Delapan

2177 Kata
La Vie membongkar isi lemari dan membuang semua pakaiannya ke atas ranjang. Dengan tubuh yang masih terlilit handuk ia sibuk menatap cermin, memilih gaun mana yang cocok dan harus ia pakai. Saat itu tak merasa memiliki satu pakaian pun yang cukup bagus dikenakan untuk mengesankan Aileen Aldari. Saat melihat satu pakaian yang terasa cocok, ia melirik ke arah Esme yang sibuk melongo dengan mulut terbuka melihat betapa sibuk La Vie membuat semua berantakan yang berujung pada hal merepotkan untuknya, membersihkan kekacauan yang ia buat. "Bagaimana kalau yang ini?" ia menunjukkan gaun midi dress berpotongan sederhana sepanjang paha pada Esme yang tak begitu mengerti. Gadis itu hanya asal mengangguk untuk menyenangkan La Vie, yang berujung membuatnya membuang baju yang ia genggam ke lantai dengan putus asa. "Kenapa setiap aku bertanya kau selalu mengatakan semuanya bagus. Kalau semuanya bagus apa yang harus kupakai?" Esme menelan ludah makin bingung merasa disalahkan. "Semua pakaian Nona bagus, aku tidak melihat satupun yang jelek" La Vie memutar pandangannya dengan frustasi. Ia sudah menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk memilih pakaian terbaik, namun belum kunjung menemukannya. Ia khawatir jika terlalu lama memilih, Aileen Aldari mungkin sudah meninggalkan hotel ketika ia datang. Ketika nyaris menyerah dengan setumpukan gaun tak berguna di hadapannya, tanpa sengaja ia menatap gaun infinity dress berwarna merah tergantung sendiri di lemari. Gaun berbelahan d**a rendah itu ia ingat pernah digunakan sebelumnya ketika menjumpai Victor Leopold. Meski gaun itu sudah terhitung tua, namun pesona dan keseksian yang ditimbulkannya tetap menawan hati. La Vie akhirnya memilih mengenakan gaun itu untuk malam ini dengan sedikit harapan bisa menggoda Aileen Aldari. La Vie meniti lorong dari kamarnya menuju pintu keluar dengan sikap waspada. Ia tak hentinya menatap ke kanan dan kiri bergantian khawatir jika sampai bertemu siapapun termasuk Victor Leopold. Namun malam ini ia agak sial, orang yang paling ia hindari malah ditemuinya dengan mudah. Ia berpapasan Victor Leopold yang mengenakan kimono tidur putih. Mata coklat pria itu menatapnya dari atas ke bawah dengan penasaran, kagum dan hasrat. Melihat gaun itu ia jadi teringat kembali kejadian dua tahun yang lalu ketika mereka menghabiskan malam bersama dalam hotel. Itu adalah kali pertama mereka berhubungan di ranjang dan setelah itu tidak pernah lagi bertemu, selain pembicaraan singkat lewat telpon. Victor Leopold tak lagi menginjakkan kaki ke Rusia. Ia mengurus banyak hal termasuk pernikahannya. La Vie yang ia lihat malam itu membuatnya ingin kembali bernostalgia. Ia mendekatinya berusaha memeluknya tapi La Vie menjaga jarak, mendorong perlahan hingga kedua alisnya bertaut. "Kenapa?" La Vie berpikir sejenak, "Orang lain bisa melihat. Bukankah kau harus berhati-hati karena sekarang kau adalah calon raja?" Victor Leopold menghela napas dangkal. Meski tak suka, ia mesti mengakui jika ucapan La Vie benar. Ia melepaskannya malam ini. Meski ia sedikit penasaran ke mana wanita itu akan pergi dengan pakaian semenggoda itu? "Kau mau ke mana dengan pakaian itu?" La Vie menatap dirinya sendiri. Untuk kali ini ia benar-benar berharap tak berpapasan dengannya. Namun karena sudah terlanjur terjadi ia berusaha bersandiwara dengan baik. "Pub" Mata coklat Victor Leopold menyelidik makin dalam, "Di istana ini juga ada ruang minum. Kau tidak perlu pergi jauh-jauh" La Vie tersenyum dengan dagu mengerucut setengah menolak, "Aku bosan terus berada dalam istana. Aku ingin berjalan-jalan sebentar" Dari arah belakang terdengar hentak sepatu merobek sunyi yang membuat mereka kompak berpaling. Rupanya orang yang menuju ke arah mereka tak lain adalah Pato. Lelaki tua dengan langkah lamban tapi dengan tingkah yang sangat sopan berbeda jauh dengan muka kerasnya. "Perdana Mentri datang mengunjungi anda" Victor Leopold setengah terkejut mendapat kunjungan tak diharapkan. Ia menatap La Vie. Sorot matanya tampak jelas menunjukkan ia enggan melihatnya meninggalkan istana. Namun, ia tidak bisa berada di sana lebih lama hanya untuk mengawasi apa lagi menariknya menjauh dari pintu keluar, karena ia tahu sekedar omongan saja akan diabadikan. "Sebaiknya kau istirahat, jangan keluar malam-malam. Aku harus pergi" La Vie mengangguk lega dengan sorot mata seolah ingin pria itu pergi. Segera setelah Victor Leopold menghilang dari balik dinding ia melangkah terburu-buru seolah baru saja mendapat kebebasan melakukan segala kehendak. Ia benar-benar tak sabar bertemu Aileen Aldari malam ini. ** Aileen Aldari duduk di pinggir ranjang kamar VVIP yang ia pesan. Pria itu membalut tubuh tegap dan berototnya dengan pakaian santai; kaos rajut lengan panjang berwarna coklat muda dipadu celana kain putih. Sembari menunggu ia sibuk berpikir mengapa bersedia mengundang La Vie ke sana, memenuhi kemauannya bahkan bersedia menunggunya. Padahal ia sempat menaruh jiji padanya. Apakah ini hanya untuk alat komunikasi yang diambil darinya? Ia menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Sesekali ia menatap jam, lalu matanya memutar dengan sinis dan malas. Ia sudah menunggu di sana hampir satu jam lamanya tapi orang yang paling berkeras dengan ajakan itu malah belum nampak batang hidungnya. Ia berdiri hendak pergi, karena merasa tak terlalu butuh, namun mendengar suara pintu terbuka ia kembali duduk. Tak lama ia melihat La Vie muncul dalam balutan gaun merah berpotongan d**a rendah yang menunjukkan payudaranya yang bulat dan belahan gaun yang menunjukkan kakinya yang jenjang. Aileen Aldari tampak tak terkesan sama sekali. Dia hanya melirik sekilas lalu membuang muka ke arah lain. La Vie yang melihat ekspresinya yang dingin benar-benar merasa pria itu terlalu sulit dibuat terkesan. Ia bahkan tak yakin apakah ide tidur dengan pria itu adalah hal yang cukup baik. La Vie menengok ke arah sofa dan kursi dalam kamar. Tak ada minuman bunga atau apapun hal romantis lain yang bisa membuatnya terkesan. Ia mengalihkan perhatian pada Aileen Aldari kembali. "Kau tidak memesan minuman, bunga atau makan malam dulu?" Aileen Aldari enggan menengok. "Jika kau lapar, makan saja sendiri" Jawaban ketus itu hanya bisa membuat bibir La Vie membuka sejenak nyaris tak percaya. Ia tidak tahu bagaimana bisa mengubah tingkah kasar pria itu padanya. "Apa kau tidak bisa bersikap sedikit lebih ramah? Sedikit saja apa sesulit itu untukmu?" Mata amber yang bersinar tampak terbakar itu menengok. Ia menarik tangannya ke udara lalu menunjuk jam yang melingkar di tangannya. "Bisa kita melakukannya segera? Aku tidak punya waktu untuk menyenangkanmu" La Vie memutar tubuh membelakangi pria itu. Ia menatap langit-langit kamar itu dengan wajah bingung. Ia jadi tidak yakin pada keputusannya, pria itu terlalu sulit dihadapi. "Kau akan melakukannya atau tidak?" La Vie berpaling setengah frustasi. Ia berjalan mendekati pria berambut coklat kemerahan itu lalu duduk di sisinya. "Siapa yang akan memulai?" Aileen Aldari berpaling tanpa jawaban, namun dari sorot matanya yang menyudutkan jelas menyiratkan pria itu ingin dia memulai langkah pertama. "Kau ingin aku melakukannya?" La Vie setengah memekik yang tak begitu ditanggapi pria itu. "Hal ini kan idemu, bukan aku?" Bibir penuh La Vie berdecak tak percaya. Ia menatap Aileen Aldari dengan wajah meringis. Ia diam sebentar sibuk berpikir, benar-benar berada di ambang dilema. Melepas atau mendapatkannya. La Vie bingung hebat. ia menginginkan Aileen Aldari walaupun tahu dengan jelas pria itu tak akan berarti apa-apa untuk rencananya. Jika melepasnya ia tak akan punya kesempatan lagi dengannya, setidaknya untuk berbagi malam di ranjang. Ia tak mau