teamwork

1008 Kata
Bel pulang sekolah berbunyi. Nathan dan Mia sudah dijemput oleh sopir mereka masing-masing, sementara David dan Liora menunggu bus di halte. Sebenarnya, orang tua Liora yang kaya raya menyediakan sopir pribadi lengkap dengan mobil mewah. Namun, gadis itu lebih memilih naik bus. Hidup sederhana membuatnya merasa lebih nyaman. Orang tuanya pun menghargai pilihannya dan tidak memaksanya. “Bus-nya datang, Li. Ayo,” ujar David sambil berdiri. Mereka naik bus dan memilih bangku kosong di belakang. “Ingat ya, Li. Sore nanti kumpul di markas,” ucap David menatap ke depan. “Iya, David yang baik nan cerdas. Apakah aku pernah ceroboh sampai melupakan pertemuan penting kita?” sahut Liora gemas. Ia tahu betul bahwa David adalah si paling cemas dalam kelompok mereka. “Hehe, iya-iya deh. Kau memang gadis paling bersemangat kalau sudah bicara soal misi,” balas David sambil tertawa. Mereka pun tertawa bersama, lalu mengobrol sepanjang perjalanan. Topiknya tak jauh dari urusan sekolah dan rencana misi-misi berikutnya. Tak lama, Liora turun lebih dulu. David masih melanjutkan perjalanan karena rumahnya belum sampai. “Bye, Dav!” seru Liora sambil melambaikan tangan ke arah jendela tempat David duduk. David membalas lambaian itu. Tatkala gadis itu menjauh, sebuah senyum muncul di wajahnya—senyum orang yang tengah jatuh cinta. Ya, Davidson Kelardo si jenius berkacamata yang juga seorang peretas andal mencintai Liora dalam diam. Ia tahu, gadis itu menganggapnya tak lebih dari sahabat. Melihat Liora bahagia, bahkan jika bukan bersamanya, sudah cukup. Cinta gadis itu tak bisa dipaksa, dan David terlalu takut merusak persahabatan mereka yang berharga. Nathan dan Mia tahu soal perasaan David. Mereka sering mendorongnya untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi David selalu menggeleng dan berkata, “Aku nggak mau merusak persahabatan kita.” Sesampainya di rumah megah itu... “Aku pulang.” Tentu saja, sapaan itu tidak akan dijawab. Tapi Liora tetap mengucapkannya—seolah itu sudah menjadi rutinitas. Ia langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Ia menghela napas panjang. Sekolah hari ini melelahkan, dan sebentar lagi, les privat akan dimulai sampai sore. Setelah itu, malam harinya, misi menantinya. Segala hal terasa melelahkan—kecuali misi. Misi adalah ‘waktu istirahat’ baginya. Bersama tiga sahabat terbaik, ia bisa merasa bebas dan hidup. Setelah les dan membersihkan diri, Liora bersiap menuju markas—ruang bawah tanah di rumah Ketua Dewan, yang disediakan khusus untuk tim mereka. Kali ini ia diantar sopir. Setidaknya, sopir itu jadi berguna, pikir Liora. Orang tuanya tahu kedekatan Liora dengan keluarga Verolla dan tidak mempermasalahkannya. Yang penting, Liora tidak terlibat narkoba atau balap liar. Padahal, mereka tidak tahu anak kesayangan mereka itu justru bergerak di balik lingkaran gelap ibu kota. Meskipun tak menyentuh narkoba, Liora tahu banyak soal dunia bawah tanah—semua demi menyelesaikan misi. Pukul enam sore, mobil memasuki halaman rumah besar sang Ketua Dewan. Tak lama, mobil David menyusul. Liora mengingatkan sopir untuk kembali saat ia menelepon, lalu sang sopir pun pamit pulang. “Hai, Dav. Kau balapan lagi sama polisi?” tanya Liora geli melihat David keluar dari mobilnya. “Ya, seperti biasa. Mereka kejar aku pakai mobil siputnya,” ejek David. Ucapannya disambut tawa besar mereka berdua. David mulai bisa menyetir lima bulan lalu, dan sejak itu, jiwa pembalapnya tak terbendung. Lamborghini Veneno Roadster sering jadi sorotan jalan raya—dan ya, pengemudinya tak lain David. Terkadang Nathan ikut, tapi lebih jarang. Lagipula, kemampuan David menghapus data dari kantor polisi membuat nama mereka selalu bersih dari catatan. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan pintu kayu berwarna cokelat tua. Setelah bel dipencet, muncullah Mia—rambut sebahunya terurai, dan mulutnya penuh cemilan. “Eh, udah datang. Ayo masuk,” ajaknya dengan suara tak jelas. Mereka bertiga masuk, langsung turun ke ruang bawah tanah yang menjadi markas rahasia mereka. Sambil ngemil, mereka menunggu pukul delapan malam—jam di mana si tua bangka akan bermain dengan para jalangnya. “Kau sudah siapin gaunku?” tanya Liora setengah berbisik pada Mia, memastikan dua lelaki di ruangan tak mendengarnya. “Pasti dong. Ada lima pilihan. Dari yang paling hot sampai yang polos. Biar dia pikir ini pertama kalinya kamu,” bisik Mia centil. “Pertama kaliku masih jauuuh di masa depan,” ujar Liora sambil cekikikan. “Ayo, kita siap-siap di kamar,” ajak Mia. Liora mengikutinya masuk ke sebuah kamar bertema bunga sakura, seolah mereka sedang berada di taman di Jepang.Mereka masuk ke ruang pakaian, tempat lima gaun tergantung rapi. “Baju tanpa lengan sudah banyak dipakai jalang,” gumam Liora menyingkirkan gaun merah. “Yang ini terlalu cerah, Mia,” katanya lagi sambil menatap gaun pink pendek yang bisa dengan mudah tersingkap angin. “Aku bukan janda,” celetuk Liora saat melihat gaun ungu super ketat.“Gaun ini kayak penghuni surga,” katanya melihat gaun putih polos. Tapi saat melihat gaun hitam berbahan jersey dengan potongan setengah paha, Liora tersenyum puas. “Yang ini pas.” “Kayak mau ke pemakaman,” ledek Mia. “Takkan ada pelayat pakai pakaian seseksi ini, Mia,” balas Liora malas. “Oke deh. Yuk, ganti baju,” sahut Mia sambil tersenyum. “Kalian akan berakting jadi siapa?” tanya Liora saat berganti baju bersamaan. “Sepasang kekasih yang baru memesan hotel,” ujar Mia pelan, wajahnya memerah. “Kurasa itu bukan cuma akting,” canda Liora sambil tertawa. Bra melayang ke arah kepalanya. Ya, siapa lagi kalau bukan Mia. Ia dan Nathan memang saling mencintai. Setahun lalu, mereka tahu mereka tak sedarah, dan rasa cinta itu berkembang. Orang tua mereka tak keberatan bahkan senang, karena mereka sudah sangat mengenal Nathan sejak kecil. Setelah semuanya siap, mereka berangkat dengan dua mobil. David menyetir mobil satu bersama Liora yang menyembunyikan pakaiannya di balik mantel. Mobil lain membawa Nathan dan Mia dengan pakaian pesta. “Aku akan memantau dari mobil,” kata David fokus menyetir. “Mereka ikut masuk juga?” tanya Liora heran. Nathan dikenal profesional, meski mencintai Mia. “Mereka akan berjaga kalau anak buah si tua bangka digerakkan. Kamar mereka tepat di samping kamar target,” jawab David. Liora mengangguk. Malam ini akan menjadi misi yang tidak mudahdan sekaligus misi yang menentukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN