Empat Puluh Satu

1084 Kata
*Author POV* Hari latihan tanding yang sudah mereka tunggu akhirnya semakin dekat. Suasana ruang klub hari itu entah kenapa terasa berbeda. Lebih serius dan lebih tegang. Tidak ada lagi candaan berlebihan seperti biasanya. Bahkan Rio yang biasanya paling berisik pun kini terlihat jauh lebih fokus. Di tangannya, beberapa lembar kertas berisi catatan pertandingan lawan sudah penuh dengan coretan. Mereka semua sedikit terkejut ketika mengetahui siapa lawan latihan tanding mereka kali ini. Klub sepak takraw Elang dari sekolah Pelita Jaya. Nama itu bukan nama asing. Setidaknya bagi mereka yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia sepak takraw sekolah. “Apa mereka sehebat itu?” tanya Juna sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, alisnya sedikit berkerut melihat Rio yang benar-benar tidak berkedip melihat catatan itu. Ia memang masih baru di dunia sepak takraw, karena itu baginya masih terasa asing, bahkan nama-nama klub pun belum banyak yang ia kenal. Selama ini, satu-satunya tim yang benar-benar ia tahu hanyalah White Lily—itu pun karena pengalaman sebelumnya. Rio mengangkat kepalanya, matanya berbinar seperti biasa ketika membicarakan pertandingan. “Mereka memang nggak sekuat Bulan Biru,” jawabnya, “tapi jangan salah, mereka lawan yang sangat sulit dikalahkan.” sambungnya dengan lebih serius. Dan Haqi pun mengangguk sekilas dengan jawaban itu. Ia mengepalkan tangannya, semangatnya jelas terlihat. “Dan yang paling penting, kita beruntung bisa latihan tanding sama mereka.” Juna tidak langsung menjawab. Namun dalam hati, ia mulai merasa sesuatu. Entahlah, semacam sebuah tekanan yang membangun api semangat nya. Seperti saat dulu pemuda itu baru terjun ke dunia silat. Baginya latihan tanding ini bukan sekadar latihan biasa tapi ini seperti ujian. Dan ia, yang bahkan masih sering salah teknik dasar itu pun mau tidak mau harus ikut terlibat di dalamnya. Rio berdiri dan mulai menjelaskan strategi di depan papan tulis. Beberapa sketsa posisi sudah ia gambar sebelumnya. Lingkaran, panah, dan tanda silang memenuhi papan itu. “Kalau lihat dari video pertandingan mereka,” ujar Rio sambil menunjuk salah satu bagian, “kekuatan utama mereka ada di penyerang.” Ia menggambar satu garis cepat. “Mereka cepat. Dan mereka nggak ragu ambil risiko.” Juna memperhatikan dengan serius. Ia tidak ingin terlihat seperti beban. “Kadang mereka bisa langsung dapet poin cuma dari satu serangan bersih,” lanjut Rio. Ruangan itu menjadi hening. Semua mulai membayangkan skenario pertandingan. “Kalau gitu…” Genta mengangkat tangan sedikit, “kita main defens aja?” Rio tidak langsung menjawab. Ia menatap papan tulis beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Bisa… tapi itu berisiko.” “Kenapa?” tanya Radi. Kali ini Haqi yang menjawab. “Karena pertahanan mereka juga kuat.” Suaranya tenang, tapi tegas. “Kalau kita cuma bertahan, kita akan kehabisan momentum.” Juna mengangguk pelan. Ia mulai mengerti. Sepak takraw, bukan sekadar soal bertahan atau menyerang. Ini soal keseimbangan. Rio menepuk papan tulis. “Jadi kita akan coba dua-duanya.” Ia menoleh ke arah timnya. “Awal kita main seimbang. Lihat pola mereka. Kalau ada celah—kita tekan.” “Kalau nggak?” tanya Juna refleks. Rio tersenyum tipis. “Ya kita paksa mereka bikin celah.” Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Juna ikut tersenyum kecil. Latihan hari itu berjalan lebih intens dari biasanya. Tidak ada yang setengah-setengah. Setiap kesalahan langsung diperbaiki. Setiap gerakan diulang. Setiap strategi diuji. Bahkan Juna yang biasanya suka bercanda pun memilih diam dan fokus. Ia pernah berkali-kali gagal. Tendangannya pun masih kerap kali meleset. Timing-nya pun masih salah dan bernatakkan. Ia juga beberapa kali bahkan hampir menjatuhkan dirinya sendiri. Namun anehnya, Juna tidak merasa ingin menyerah. Tapi justru sebaliknya. Ia ingin lebih baik. Lebih cepat dan lebih tepat. Entah sudah berapa lama mereka berlatih, hingga tidak terasa langit sudah mulai gelap. Lampu-lampu di gedung olahraga pun mulai di nyalakan satu per satu. Keringat sudah membasahi hampir seluruh tubuh mereka tanpa terlewat satu bagian pun. Alvian akhirnya meniup peluit panjang. Latihan pun dihentikan. “Cukup untuk hari ini.” Suaranya tegas. Semua langsung berhenti. Beberapa bahkan langsung duduk di lantai, mengatur napas yang seakan sudah di ujung tanduk. “Pertahanan itu permainan kita,” lanjut Alvian. Ia berjalan pelan di depan mereka. “Tidak seperti White Lily yang masih baru, Elang punya pengalaman.” Pria itu berhenti sejenak dan menatap satu per satu anggota tim yang di latihnya. Ada rasa bangga tersendiri baginya melihat pencapaian mereka hingga bisa berada di titik ini. “Dan pengalaman itu berbahaya.” lanjutnya lagi. Juna menelan ludah pelan. Ia bisa merasakan keseriusan dalam kata-kata itu. “Jadi kita harus lebih siap.” Suasana kembali hening. “Latihan hari ini cukup. Bereskan semuanya. Langsung pulang dan istirahat yang cukup.” sambungnya sambil meninggalkan tempat itu. Meninggalkan mereka yang mulai kembali berdiri dan membereskan peralatan yang sudah berserakan di sana. Net dilepas. Bola dikumpulkan. Semua dilakukan tanpa banyak bicara. Seolah masing-masing dari mereka pun masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Juna menarik napas panjang sambil mengelap keringatnya. Latihan tanding itu semakin terasa nyata. Setelah semuanya selesai, Rio mengunci gedung olahraga dan mereka kembali ke ruang klub untuk berganti baju. Suasana mulai sedikit cair dengan beberapa candaan yang di keluarkan Radi juga Genta, walaupun lelah masih berada di badan mereka. Namun tidak lama Rio tiba-tiba angkat bicara. “Oh iya, gue ada rencana.” Semua menoleh kepada ketua tim mereka itu. “Kita latihan bareng Sena.” Juna mengernyit. “Sena?”, tanyanya bingung. Rio mengangguk dengan yakin, “Dia jago banget di pertahanan.” Ia melirik ke arah Genta, lalu Juna dan Radi. “Gue rasa dia bisa bantu kalian.” tambahnya lagi. Juna dan yang lain terdiam cukup lama. Latihan tambahan lagi? Jujur saja latihan sekarang pun sudah sangat di protes oleh tubuhnya apalagi jika harus ada latihan yang lain?. Namun entah kenapa di sisi lain ia juga tahu ini kalau ini semua penting untuk timnya. Haqi pun mengangguk setuju. “Itu ide bagus.” Ia menyilangkan tangan. “Apalagi buat pemula seperti mereka.” sambungnya lagi sambil sedikit terkekeh. Juna mendengus pelan. Pemula. Kata-kata itu masih terasa mengganggu di telinganya walaupun tentu saja itu fakta. “Tapi itu berarti kita harus latihan lebih sering lagi,” kata Radi. Rio langsung menjawab, “Kalau mau menang, ya harus begitu.” Tidak ada yang membantah karena mereka semua tahu kalau apa yang di sampaikan Rio itu benar. Di sudut ruangan, Juna menatap ke bawah, tangannya mengepal pelan. Dalam hati, ada satu pertanyaan muncul. Apa gue beneran bisa? Namun kali ini, ia tidak menolak pertanyaan itu. Ia hanya menghela napas pelan dan mengangguk, lalu tersenyum tipis. Yaa kita coba aja dulu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN