La Vie tersenyum lebar sambil memegang sebuah map besar berwarna merah yang barusan saja ia bubuhi tanda tangan--sebagai tanda persetujuan untuk mendirikan rumah singgah bagi orang-orang terlantar. Ia tak sendiri hari itu. Bersamanya ada seorang perempuan setengah baya dari lembaga amal yang terpercaya dan seringkali bekerja sama dengan keluarga kerajaan dalam misi amal mereka. Saat jepretan kamera mulai menyala, dan para wartawan menyebut namanya, La Vie memutar pandangan. Ia tersenyum seramah mungkin meski sebenarnya jauh di dalam hatinya berurusan dengan mereka bukan hal menyenangkan. Banyak momen buruk yang ia ingat terjadi padanya di hadapan para wartawan. Meski kali ini berbeda. Perbedaan yang begitu jauh, karena kali ini wartawan-wartawan itu merupakan orang-orang suruhan Igor y

