Tubuh Alya menggigil hebat. Keringat bercucuran dari dahinya. Panas di tubuhnya belum juga menurun. Tepat pukul dua belas malam, serangan itu terjadi lagi. Sesuatu yang dapat membuat dirinya kembali berubah, kembali seperti saat dimana gadis itu hanya mengingat kejadian satu hari dimasa lalunya. Otak gadis itu mereset semua kenangan manis bersama keluarga nya selama satu bulan ini.
Mimpi.
Dimalam terjadinya yang tiba-tiba membuat suhu badannya berubah drastis, Alya bermimpi buruk. Mimpi yang selalu ia lihat setiap bulan ditanggal yang sama. Kepalanya semakin berat, pusing namun mata masih terpejam. Dibalik semua apa yang dialami Alya, ibu melihatnya.
Ibu tak kuasa menahan tangis setiap putrinya mengalami itu. Ingin ia ada di dekatnya, ingin beliau menemaninya, membantunya. Tapi mengingat kejadian beberapa bulan lalu, disaat ibu ingin membantu melawan kenangan buruk yang ada di mimpi Alya, malah membuat gadis itu semakin tidak bisa dikendalikan, bahkan hampir saja melukai ibu jika saja bapak tidak datang tepat waktu. Membiarkan Alya menghadapinya sendiri itu adalah solusi terbaik. Biarkan gadis itu berusaha, biarkan gadis itu melawan kenangannya. Itu yang disarankan dokter.
"Sayang, cepat sembuh. Ibu tidak mau melihatmu seperti ini. Rasanya, hati ibu terasa sakit tercabik-cabik menyaksikan sendiri keadaan putrinya." Ibu berbicara pelan dibalik pintu yang sedikit terbuka, sambil menangis tak kuat menahan airmata. "Jika bisa memilih, biar ibu saja yang mengalami ini semua. Biar ibu saja yang menggantikanmu, biar ibu saja yang menanggung semua rasa sakitmu."
Keringat mengucur semakin banyak, namun Alya tetap tidak membuka mata. Gadis itu, masih berperang dengan mimpinya. Sebuah mimpi yang akan membuatnya hanya mengingat dimasa itu. Masa bahagianya.
Hampir satu jam Alya mengalami mimpi buruk dan sekarang sudah selesai. Gadis itu kembali diam, tidak meraung-raung. Sunyi, tanda bahwa Alya sudah benar-benar kembali tidur terlelap membuat ibu merasa lega sekaligus khawatir ketika nanti bangun tidur, anaknya akan seperti apa. Anaknya akan ada dimasa apa.
"Kak Al, tumben bangun pagi." Vina kaget saat melihat Alya keluar kamar dengan wajah ceria.
Vina yang duduk dikursi bersama ibu dan bapak merasa tegang ingin mendengar apa yang akan dikatakan Alya selanjutnya.
"Pengen aja," senyum gadis itu. "Vin, kenapa gak tidur sama kakak?"
"Eh, itu emm ibu minta ditemenin sama Vina. Soalnya bapak ingin tidur diluar. Iya kan, Pak."
Bapak memberi anggukan dan senyuman sebagai jawaban. Tidak ingin basa-basi lagi. Ketiga orang itu masih penasaran apa yang akan dikatakan Alya selanjutnya.
"Bu, hari ini tanggal 14 kan? Ibu sama bapak gak inget?" Gadis itu mendekat ikut duduk bersama ketiga anggota keluarga lainnya.
Ibu dan bapak hanya saling pandang menduga-duga apa yang akan dikatakan putrinya selanjutnya.
"Alya ulang tahun."
Semua terdiam sejenak, terdengar bapak menghela nafas panjang. Tidak ada perubahan yang signifikan pada putrinya. Tetap seperti itu dan selalu seperti ini.
Ibu cepat tersenyum melihat wajah putrinya yang begitu bahagia. "Selamat ulang tahun ya, sayang."
"Selamat ulang tahun, Alya." bapak juga memberi ucapan selamat.
"Huh, hari ulangtahun saja kakak inget. Mau kado?" celetuk Vina yang membuat Alya tersenyum mengangguk. "Kapan-kapan deh, kalau Vina punya duit."
"Huh, ngapain nawarin kado kalau gak akan ngasih."
"Vina bilang kan kapan-kapan, bukan gak akan ngasih."
"Sudah, pagi-pagi begini kalian selalu saja bertengkar, tidak capek?" ibu menengahi. "Ibu doakan semoga kamu panjang umur dan selalu bahagia."
"Bapak doakan juga, semoga kamu selalu sehat." dan cepat sembuh. Lanjutnya bapak dalam hati.
"Alya mandi dulu, ya."
"Mandi ya mandi aja sana, gak usah minta izin dulu." Vina menjawab cepat namun Alya tifak menghiraukan. Baginya sudah biasa kakak adik bertengkar, justru itu adalah cara mereka saling menyayangi.
Tidak ada yang bisa diharapkan dari apa yang terjadi kepada putrinya malam tadi. Semua selalu kembali seperti ini. Ibu dan bapak berusaha tenang menanggapi. Walaupun tidak ada perubahan sudah sekian lama, namun tidak ada salahnya kan orangtua itu mengharapkan satu kata yang selama sepuluh tahun mereka nantikan. Ya, keajaiban.
