas. Walaupun baru berjalan beberapa bulan, perkembangan mereka memang terlihat jelas.
“Anak-anak ini punya semangat besar,” gumam Pak Ridwan pelan.
Alvan terkekeh kecil.
“Kadang terlalu besar malah.”
Mereka berdua tertawa kecil sebelum Pak Ridwan akhirnya pamit meninggalkan gedung olahraga.
Sementara latihan terus berjalan.
“Sekali lagi!”
Suara Alvan kembali terdengar. Juna menarik napas panjang sambil mengusap keringat di dagunya.
Kakinya terasa pegal dan napasnya juga mulai berat. Namun ia tetap kembali ke posisi.
Di sisi lain, Genta berdiri sambil memutar bahunya pelan.
“Gue rasa kaki gue mau copot.”
“Belum juga pertandingan,” sahut Haqi santai.
“Kalau kaki gue copot pas pertandingan gimana?”
“Ya tinggal dipasang lagi.”
“Heh, serem banget.”
Radi langsung tertawa kecil mendengar itu.
Riri yang sedang duduk di pinggir lapangan sambil mencatat jadwal latihan hanya menggeleng pasrah melihat mereka. Entah kenapa walaupun latihan mereka berat, suasananya tetap selalu ramai.
“Ri.”
Riri menoleh saat Genta memanggilnya.
“Minuman gue mana?”
“Abis.”
“HAH?”
“Bercanda.”
Riri melempar botol minuman ke arahnya. Genta menangkapnya cepat sebelum akhirnya terkekeh kecil.
“Sumpah ya, kayanya gue bisa kena serangan jantung gara-gara lo.”
“Drama banget.” jawab Riri sambil tertawa lepas.
Juna yang melihat interaksi mereka hanya tersenyum tipis sebelum kembali fokus ke lapangan.
Namun belum sempat mereka istirahat lama, fokusnya kembali pada latihan di depannya.
“Balik posisi!”
Keluhan langsung terdengar dari berbagai arah.
“Pakkk…”
“Capek…”
“Pak Alvan manusia apa robot sih…”
“Kalau masih bisa ngomel berarti masih kuat,” balas Alvan tanpa rasa bersalah.
Rio yang sejak tadi berdiri di samping pelatih mereka langsung tertawa puas.
“Setuju.”
“Lo jangan seneng dulu,” gerutu Haikal. “Lo juga nanti ikut latihan tambahan.”
Rio langsung terdiam.
“Yaudah anggap gue gak ngomong.”
Tawa kembali pecah. Namun latihan tetap berjalan hingga matahari mulai turun perlahan. Langit di luar gedung olahraga berubah jingga. Cahaya sore masuk dari sela jendela besar gedung olahraga dan jatuh tepat di tengah lapangan.
Keringat, suara sepatu, dan pantulan bola rotan masih terus terdengar. Mereka lelah. Sangat lelah.
Tapi tidak ada yang ingin berhenti. Karena semakin dekat hari pertandingan, semakin besar juga keinginan mereka untuk membuktikan diri.
Saat latihan akhirnya selesai, beberapa dari mereka langsung duduk selonjoran di lantai. Radi bahkan sampai rebahan sambil menatap langit-langit.
“Kalau gue mati muda,” katanya pelan, “tolong kuburan gue jangan jauh-jauh dari sekolah.”
“Biar gampang diziarahin?” tanya Haikal.
“Biar Pak Alvan bisa lihat hasil latihan beliau.”
“Heh kurang ajar.”
Semua langsung tertawa. Pak Alvan sendiri hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
Walaupun anak-anak ini sering mengeluh, mereka tidak pernah benar-benar menyerah. Dan itu yang paling penting.
Rio duduk di dekat net sambil memperhatikan anggota timnya satu per satu. Juna yang diam-diam masih stretching.
Radi yang terus mengeluh. Haikal yang ribut sendiri. Haqi yang membantu membereskan bola.
Dan Genta yang kini sedang bercanda dengan Riri sambil sesekali terkena jitakan kecil dari gadis itu.
Melihat semua itu membuat Rio tersenyum kecil. Dulu, ia sempat berpikir klub ini tidak akan pernah hidup lagi.
Namun sekarang Harimau Putih benar-benar kembali berdiri.
Dan tiga hari lagi mereka akan memulai langkah pertama mereka di pertandingan resmi.