lagi bercinta dengan setengah terpaksa hanya untuk dendam. Ia ingin melakukannya karena perasaan tertarik yang hanya bisa didapat dari pemujaannya pada jenderal tak berhati itu. La Vie membuang napas dari bibirnya. Setelah yakin pada pilihannya yang sulit, ia berdiri, membuka kedua kakinya lebar lalu duduk di atas kedua paha pria itu. Jantung La Vie berdetak kencang, napasnya dalam. Ia gugup berhadapan pria itu sebaliknya Aileen Aldari tak tampak khawatir. Ia menatap La Vie tanpa kesan berarti. Jari mungil gadis itu menyisihkan helai rambut yang sedikit mencuat dari wajah kaku Aileen Aldari. Ia mengangkat kedua sikunya bertumpu pundak pria itu lalu memegang kepalanya dan mulai mencium bibirnya. La Vie sudah lama tak merasakan ciuman. Bersama pria itu ia ingin kembali mengeksplor segala gairahnya. Ia menyodorkan bibirnya mendekati kuncup bibir Aileen Aldari lalu menelan bibir tipisnya perlahan, melumatnya lalu menyusupkan lidahnya ke mulut pria itu. Ciuman yang awalnya hanya searah dari La Vie untuk menggodanya perlahan dibalas Aileen Aldari dengan rongrongan lidah yang membalas menyusup memenuhi mulutnya yang terbuka. Suara ciuman dan napas mereka yang berat memenuhi penjuru kamar. La Vie melepas ikatan gaun di lehernya jatuh ke atas pangkuannya. Kedua p******a bulatnya yang bak apel menggantung nampak jelas di depan mata Aileen Aldari. Namun, pria itu masih tampak dingin tak terkesan. La Vie meraih tangan pria itu membawanya menuju tepat ke atas payudaranya, lalu menatapnya, menunggu apa yang akan dilakukan lelaki itu pada tubuhnya. Pria itu diam sebentar, menatap lekukan tubuh indah yang tersaji di depan matanya. Dan layaknya hampir semua pria yang memiliki nafsu, pada akhirnya meski ia tampak begitu tenang darahnya tetap saja bergolak. Hasratnya membakar seluruh dirinya hingga ia melupakan sedikit rasa benci yang tertanam dalam kepalanya. Ia memegang p******a La Vie, memerasnya lembut sambil menatap raut muka gadis di hadapannya. Wajah La Vie yang merah, tampak pasrah dengan desahan pelan yang meluncur dari bibirnya membuat gairahnya melonjak berkali lipat. Ia menenggelamkan wajah di atas kedua p******a La Vie, menghirup aromanya lalu menelan putingnya ke dalam mulut, menjilatinya penuh nafsu lalu menghisapnya begitu kuat. La Vie mendesah kesenangan. Ia memegang ujung kaos Aileen Aldari. Seolah mengerti pria itu segera melepas pakaiannya. Tubuh bidang pria itu membuat La Vie tak kuasa menahan diri memberinya rangsangan. Ia mendekatkan bibirnya pada d**a kekar Aileen Aldari lalu menjilat putingnya. Tarikan napas yang terdengar dalam dan lambat disertai desahan tipis membuat La Vie makin menggila. Ia menurunkan tangannya menuju dua paha terbuka pria itu. Ereksinya yang keras dibelai La Vie dengan begitu lembut. "Bukalah" Ucapan La Vie terdengar seperti perintah. Ia mengangkat tubuh gadis itu ke sisi tempat tidur lalu melepas soft belt kulitnya, menarik gesper, menurunkan celana menyisakan pakaian dalam hitam menutupi tonjolan ereksinya yang dari luar sudah tampak perkasa. Jari lentik La Vie menyapu lembut ereksinya dari luar menyerupai pijatan halus. Aileen Aldari mendongak ke atas dengan mata mengerjap penuh nikmat. Melihat bagaimana pria itu menikmati tiap sentuhannya, La Vie segera menarik turun celana dalam pria itu. Ereksinya sudah tegap berdiri dengan otot-otot yang nampak sama kuat dengan lengannya. Bibir La Vie membuka. Ia menelan ereksi itu bulat-bulat memenuhi mulutnya. Ia menggerakkan kepalanya naik turun dengan hisapan kuat yang membuat bibir tipis Aileen Aldari mendesah disertai napas dangkal, pelan, lambat dan dalam yang begitu menggoda. Aileen Aldari yang merasa seluruh darahnya mendidih disertai hasrat yang tak tahan tak disalurkan menarik ereksinya keluar dari bibir La Vie. Ia menarik setengah gaunnya yang masih menggantung turun melewati kakinya hingga seluruh tubuhnya telanjang. Tubuh yang indah benar-benar memanjakan visualnya. Aileen Aldari membuka kaki La Vie lalu mendorong ereksinya ke dalam tubuhnya. Desahan dalam teratur meluncur dari bibir gadis itu mengikuti dorongan ereksi Aileen Aldari yang perlahan ia kencangkan keluar masuk tubuhnya. Ia menarik kepala pria itu lalu bertukar ciuman, lumatan dan gigitan penuh nafsu yang menggoda. Setiap lima menit selesai dari satu gaya bercinta, Aileen Aldari akan memutar tubuh La Vie berganti gaya yang ia senangi. Dari sana La Vie tahu pria itu tak gampang puas. Ia juga tak terlihat mudah lelah, memaksanya harus meladeni staminanya hampir 1 jam lamanya. ** Lelah bergulat di atas ranjang mereka sama-sama berbaring bersisian. Meski melakukan hubungan intim mereka tak tampak intim sama sekali. Ada ruang kosong dan jarak di antara mereka. Aileen Aldari menatap ke arah tembok sementara La Vie menatap jendela. Meski diam, jauh di dalam hati gadis itu berharap bisa berbaring memeluk tubuh Aileen Aldari setelah percintaan panas mereka. Tapi ia tahu hal itu mustahil terjadi. Lelaki dingin itu tak menginginkannya. Pria itu melirik dari busur dalam matanya, mengintip La Vie yang ternyata belum tidur sama seperti dirinya meski saat itu jam sudah menunjuk pukul 1 malam. Jika sebelumnya ia berharap bisa segera pergi dari sana, sekarang ia malah merasa malas meninggalkan tempat tidur menunggu La Vie lebih dulu. Aileen Aldari mengangkat tangannya ke udara. Gerakan kecilnya menarik perhatian La Vie. "Kau tidak tidur?" Pria itu berpaling, "Aku tidak mengantuk" La Vie bergumam memutar tubuhnya membelakangi pria itu. Aileen Aldari mengintipnya diam-diam. "Apa ini... Pertama kalinya kau berhubungan seks?" La Vie menggeleng, "Tidak, aku melakukannya pertama kali dua tahun yang lalu dengan seseorang yang aku tidak seharusnya melakukan hal itu dengannya. Itu bukan hubungan yang bisa dinikmati bukan juga pilihan. Aku terpaksa harus melakukannya karena hanya cara itu yang aku punyai untuk menolong diriku sendiri" Aileen Aldari diam mendengarkan. "Kurasa apa yang kulakukan dengan memaksamu sama saja dengan apa yang kulakukan dulu. Terpaksa. Kau mungkin tidak menikmatinya... Maafkan aku, terlalu egois tapi anggap saja ini akan jadi yang pertama dan terkahir kalinya" La Vie membuka jendela, melihat pemandangan malam kota metropolitan Flander-Belgium. Ia berjalan dengan tubuh telanjang menggoda memungut dompetnya lalu menunjukkan benda yang dicari Aileen Aldari. Ia melempar benda itu padanya yang ditangkap dengan cekatan. La Vie tersenyum padanya, "Sekarang kau mendapatkannya" La Vie mulai memungut pakaiannya yang berserakan. Wajah Aileen Aldari jadi tampak resah. Ia masih menginginkan bercinta dengannya sekali lagi tapi agak sungkan meminta. Namun hasratnya yang kian mendongkrak tajam membuatnya tak kuasa menahan diri. "Bisa kita melakukannya lagi?" permintaannya yang tiba-tiba membuat pria itu khawatir La Vie akan mencibirnya padahal sebelumnya ia bertingkah sangat kasar dan merendahkan. Namun kekhawatirannya menghilang ketika melihat senyum di wajah La Vie. Gadis itu mengangguk. Aileen Aldari membawa tubuh gadis itu ke pinggir ranjang. Ia duduk menghadap jendela sementara La Vie berdiri di hadapannya. Kali ini ia meminta wanita berambut gelap itu untuk duduk di atas ereksinya yang menegak. La Vie tak menolak. Ia membuka kakinya lalu duduk perlahan memasukkan ereksi pria itu dalam tubuhnya. Ia mendesah, menggerakkan pinggulnya perlahan menyesuaikan irama yang mereka harapkan. Tiba-tiba kaca pecah berhamburan ke lantai. Tubuh La Vie terhentak keras, wajahnya jadi pucat. Aileen Aldari merasakan cairan hangat menjalar ditangannya. Ia melirik, tetes darah segar memenuhi lantai dengan deras. La Vie jatuh mendadak tak sadarkan diri. Aileen Aldari berdiri dengan wajah panik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN