[KEVIN] Anggota Baru Klub Hacker

1096 Kata
Aku tak tahu apa yang membuat Sheila begitu menyukai Nando, si kutu pengecut yang terkenal gara-gara keteknya wangi itu. Jelas-jelas Nando hanya memainkan perasaannya. Orang bodoh mana yang tidak mampu mengerti hal itu? Kecuali si judes galak tapi cantik itu. Lihat…! Tanpa rasa bersalahnya, Nando meninggalkan Sheila pulang dan pergi sendirian. Kalau tidak ada aku, mau bagaimana? Dalam kondisi lengan yang belum seratus persen sembuh, bisa apa? Sumpah, deh. Cewek benar-benar membingungkan. Sebenarnya mereka buta atau apa? “Mau langsung pulang atau gimana?” tanyaku setelah asyik memaki-maki dalam hati. Sheila tak menggubrisku. Entah suaraku yang terlalu kecil atau memang Sheila yang sedang melamun. “Lak! Oi!” Aku mengibaskan telapak tanganku di depan matanya. “Lo mikirin si pengecut itu?” “Nggak mungkin!” Sheila memukul-mukul kepalanya sendiri. “Nggak mungkin….” Anjrit! Melihatnya tiba-tiba begitu membuat bulu kudukku merinding. Sebelum aku sempat bertanya lagi, Sheila memelototiku. “Lo juga mikir gitu?” “Kalo Nando emang berengsek?” “Bukan!” bentaknya. Iya, deh, aku selalu salah. Dasar cewek hobi marah-marah. “Gue keinget kata-kata Nando barusan,” lanjutnya, “kalo ternyata dalang dibalik semua insiden yang menimpa tim paduan suara ternyata adalah salah satu anggotanya sendiri.” Harus kuakui, walaupun aku benci banget sama Nando, tapi pemikirannya sama denganku. “No offense, ya, Lak,” kataku pelan-pelan. “Menurut gue juga begitu. Walaupun ogah banget ngakuin otak Nando ternyata nggak g****k banget, tapi gue setuju dengannya.” “Tapi siapa? Siapa yang tega melakukan hal buruk begitu?” “Orang yang punya dendam sama tim padus?” tanyaku. Sheila menggeleng. “Coba deh lo bayangin. Lo udah lolos jadi anggota padus, nih. Terus dendamnya ada di mana?” Betul juga. “Kalo gitu, gimana dengan kemungkinan ada orang yang benci lo atau salah satu pengurus lainnya?” “Memang kami salah apa?” Wah! Dia benar-benar buruk dalam menilai diri sendiri. “Tapi janji, lo jangan gebukin gue begitu gue angkat bicara.” “Bergantung omongan lo masuk akal apa enggak.” Buset! “Oke,” Aku membetulkan posisi dudukku agar lebih nyaman. “Jadi gini, Lak. Lo dan tim lo itu … duh, biasanya gue asal nyeblak, sekarang tau-tau aja udah kayak tikus kejepit, susah buat ngomong.” Sheila ingin menghujat, tetapi tak jadi. Aku segera melanjutkan sebelum menjadi sasaran kekerasan. “Lo dan tim lo itu kelewat elit. Lo dan tim lo nggak sadar kalo udah membangun tembok besar yang memisahkan kaum penguasa dan kaum jelata.” “Gue gitu?” “Gue nggak ngomongin lo doang, tim lo juga.” Sheila mengerutkan alisnya. “Masa sih?” “Iya.” “Lo ngomong gini bukan karena dendam sama gue, kan?” tuding Sheila. Ampun, deh! Ada ya orang yang otaknya isinya negatiiiif mulu. “Bukan, elah!” “Jadi itu yang buat kami diteror?” tanya Sheila. “Mungkin,” anggukku. “Terus kasus yang kerasukan itu gimana? Nggak mungkin kan ini juga ulah manusia?” Sebenarnya aku kurang bukti jika harus mengatakan itu termasuk ulah manusia. Sebelum aku menaruh dugaan-dugaan lebih jauh, setidaknya aku harus menemukan bukti yang mendukung. Kalaupun itu hasil reaksi dari suatu obat, aku pun harus bisa menemukannya. Tapi bukankah si pelaku itu terlalu mencolok? Bagaimana cara dia melakukannya? Setidaknya dia harus memiliki suatu akses atau wewenang besar di tim padus. “Kalo itu gue juga nggak yakin. Gue harus cari tau dulu,” kataku. “Unless … you let me join with you guys.” “Apa? Ikut latihan kami? Enak aja!” Sheila langsung menolak. “Kalo lo ikut, yang ada makin kacau klub gue.” “Yaudah, kalo gitu.” Aku berlagak seolah-olah memiliki banyak informasi tersembunyi. “Padahal gue tau siapa pelakunya.” Sheila langsung memutar kepalanya menghadapku. “Serius? Siapa?” “Katanya lo mau jalan sendiri. Yaudah jangan tanya-tanya gue.” Sheila cemberut tapi masih menatapku harap-harap. Dasar! Di saat begini wajahnya justru terlihat sangat imut. Andai aku bisa menci—sialan! Dasar otak bodoh! “Jadi gimana? Lo mau jalan sendiri atau jalan bareng gue?” *** Hari Sabtu. Hari yang kutunggu-tunggu. Hari di mana sekolah bebas pelajaran, hanya untuk kegiatan klub dan ekstrakulikuler lainnya. Termasuk komunitas hacker yang kudirikan. Komunitas kami tak besar-besar amat jika kalian membandingkannya dengan tim paduan suara. Tentu saja. Mereka adalah tim terbesar di SMAHI. Tetapi kami lebih besar daripada klub-klub lainnya di SMAHI, dengan kata lain komunitas hacker menduduki posisi kedua klub terbesar di SMAHI. Cukup bagus, kan? Hari ini aku akan mencoba membobol CCTV sekolah. Eits, jangan berpikir aku ini murid yang tak ada akhlak. Kepala sekolah SMAHI sudah merestui komunitas ini dan memberikan kami wewenang cukup banyak. Toh, komunitas kami juga sering sekali membantu sekolah. “Hai, Kev.” Aku mendongak, mataku langsung menabrak mata seorang cewek yang cukup manis dan sepertinya familiar. “Hai…?” “Karina,” katanya sambil tersenyum. Karina? Ah! Dia yang sering nempel sama si Galak, kayak permen karet yang sudah lama dikunyah. Aku tersenyum tipis. “Kenapa, nih?” “Aku mau daftar di komunitasmu.” Aku? Dia sopan sekali. Selain Nando si kunyuk itu yang berbicara menggunakan aku-kamu pada Sheila, aku tak tahu kalau sahabatnya pun juga berbicara begitu. Apa aku perlu mengubah gaya bicaraku pada Sheila? “Gue harus wawancara dulu sama lo,” kataku yang tau-tau aja gayanya udah mirip preman pangkalan daripada ketua komunitas bergengsi. “Oke.” Aku masuk ke satu ruangan kecil yang ada di ruang komunitas kami. Di sana sudah tersedia beberapa bangku lengkap dengan mejanya. Ruangan ini awalnya digunakan untuk istirahat, tetapi karena akhir-akhir ini komunitas kami kedatangan banyak calon anggota, aku harus merubahnya menjadi ruang rapat sekaligus tempat wawancara. Karina duduk di hadapanku. “Bagus juga, kayak ruangan kami.” “Yep. Komunitas kami termasuk yang didanai besar-besaran sama kepala sekolah.” Karina mendengarkan dengan takjub. “Langsung aja, deh. Kenapa lo mau gabung di komunitas hacker?” tanyaku. “Sebenarnya aku ingin mendalami tentang sistem komputer, tapi berhubung klub komputer sudah nggak ada, jadi aku harus lari ke sini,” kata Karina dengan tenang. Itu benar. Komunitas kami tanpa sadar menendang klub-klub kecil yang eksistensinya mudah lengser alias klub yang enggak banget. Hohoho, aku membusungkan dadaku. “Dan aku pengin kerja di Google.” Buset! Tinggi amat? Nggak salah nih masuk komunitas kami? Bukannya apa, tapi yang begitu sih harusnya cari kursus yang jauh lebih wow dan mahal di luar sana. “Mulia banget cita-cita lo, jadi terharu gue,” kataku sambil berusaha menyengir lebar. Karina tertawa kecil. “Yah… begitulah. Bagus lagi kalo aku bisa bantu memecahkan kasus tim paduan suara.” Eh…?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN