Alexander membuka matanya, mengerjap sesaat. Pupil mata itu melebar, ketika ia berusaha melihat di dalam gelap. Alex meraba-raba tempat tidur itu dengan tangan gemetar, rasa nyeri masih begitu terasa di sekujur tubuhnya. Ia menyentuh kepalanya, kepala yang dibalut perban dengan cukup tebal. "Ah, Di mana aku?" Ia bergumam. Berusaha menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Brakkkkkk..... Alexander menjatuhkan sebuah benda, ketika ia sedang berusaha berdiri. "Alex!" Aku menatap Temp dengan mata membulat. "Alana, ayo kita lihat." Temp membuka pintu kamar itu, cahaya temaram dari lilin yang ia bawa menangkap sosok Alexander yang sedang duduk di atas ranjang. "Alexander!" Aku melangkah cepat, mendapati Alex yang tampak bingung saat melihat kedatangan kami. "Kau sudah sadar?" Aku menangku

