Gara belum berhasil menemui orang tua Alya, selama dua hari ini lelaki itu masih menemani Alya bekerja sebagai juru parkir. Setiap kali Gara ingin mengantar Alya pulang dan bertamu ke rumahnya, gadis itu selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Ibu nya tidak ada, bapak nya belum pulang sampai mengancam Gara untuk tidak menemuinya lagi.
Apasih yang Alya takuti? Gara hanya ingin silaturahmi, mengenal keluarga temannya lebih baik dan ya, sedikit mencari tahu apa yang terjadi dengan gadis itu.
Di tempat Alya bekerja pun mereka masih saja seperti Tom end Jerry. Pak Maman dibuat pusing dan tertawa melihat tingkah Alya dan cuek, namun perhatian Gara yang justru membuat Alya sedikit salah tingkah.
Entahlah, Gara merasa senang mengerjainya. Jika diperhatikan, Alya lucu juga kalau lagi salah tingkah. Begitu yang ada dipikiran Gara.
"Makan, yuk! Gue laper." Gara membuka kotak makan yang dia bawa. Sejak bekerja di tempat Alya, Gara mulai rajin membawa kotak makan sendiri walaupun isinya tetap makanan siap saji yang ia pesan. Makanan rumah? Gara mana bisa, masak air aja lelaki itu selalu memasaknya sampai kering. Wkwkwkw
"Pak Maman, sini makan bareng." Antusias Alya melihat kedatangan pak Maman bagaikan dewa penolong. Pasalnya jika mereka makan berdua, Gara selalu memberinya sebagian makanan miliknya. Menggoda nya, menjahilinya, bahkan mengkritik cara makan Alya yang tidak ada manis-manisnya seperti perempuan lain.
Tapi Gara suka.
"Kalian makan saja, bapak mau minum kopi dulu." Hilang sudah senyum Alya yang kini berubah menekuk dengan hidung kembang kempis.
"Sudah, kita makan berdua saja." Gara tersenyum memperhatikan Alya. "Lo, pasti bawa sayuran lagi. Gak bosen?"
"Suka-suka gue donk. Makan sayur kan sehat."
"Tapi kalau tiap hari sayuran terus, jangan-jangan dua minggu kemudian makanan lo jadi rumput."
"Gue bukan sapi."
"Emang bukan." Gara terus menggoda gadis itu sampai akhirnya Alya sendiri yang lebih memilih diam daripada harus terus berdebat dengan lelaki itu.
Dari sejak kembali nya Gara dan bertemu Alya, gadis itu selalu membawa bekal sayuran. Padahal sebelumnya Alya tidak pernah membawa bekal apalagi makan sayuran yang hampir tiap hari. Maka dari itu, Gara selalu membagi makanan miliknya untuk Alya, lelaki itu tahu kalau Alya juga bosan memakan sayuran itu. Dilihat dari raut wajahnya yang selalu menarik nafas saat membuka bekal yang ia bawa.
"Hari ini gue bawa makanan spesial. Lo pasti mau."
"Ogah," ketus gadis itu seraya mengocek-ngocek makanan bekal nya.
"Asli, lo akan suka." Gara membuka tutup bekalnya. "Taraaaa! Nasi goreng spesial dengan daging cincang ditambah saus tiram dan bawang goreng."
"Tinggal bilang nasi goreng, ribet amat."
"Suka-suka gue." Gara menyeringai.
"Buatan lo?"
"Yoi," ucap Gara dengan bangga nya. Padahal mah beli di salah satu kedai dipinggir jalan.
Lelaki itu kemudian mengambil tutup bekal dan menumpahkan setengah nasi goreng di atas nya. Alya memperhatikan, lalu hal tak terduga namun sudah biasa itu menyadarkan dirinya.
"Nih buat lo." Gara memberikan setengah nasi goreng yang ada di dalam kotak bekal, sedang dirinya mendapat setengah nasi goreng di atas tutup bekalnya.
"Gue yang itu aja." Alya hendak mengambil nasi goreng yang berada di atas tutup bekal namun ditahan Gara.
"Udah lo yang itu aja. Gue lebih suka makan diatas tutup nya."
"Gak lo kasih racun kan?"
"Mati donk gue kalo gue kasih tuh makanan racun dan gue juga ikut makan ini."
"Gue udah ada sayur."
"Gak akan kenyang kalo gak makan nasi. Lo tau gak sih peribahasa itu?
"Lo a---,"
"Memang baik makan sayur, tapi jangan hanya sayur saja. Pakai nasi biar lo kenyang. Percuma sayur doank gak akan bikin perut lo melek."
