*Author Pov*
Begitu memasuki gedung olahraga dimana sudah begitu banyak tim sepak takraw dari berbagai macam sekolah yang berkumpul di masing-masing anggota nya.
Mungkin karena sekarang adalah babak penyisihan kedua, penonton juga beberapa tim tidak banya yang terlihat.
Juna meneguk ludahnya, ia masih tidak menyangka bisa berada di sini. Padahal awalnya ia merasa tidak akan pernah mungkin bisa bermain sepak takraw, tapi lihatlah sekarang?
Walaupun muncul buat sebagian orang hal ini hanya lah kecil atau biasa saja, tetapi untuk Juna, ini semua adalah pencapaian yang luar biasa.
Dan entah kenapa, Juna jauh merasa lebih bangga dengan sepak takraw ini daripada pencak silatnya.
Mungkin karena sejak kecil, Juna sudah terbiasa dengan pencak silat sejak kecil. Bahkan ia berlatih sejak Juna berumur lima atau enam tahu, jadi walaupun ia juga sama-sama berlatih sekuat tenaga sendiri, memenangkan sepak takraw jauh lebih membuatnya bangga.
Venue yang mereka gunakan pun tidak sebanyak dan se meriah di babak penyisihan awal.
Babak penyisihan kedua ini, mereka mulai menyiarkan pertandingan nya di stasiun TV. Mungkin karena itu mereka membuat penonton yang datang langsung lebih tertib dari pada sebelumnya.
Setelah memastikan tim mereka sudah terdaftar di pertandingan hari ini, Rio mengajak mereka untuk melihat salah satu pertandingan yang sedang berlangsung, di mana jika salah satu tim itu menang, makan mereka lah yang akan menjadi lawan tim Harimau Putih.