Redrigo Abrisham Athariz
"Kerja kerja kerja"...
Adalah motivasi hidup seorang Redrigo Abrisham Athariz. Komisaris utama PT Athariz menggantikan ayahnya yang telah tiada. Hidup sebatang kara merubah sifat dan wataknya. Hanya sepi yang setia menemani tiap waktu, membuat Digo bukan lagi Digo yang dulu. Sudah menjadi pandangan biasa tiap kali Digo membawa pulang wanita-wanita nakal yang ia pesan kemudian ia campakan begitu saja. Sungguh pemandangan yang miris bagi pelayan dimension ini.
Dimansion ini membuka lowongan art baru beberapa hariyang lalu yang langsung terisi oleh seorang gadis mungil cantik bernama Sisi. Keadaannya yang sekarang yang membuatnya mau tak mau jadi Art untuk biaya kehidupan sehari-hari.
"Si, tuan sangat suka rendang daging, dan juga jus mangga. Kamu jangan sampai lupa, setiap sore tuan selalu minta kopi hitam yang pahit. Jangan pernah bertanya apapun dan berbuat ceroboh. Tuan tidak suka itu!" Ucap Bik Nah selaku kepala ART di mension Redrigo.
"Baik bik..." Jawab Sisi ramah.
Bik nah adalah kepala Art di mension ini setiap hari ia selalu mengajarkan art baru kesukaan tuannya dan apa yang paling dibenci tuannya. Gaji di mension ini terbilang cukup banyak per art digaji 6 juta. Namun hanya beberapa saja yang kuat bertahan disini karena memiliki majikan yang dingin dan angkuh. Digo tidak akan membiarkan satu kesalahan saja dilakukan oleh siapapun. Ia tidak akan mengampuni kesalahan apapun.
Mobil BMW hitam terparkir rapi di depan pintu utama mension ini. Membuat bik nah segera membukakan pintu ditemani sebagai Sisi art baru. Digo yang baru saja turun dari mobilnya tidak sengaja melihat gadis mungil yang menundukkan kepalanya berada di pinggir pintu. Jantung Digo berpacu cepat. Tangannya mengepal kuat,dengan kasar dan amarah yang menggebu Digo menyambar tangan Sisi dan menyeretnya membuat sang gadis tiba² memekik kaget.
"A-ada apa tuan apa saya berbuat salah?" Tanya Sisi tidak berani memandang tuannya.
Sisi merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Sambil pasrah diseret ia menatap kebawah tangga kepada Bik Nah. Wanita parubaya itu terkejut memilih untuk diam,dan memberi kode pada Sisi agar dia patuh.
Digo menarik Sisi menuju kamar pribadinya. Setelah membuka handle pintu. Ia melemparkan gadis itu diatas ranjang kingsizenya. Membuat Sisi mendongak, menatap laki² itu dengan keterkejutannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Sisi menahan tangis. Gadis itu memberontak. Ia ingin keluar dari kamar ini. Ia tidak menyangka akan seperti ini. Dia tidak tau bahwa pemilik mansion ini adalah Digo.
"Memangnya apa yang sedang aku lakukan? Sisilia Wardhani?" Ucap Digo dengan seringaiannya sambil melepas dasi dan kemejanya. Membuat Sisi yang dipanggil namanya mendongakkan wajah dengan ketertakutannya setengah mati. Ia menjawab.
"Digo?" Cicitnya lirih.
"Bukankah kau sudah menikah dengan kakak tirimu itu? Lalu kenapa bekerja disini? Apa belum cukup kamu mempermainkanku?" Teriak Digo sambil membuka satu persatu kancing kemejanya membuat Sisi takut.
"Aku mohon Digo lepaskan aku" pinta Sisi mengiba.
"Lepaskan aku? Kau yang masuk kesini sendiri. Atas maumu sendiri dan sekarang kau mengiba untuk aku melepaskanmu? Cih. Apa sekarang lelaki b******k itu sudah tidak bisa menghidupimu? Sampai kau bekerja rendahan seperti ini?" Teriak Digo tepat di depan mata Sisi membuat tubuh gadis ini bergetar.
"Kumohon lepaskan aku. Kalaupun aku tau bahwa aku bekerja ditempatmu... Aku tidak akan masuk. Aku mohon Digo lepaskan aku. Dan jangan menyakitiku dengan kata²mu. Alghifari bukan orang brengsek.. Dia orang terpenting dalam hidupku. Walau dia sedang ditimpa musibah tapi aku tetap menyayanginya.." lirih Sisi dengan mengiba.
"Orang terpenting? Hahaha lihatlah dirimu sekarang begitu mengenaskan! Menikah dengan kakak tirimu dan disiakan. Dan lihatlah ini? Baru beberapa bulan menikah kau sudah jadi babu dirumahku! Apa kau lupa hah? Dengan kejamnya kamu pergi dihari bahagia kita? Membuatku malu setelah menyiapkan segala acara untuk gadis tidak punya malu sepertimu? Hah? Sekarang terima akibatnya! Sisilia Wardhani. Aku ingin merasakan apa yang sudah dirasakan Al darimu!" Teriak Digo melempar tubuh Sisi keras keranjang.
Melumat bibir manisnya dengan kasar. Suara decapan memenuhi kamar itu. Digo merobek baju yang dipakai gadis ini, hingga membuatnya t*******g didepan Digo. Lakilaki itu menyeringai. Ia tetap melecehkan Sisi meskipun dalam benaknya beribu pertanyaan datang,bagaimana mungkin gadis itu bekerja disini menjadi pembantu. Dan bagaimana mungkin dia bisa tidak tahu. Tangan gatal lakilaki ini meraup kasar dua gundukan kenyal milik Sisi. Membuat Sisi mati-matian menahan desahannya. Dalam benak lelaki ini bertanya bagaimana bisa perempuan yang sudah menikah masih memiliki p******a sekencang ini, apa Al tidak sering memakainnya. Pikir Digo sambil meremas gundukan kembar Sisi membuat gadis itu tanpa sadar melenguh.
"Egh.. hentikannnsh tolongg ahh" desah Sisi saat bibir nakal Digo bermain di putingnya. Libido lelaki ini naik drastis mendengar desahan sang gadis. Tapi Sisi terus menangis, merasa terlecehkan dan sakit hati atas apa yang diperbuat Digo.
"Andai saja kau tidak pergi saat itu jalang. Kau sudah menjadi nyonya besar dimansion ini. Tapi dengan kebodohanmu, kini kau bukan siapa-siapa. Karma memang cepat membalasmu! Sekarang. Kau layani aku dengan baik jalangku!" Teriak Digo membuat Sisi gemetaran.
"Jangan lepaskan Digo!" Teriak Sisi.
Digo melepas celananya ia memposisikan juniornya didepan liang Sisi dengan kasar menyodok-nyodok dan memaksa masuk. Sisi merintih, ia menjerit. Tapi apa daya gadis itu sudah pasrah akan keadaan yang menimpa dirinya. Percuma saja dia melawan, tenaganya tidak sebesar Digo. Dengan sekali hentakan kasar kejantanan Digo menembus liang surgawi Sisi. Membuat gadis ini menangis menjerit merasakan perih di sekitar selangkangannya. Digo yang tidak berfikiran apapun terus menggauli Sisi dengan kasar tanpa ampun, dengan berbagai gaya. Membuat banyak bekas disekitar leher dan d**a Sisi. Membuat Sisi kewalahan.
"Akuu sampai agh!" Ucap Digo menumpahkan seluruh spermanya di rahim Sisi. Sisi menangis rasa lelah dan letih serta perih membuat perempuan itu menangis dalam diam, Sisi meremas baju yang berserakan di kasur. Digo mencekal tangan itu. Ia menarik selimut keatas, namun lagi lagi Digo terkejut.
"DARAH?"
"APA KAU MASIH PERAWAN?" Ucap Digo sambil melihat v****a Sisi mengeluarkan darah. Sisi menangis dalam diam. Untuk bicarapun sulit. Digo yang masih terkejut memunguti seluruh pakaiannya dan memakainya. Ada perasaan menyayat hati yang tiba-tiba merasuki laki-laki dingin ini melihat wanita yang disayangnya menangis. Ia tidak menyangka bahwa Sisi masih perawan. Digo pergi menahan amarah yang sudah diubun-ubun. Kenapa ia bisa sebrengsek ini pada perempuan itu.
Brak! Suara pintu tertutup. Sisi menangis, menjerit memukul dadanya yang sangat sesak.
Digo menuruni tiap tangga memanggil seluruh ajudannya.
"Adrian! Agha! Jordi! Kemari!" Titah Digo.
"Ya tuan!" Ucap mereka bersamaan.
"Cepat cari info valid tentang Sisilia Wardhani. Dan berikan secepatnya padaku!" Ucap Digo.
"Siap Tuan!" Ucap mereka bersamaan.
"Biknah! Cepat kau bereskan paviliun. Nyonya Sisi akan tinggal selamanya disana!" Perintah Digo tak terbantahkan.
"Ba-baik tuan!" Ucap Biknah langsung pergi ditemani 4 Art dibelakangnya.
Digo meraup wajahnya frustasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Sungguh Sisi membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
Duatahun yang lalu, Sisi dan Digo menggelar pesta pernikahan yang mewah yang dihadiri seluruh direksi dan teman-teman mereka disebuah ballroom hotel bintang lima terkenal di Jakarta. Namun sebelum akad tiba-tiba sang gadis pergi meninggalkannya membuat Digo malu dan marah. Gadis itu meninggalkannya bersama Alghifari kakak tirinya, yang pada saat itu meneriakinya dan berkata
"Aku akan menikahi Sisi"
Ucap Al menggenggam jemari Sisi dan langsung membawanya pergi. Membuat Digo malu setengah mati dan dendam terhadap mereka.