Enam Puluh Lima

1147 Kata
*Author Pov* Suara pluit pertama yang menandai dimulainya pertandingan masih terngiang di telinga mereka. Pertandingan pertama mereka sungguh sangat sengit. Sejak menit-menit awal, tim lawan langsung menunjukkan kenapa mereka pernah menjadi juara daerah. Permainan mereka sangat rapi. Tidak terburu-buru menyerang, tetapi juga tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Harimau Putih untuk mengembangkan permainan. Juna, Radi, dan Genta sudah mengerahkan kemampuan terbaik mereka. Namun tetap saja mereka kesulitan. Tak! Bola kembali meluncur cepat melewati net. Radi berhasil menerima bola dengan paha lalu mengarahkannya ke Juna. Juna melompat dengan tepat. Brak! Smash keras dilepaskannya ke area kosong, tetapi salah satu pemain lawan sudah lebih dulu bergerak. Bola itu berhasil dikembalikan. "Anjir!" umpat Radi. Permainan terus berlanjut. Satu serangan. Dua serangan. Tiga serangan. Namun pertahanan lawan tetap berdiri kokoh. Suara bola takraw yang saling dipukul terdengar bergema di seluruh arena. Begitu pula suara Alvian yang sejak tadi tidak berhenti memberikan instruksi. "Fokus!" "Jangan buru-buru!" "Jaga posisi kalian!" Keringat mulai membasahi wajah para pemain Harimau Putih. Mereka baru menyadari satu hal. Latihan tanding dengan White Lily dan Elang ternyata masih jauh berbeda dibanding pertandingan resmi seperti ini. Tekanan dari penonton, tekanan dari skor yang terlihat, dan tekanan dari nama besar lawan. Semuanya terasa jauh lebih berat. "Radi kiri!" "Juna belakang!" "Genta awas!" Teriakan demi teriakan terus terdengar. Namun semakin lama permainan berjalan, semakin terlihat bahwa mereka mulai kehilangan ritme. Tim lawan bermain sangat sabar, mereka tidak selalu menyerang. Terkadang mereka hanya mengembalikan bola, bahkan kadang mereka hanya mengirim bola-bola pendek yang memancing kesalahan. Dan kadang mereka justru memperlambat tempo permainan. Hal itulah yang membuat Juna semakin kesal. Rasanya seperti sedang ditarik masuk ke dalam permainan lawan. Mereka tidak memberi kesempatan untuk bermain sesuai ritme sendiri. Tak! Bola kembali jatuh di area Harimau Putih. "Point!" teriak wasit. Skor kembali bertambah untuk lawan. Juna mengepalkan tangannya, mereka kembali kecolongan. Sementara itu di tribun penonton, Riri mulai menggigit ujung pulpen yang dibawanya. Gadis itu sebenarnya berusaha terlihat tenang. Namun kenyataannya jantungnya juga berdebar sejak pertandingan dimulai. "Masih bisa dikejar kan?" gumamnya pelan. Rio yang duduk di dekatnya juga tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia terus memperhatikan setiap pergerakan anggota timnya. Bukan karena mereka bermain buruk. Tetapi karena mereka bermain terlalu tegang. Rio sangat mengenal mereka. Saat latihan, Juna jauh lebih berani. Radi jauh lebih agresif, sedangkan Genta terkadang jauh lebih tenang. Namun sekarang mereka terlihat seperti sedang menahan diri. Takut melakukan kesalahan. Takut gagal. Dan sangat terlihat jelas jika mereka takut mengecewakan orang lain. Padahal rasa takut itulah yang justru membuat mereka melakukan kesalahan. Di tengah pertandingan, sebuah insiden kecil terjadi. Salah satu pemain lawan beberapa kali melakukan selebrasi berlebihan setelah mendapatkan poin. Tidak melanggar aturan, tetapi cukup membuat Genta naik darah. Saat bola keluar lapangan, Genta bahkan sempat mengambil bola tersebut lalu melemparkannya agak keras ke arah sudut lapangan. "Songong banget sih tuh orang!" gerutunya. Radi langsung menarik lengan temannya panik. "Woy! Santai!" "Gue kesel!" "Jangan sekarang!" Juna ikut mendekat. "Fokus pertandingan dulu!" "Kalau menang baru lo bebas songongin mereka balik." Genta mendengus kesal. Namun akhirnya ia kembali ke posisi. Dari pinggir lapangan, Alvian hanya menggeleng pelan melihat tingkah anak didiknya. Untung saja amarah Genta masih bisa dikendalikan. Kalau tidak, pertandingan mereka bisa berakhir dengan cara yang memalukan. Skor terus berjalan. Perlahan selisih poin mulai terasa. Walaupun tidak terlalu jauh, Harimau Putih terlihat kesulitan mengejar. Juna mengatur napasnya, kakinya mulai terasa berat. Pertahanan lawan benar-benar menyulitkan untuk mereka, terutama untuk Juna. Setiap smash yang ia lepaskan selalu berhasil dibaca, setiap celah yang ia incar selalu tertutup. Bahkan ketika berhasil mendapatkan ruang kosong, pemain lawan masih mampu menyelamatkan bola dengan refleks yang luar biasa. "Gila...," gumamnya. Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa tingginya level kompetisi ini. Tak! Tak! Tak! Reli panjang kembali terjadi. Sorak penonton semakin ramai. Kedua tim saling bertukar serangan, namun pada akhirnya bola kembali jatuh di area Harimau Putih. Satu poin lagi untuk lawan. Juna membungkuk sambil menopang lututnya. Radi juga terlihat kelelahan, sedangkan Genta mulai kehilangan kesabarannya. Melihat kondisi itu, Alvian langsung mengangkat tangannya. "Time out!" Wasit meniup pluit. Pertandingan dihentikan sementara. Mereka semua segera berjalan menuju bangku pemain, Riri yang sejak tadi berdiri di bangku pemain segera menyiapkan botol minuman mereka dan langsung memberikannya kepada tim nya satu per satu. "Minum dulu." Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya mengambil botol itu dari tangan Riri dengan diam. Mereka terlalu lelah. Terlalu frustrasi, dan terlalu kecewa dengan permainan mereka sendiri. Alvian berdiri di depan mereka, tangannya berkacak pinggang sedangkan tatapannya menyapu satu per satu wajah para pemain. Pria itu menggeleng pelan. "Saya tidak tahu kenapa kalian bisa bermain seberantakan ini." Semua langsung menundukkan kepalanya. "Apakah hanya ini yang bisa kalian lakukan?" Mereka menggeleng pelan. "Tidak, Pak...," jawab Juna lirih. "Kalau begitu kenapa kalian bermain seperti orang yang baru pertama kali menyentuh bola?" Tidak ada yang menjawab, karena mereka sendiri tahu permasalahan mereka bukan kemampuan mereka, tapi ada di mental mereka. "Kalian terlalu sibuk memikirkan lawan." Alvian menunjuk lapangan. "Kalian terlalu sibuk memikirkan siapa mereka." Suasana menjadi hening. "Kalian lupa memainkan permainan kalian sendiri." Juna menatap lantai. Apa yang di ucapan pelatihnya itu terasa menohok. Karena benar, sejak awal pertandingan mereka terlalu fokus pada reputasi lawan. Mereka terlalu kagum, terlalu takut, terlalu berhati-hati. Sampai lupa bermain seperti saat latihan. Rio yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Juna." Pemuda itu langsung mengangkat kepala. "Lo ingat waktu pertama kali latihan sama gue?" Juna mengangguk. "Lo bahkan gak bisa nerima bola dengan benar." Radi langsung tertawa kecil. "Gue juga." Rio tersenyum. "Tapi sekarang kalian ada di sini." Tatapan Rio berpindah ke semua anggota tim. "Di lapangan yang sama dengan tim terbaik daerah." Mereka mulai mendengarkan dengan serius. "Kalau kalian sampai di sini, berarti kalian memang pantas berada di sini." Jantung Juna berdegup sedikit lebih cepat. "Jangan hormati lawan sampai kalian lupa melawan mereka." Kalimat itu membuat semua orang terdiam. Bahkan Genta yang biasanya banyak bicara pun hanya menatap Rio. Rio tersenyum tipis. "Kalian gak perlu menang sekarang, tapi gue mau kalian nunjukin kemampuan terbaik kalian." "Kalau nanti kalian kalah setelah ngeluarin semua kemampuan kalian, gue yang pertama bakal tepuk tangan buat kalian." Keheningan sesaat muncul, lalu Radi berdiri lebih dulu. "Kalau gitu kita bikin mereka capek juga." Genta menyeringai. "Gue setuju, gue bakal mereka mingkem untuk gak songong lagi." Juna ikut berdiri. Perasaan gugup yang sejak tadi membebani dadanya perlahan mulai berubah. Mereka mungkin masih kalah tentang pengalaman, mungkin juga masih kalah tentang teknik. Tetapi pertandingan belum selesai. Mereka masih punya kesempatan untuk bertarung. Alvian melihat perubahan ekspresi anak-anak didiknya lalu tersenyum puas. "Nah, Itu baru tim yang saya kenal." Wasit meniup pluit tanda waktu istirahat hampir selesai. Para pemain mulai kembali ke lapangan. Juna melangkah lebih mantap dibanding sebelumnya, Radi memutar bahunya, meregangkan badannya. Sedangkan Genta menepuk kedua pipinya sendiri. Mereka kembali mengambil posisi. Sorak penonton kembali memenuhi arena. Pertandingan akan dilanjutkan, dan kali ini, Harimau Putih tidak ingin bermain hanya untuk bertahan. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka benar-benar layak berdiri di lapangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN