"Halo, Ma, ada apa?" tanya Burhani pada Farah dengan khawatir ditelpon. ”Ya ampun. Sudah jadi dokter bukannya bantu orangtua, malah bikin susah." Dion memasang wajah menghina tanpa dosa. Bagai yang dilakukannya ada benar. Sungguh membuat Burhani sangat emosi. "Apa maksudmu?" "Apa kau tahu apa yang sedang menimpa kedua orangtuaku? Apa kau ada dibelakangnya?" Burhani menarik kerah baju Dion. "Cari tahu saja sendiri. Bukankah selama ini kau tidak pernah percaya padaku?" "Kau memang bia**b! Dasar penghianat! Pecundang!” "Terserah sebutan apa yang akan kau berikan padaku." "Kau memang pantas!" Burhani berdecak sebal. Baru saja dia akan melayangkan bogem, tapi tidak tertahan denger kedatangan Alena. "Maaf kepada Pak Dokter Burhani, sepertinya tidak mempunyai otak dan tidak memenuhi k