"Iya juga sih." Tanpa malu Alya mengambil nasi goreng yang berada didalam kotak bekal nya. Melahap nya bersamaan dengan sayur. Gara tersenyum melihatnya.
Ambil saja cepat, dari pada lelaki yang dihadapannya ngoceh terus seperti Emak-emak. Begitu yang Alya bicarakan didalam hatinya.
Begitulah ketika mereka sedang makan, atau bekerja. Tidak pernah ada kata romantis di setiap adegannya. Alya pun mulai kembali menerima Gara dengan pertemanan nya. Namun kali ini Gara semakin berani menggoda Alya dan gadis itu juga mulai merasakan sesuatu dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan.
Pertemanan sedekat ini, sering bertemu, berantem, bercanda dan dia adalah lawan jenis. Belum pernah Alya sedekat ini dengan orang lain. Kecuali ...
"Lo, gak akan maksa lagi buat nganterin gue?"
Gara menggeleng, namun ia masih ingat dengan tujuan utamanya mencari tahu penyebab Alya hilang ingatan sesaat dan lupa dengan lelaki itu.
"Yakin?"
"Hm. Gue udah bosen ngajak lo pulang bareng tapi selalu ditolak terus sama lo. Gue kan niatnya baik."
"Tapi tetep gak boleh, bapak gak ngijinin ada orang lain datang ke rumah."
"Kenapa? Rumah lo gudang minimarket?"
"Maksud lo?"
"Iya, di pintu ada tulisannya dilarang masuk selain karyawan."
Seketika Alya memukul bahu Gara dan membuat lelaki itu mengaduh. "Gak lucu."
"Kalo lucu, pasti lo ketawa." Gara tertawa lepas melihat ekspresi cemberut yang Alya tunjukkan. Tapi ia suka. "Oh iya, gue belum pernah liat lo ketawa. Coba lo ketawa."
"Onta!"
Sejak kapan ya Alya jadi manis begitu kalau diperhatikan. Dan kenapa gue baru sadar. Gara bertanya dengan pikirannya. Refleks lelaki itu membawa tangannya membelai rambut Alya.
"Iya, gue gak akan ngenterin lo pulang. Tapi hati-hati, jangan banyak melamun dijalan dan langsung pulang kerumah." Senyum hangat Gara menatap Alya.
Deg, bunyi jantung Alya.
"I-iya," gugup Alya tiba-tiba.
"Gue takut nanti kalo lo melamun dijalan dan gak sengaja lo nabrak dagangan orang. Lah nanti minta ganti rugi ke lo, tapi lo nya gak punya duit. Terpaksa lo bakalan minjem duit ke gue kan? Sorry ya, gue gak punya. Duit gue semua ada di gedung-gedung bertingkat."
Alya kembali memukul bahu Gara kali ini lebih keras dan pergi berlalu dihadapan lelaki itu. Hatinya yang sudah seperti bunga mawar mendengar perkataan lelaki itu, kini menjadi bunga bangkai dengan mulut masih komat kamit memaki lelaki itu menjauh hilang dari pandangan Gara.
Sementara Gara kembali tersenyum sambil mengusap bahunya yang terasa sakit.
"Belum pulang nak Gara?" pak Maman mendekat sambil melepas topi.
"Belum, Pak. Lagi pengen disini dulu."
"Nak Alya sudah pulang."
"Sudah dari satu jam yang lalu."
Pak Maman merasa lega mendengarnya. "Ya sudah, bapak tinggal dulu ya." Gara mengangguk memberi jawaban iya.
"Apa dia sudah sampai ke rumah ya? Apa hari ini gue ke rumahnya langsung?" Gara berdiri mengambil setelan jas yang ia simpan pos satpam.
Ya, lelaki itu bekerja selalu memakai setelan jas atau pakaian kantor yang biasa ia pake. Mungkin diantara semua juru parkir yang ada, hanya lelaki itu juru parkir dengan pakaian setelan jas yang mahal.
"Ok, semoga Alya gak marah sama gue. Gue hanya ingin silaturahmi, apa salahnya?"
Diantara keingintahuan yang tinggi, kadangkala disana terselip sesuatu yang akan membuat kita berfikir. Berhenti mencari tahu dan hidup dengan tenang, namun ada rasa kecewa dan berujung penyesalan karena tidak menemukan sesuatu apa yang ia inginkan yang pada dasarnya bahkan akan membuat hatinya sakit. Atau tetap mencari tahu walaupun itu sesuatu yang tidak penting sekalipun namun akan menemukan kepuasan dalam diri kita bahkan jika itu sesuatu yang penting, maka akan membuat dirinya bisa menyelamatkan sesuatu atau bahkan hidupnya.
.