"s**l, kenapa cowok itu kesini terus sih? Apa orang kaya gak banyak kerjaan bisa sesantai itu. Sesukanya mau melakukan sesuatu. Apa orang kantor, atasan, atau CEO itu namanya gak banyak kerjaan di kantornya?"
Alya terus mengoceh disepanjang jalan menuju pos satpam. Terlihat Gara sedang menyender di tembok dengan satu tangan ia masukan kedalam saku celana dan wajah senyum ceria seperti menunggu seseorang.
"Temen sih temen, gak harus ikutan jadi juru parkir juga kali. Niatnya dia temenan ma gue atau nyari kerja sih?" Gadis itu tiba hampir melewati Gara yang masih menyender di tembok.
"Liat mukanya, apa hari ini hari ulang tahun nya? Kenapa bibirnya senyum terus. Gak pegel apa? Tapi kok ganteng ya, aku suka. Eh?"
Alya menyadarkan pikiran kusutnya, menepuk-nepuk bibir yang sudah mengatakan sesuatu yang tidak mungkin ia katakan dihadapannya.
Gadis itu berhasil mengembalikan wajahnya kembali dengan ekspresi cuek.
"Ngapain lo disini? Tuh bibir senyum terus dari tadi gak pegel?"
"Cieeee yang merhatiin gue dari tadi." Gara menyilangkan kedua tangannya. "Ganteng ya?"
Gadis itu melotot seketika. "Lo, yang ngomong bukan gue."
"Tadi gue senyum-senyum kenapa hayo?"
"Meneketehe, gue bukan peramal dan gue gak peduli."
"Karena ada yang gue senyumin. Mau tahu?"
"Nggak."
"Itu, lo." dan Gara tersenyum melihat ekspresi wajah Alya yang memalingkan wajahnya dengan pipi merah.
Lucu. Itu yang Gara suka saat mengerjai Alya. Makin hari makin sering lelaki itu mengerjai Alya.
"Hey, Alya. Tunggu! Mau kemana?" Gara mensejajari langkah gadis itu.
"Kerja lah, masa nongkrong."
"Liat, belum ada yang parkir juga. Masih sepi. Sini aja duduk dulu sama gue."
Alya pura-pura tidak mendengar ocehan lelaki itu. Ia terus menuju tengah area parkir dan duduk di salah satu motor yang terparkir disana.
"Bilang donk kalo lo mau disini."
"Lo, ngikutin gue? Sana aja lo duduk disana."
"Gue pengennya sama lo gimana?" lelaki itu menahan senyum melihat wajah Alya. "Jadi, lo suka sama gue?"
Pantesan dari tadi senyum terus. Pasti karena itu, karena omongan adik gue semalam. Ucapan dalam hati Alya.
"Kak, tadi aku ketemu cowok kakak duduk di sebrang rumah kita." Vina loncat ke tempat tidur sesudah dirinya membersihkan diri.
Ada Alya yang sedang menulis di buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Rutin gadis itu selalu menuliskan kisah dirinya selama seharian di dalam buku catatan yang ia anggap seperti buku diary.
"Siapa?"
"Cowok kakak."
"Iya siapa?"
"Yang ganteng itu lho. Aku baru tahu namanya tadi. Kak Gara."
Kegiatan menulis pun terhenti karena mendengar nama itu.
"Gara?"
"He.em." Gadis itu tiduran sambil memainkan ponsel. "Aku bertemu dengannya tadi di bangku taman. Aku kira dia lagi nungguin kakak mau ngajak nge-date."
"Terus?"
"Tapi katanya cuma pengen duduk aja disitu."
Alya tahu, lelaki itu pasti bermaksud ingin ke rumahnya. Padahal sudah Alya larang berapa kali, dia takut Ayahnya akan marah. Entahlah, Alya juga tidak tahu alasan Ayahnya melarang orang lain bahkan teman pun dilarang kerumahnya.
"Apa dia bilang ingin bertamu kesini?"
"Nah, kok kakak tahu?" Alya menarik nafas panjang. Dia sudah tahu alasan kenapa Gara ada disana.
Sudah tiga kali Gara mengikuti dirinya dan selalu duduk di bangku yang sama. Alya tahu itu.
"Dia bilang ingin main kerumah tapi udah aku tolak kok, kak. Takut bapak marah."
"Bagus, Vin. Apapun alasan cowok itu ingin main kerumah. Tolak saja dengan alasan yang sama."
"Tapi emang bapak gak ngijinin kan. Kenapa ya kak?"
"Mana kakak tahu, tanya ibu tapi malah bilang kalau bapak sayang sama kita."
"Oh apa mungkin karena kak Alya sa---." Vina langsung menghentikan ucapannya.
"Aku apa? Karena kakak apa?"
"Bu-bukan, maksud Vina mungkin karena kita perempuan jadi bapak gak ngijinin siapapun bertamu kesini. Temen aku atau temen kakak juga."
"Hemm. Iya, mungkin niat bapak juga baik." Alya merebahkan diri melihat langit-langit kamar.
"Pacar kakak itu ganteng tapi lucu ya."
"Dia bukan pacar kakak."
"Masa sih? Tapi tadi aku bilang kalau kak Gara pacar kakak. Kak Alya suka sama kak Gara."
"Apa?" Alya mengguncang-guncang pundak gadis itu. "Kamu bilang gitu sama dia?" jawaban Vina mengangguk. "Terus cowok itu bilang apa?"
"Cuma senyum aja." Vina ikutan tersenyum membayangkan wajah tampan pacar kakak nya itu. "Ganteng ya kak."
"Diam kamu! Dasar adik k*****t, adik s****n. Siapa yang nyuruh kamu ngomong begitu?"
"Aku kira kakak pacaran sama dia."
"Aaaaaaaaa, mati aku. Gimana besok aku ketemu sama dia." Alya mengacak-ngacak rambutnya bingung bagaimana besok berhadapan dengannya.
"Jadi, kalian gak pacaran?"
"GAK!"
"Malah aku bilang untuk jagain kak Alya, dan jangan tinggalin kak Alya."
"Aaaaaaaaaaaa." Alya memasukan wajahnya kedalam selimut. Malu segunung, rasanya ia lebih baik tenggelam ke kerak bumi daripada besok harus bertemu dengannya.
Dan sekarang, ternyata Gara mulai membicarakan itu.
"Hey, Alya? Lo ngelamun? Jadi bener lo suka sama gue?"
"Eh denger ya. Apapun yang dikatakan adik gue semalem, itu semuanya dusta."
"Seorang anak kecil tidak mungkin berbohong."
"Anak kecil darimana nya, Onta! Adik gue udah gede, udah mau lulus sekolah. Lo ngapain sih ketemu adik gue dan ngapain juga kerumah gue?"
"Gue gak kerumah lo, cuma duduk aja nyari udara segar dan kebetulan adik lo lewat. Malah dia yang duluan nyapa dan bilang gue pacar lo."
"Denger ya, tuan Gara yang terhormat dan berwibawa. Gue gak pernah bilang begitu ke adik gue."
"Terus kapan bilang nya?"
"Nanti." matanya kembali melotot. "Eh maksud gue, gue gak akan pernah bilang seperti itu. Jangan dengerin semua omongan adik gue. Jangan lo masukin hati dan pikiran lo."
"Tapi udah gue masukin hati dan pikiran gue. Gue jadi baper nih," ungkap Gara dengan ekspresi memelas.
"Lupakan kata-katanya."
"Gak bisa gue lupain." terselip senyum di ujung bibir lelaki itu. "Kalau gue yang bilang gimana?"
"Apa?"
"Gua yang suka sama lo."
Hening.
Kedua pasang mata saling berhadapan. Alya memandang dengan mata yang berkedip-kedip, detak jantung yang tiba-tiba hidup berdetak cepat. Udara menjadi dingin menusuk pori-pori kulit. Sedangkan lelaki itu menatapnya dengan intens, sesuatu tentang perasaan mulai timbul. Atau mungkin Gara tidak menyadari nya dari dulu, dari pertama bertemu dengan gadis itu. Dan baru sekarang hatinya ingin merasakan lebih tentang perasaan yang namanya cinta.
"Hey, melamun lagi? Lo terpesona ma gue kan?"
"Sumpah demi apa gue terpesona sama lo?" Alya mengibaskan tangannya mengipas-ngipas kepanasan. Matahari memang sudah mulai naik.
"Jadi gimana donk?"
"Gimana apanya?" tanya gadis itu mulai risih.
"Gue jadi baper gara-gara kemarin adik lo bilang kalau lo suka sama gue."
"Lupakan dan buang jauh-jauh pikiran lo itu. Gue sekalipun gak pernah ngomong seperti itu."
"Jadi lo gak suka sama gue?"
"Gak!"
"Yakin?"
"Seratus persen."
"Asli?"
"Original."
"Bener?" Gara sudah tidak kuat menahan tawa.
"Terserah." Alya berjalan menjauhi Gara yang masih duduk diatas motor yang terparkir. Memilih berlalu dari pada harus tetap berada di dekatnya.
Dirinya terus memaki lelaki itu dalam hati dengan mulut komat-kamitnya. Tidak lupa ia juga mengata-ngatai adiknya dengan mulut mungil gadis itu.
"Dasar Vinot.... Vinot Vinot Vinot. Adik nyebelin."
.