"Hei, Vin. Gak akan ngasih kado nih sama kakak?"
"Gak."
"Ngomong-ngomong, apa yang selalu kakak lalukan? Kakak seperti nya mengingat sesuatu, tapi apa ya?"
Vina terkejut, kakaknya bisa mengingat sesuatu? Biasanya setelah malam itu, Alya akan melihat tanggal di kalender dan membaca tulisan kecil di pinggirnya, lantas langsung membuka buku catatan kecilnya untuk membaca kegiatan sehari-hari apa yang selalu gadis itu lakukan.
"Kakak bekerja kan, Vin? Kenapa hari ini kakak bisa lupa. Pak Maman pasti nungguin aku."
Hebat, kakak bisa tahu kalau kakak bekerja tanpa harus melihat buku catatan dulu. Vina harus beritahu ibu. Ucap gadis itu dalam hati.
"Hari ini kakak libur dulu, kata pak Maman kakak libur dua hari. Soalnya belum pernah cuti."
"Emang jadi juru parkir ada cuti nya? Ngaco kamu."
Daebak! Kakak beneran ingat kerja apa dia. Ini menunjukkan kalau kakak ada perubahan.
"Ya, pokoknya libur ya libur. Dikasih libur malah protes." Vina cepat keluar kamar.
"Mau kemana?"
"Ke ibu dulu."
"Awas kalau minta uang jajan sama ibu."
"Emang kakak bakalan ngasih?"
"Enggak sih?" menyeringai melihat kepergian Vina.
Vina langsung melapor apa yang barusan dikatakan kakaknya tadi. Ibu dan bapak pun tidak percaya ini. Mereka terkejut sekaligus senang.
"Benar kan, Pak. Keajaiban itu selalu ada. Ibu akan beritahu dokter nanti, sedikit perubahan yang terjadi pada putri kita, akan berdampak pada perubahan lainnya."
Senyum bahagia terukir di bibir ibu. Sudah sekian lama ibu dan bapak menantikan ini. Walaupun baru sedikit yang gadis itu alami, tapi menurut kedua orangtuanya itu adalah perubahan yang besar selama sepuluh tahun terakhir.
"Kak Al, sini." teriak Vina yang sedang duduk di teras depan.
Hari ini Minggu, makanya Vina dan bapak bisa berada di rumah.
"Apa?"
"Pacar kakak gak kesini?"
"Pacar dari Hongkong."
"Hem, gak ingat ya." pelan sekali Vina mengucapkannya.
"Apa?"
"Gak papa. Kakak belum liat buku catatan kakak?"
"Nanti, lah. Kakak pengen makan dulu. Oh iya, ibu mana?"
"Tadi ditelepon dokter suruh kerumah sakit."
"Ibu sakit?"
"Kak Alya yang sakit, semalam kakak demam panas."
"Iya kah?"
"Kata Vina juga, baca buku catatan."
"Hem, iya-iya."
Bapak, duduk diam di kursi tamu. Ia menantikan seseorang datang, menantikan seseorang menepati janji nya. Janji yang mereka buat dua minggu yang lalu. Apakah orang itu akan menepatinya? Apakah dia akan datang?
Bapak ingin melihat bagaimana reaksi putrinya itu saat bertemu dengan orang yang membuat janji dengan bapak.
Tidak lama, tampak seorang lelaki dari kejauhan berjalan mendekati rumah Alya. Vina dan Alya memperhatikan. Adiknya itu tersenyum melihat siapa yang datang bertamu ke rumah mereka.
"Assalamualaikum, hai Alya." seorang lelaki itu tersenyum dan melambaikan tangan kepada Alya. Namun tidak dengan gadis itu.
Alya diam dengan penuh tanda tanya.
"Waalaikumsalam, oppa." Vina yang menjawab.
"Siapa? Pacar kamu?" Alya melotot kearah Vina.
"Maunya sih, hehe." Alya menyentil dahi adiknya itu yang membuat Vina meringis kesakitan.
"Maaf, mau bertemu siapa? Bapak?" pertanyaan dari Alya membuat lelaki itu diam.
Benar. Batin lelaki itu, terlihat seperti kecewa.
Lelaki itu tidak kunjung menjawab, lantas Alya masuk ke dalam rumah.
"Pak, ini ada tamu. Teman bapak bukan?" Bapak lantas keluar melihat siapa yang datang.
"Bukan." bapak nya menjawab setelah menghela nafas panjang. Seperti tidak ada yang perlu diharapkan dari kedatangan lelaki itu.
"Maaf, siapa ya? Dan ada perlu apa?"
"Kenalkan, gue Gara. Teman kerja lo yang bekerja sebagai juru parkir di perusahaan Atma. Dan gue kesini dikasih tau pak Maman kalau lo cuti dan sakit." Ada nada kekecewaan dalam diri Gara saat mengatakannya. Ada gurat kesedihan di wajah lelaki itu.
Untuk yang kesekian kalinya, Gara harus mengulang perkenalan dengan Alya.