Siapa dia?

1563 Kata
Aisya tiba di sebuah tempat kost yang ia sewa untuk sementara selama ia masih belum bisa pindah ke asrama putri yang sudah disediakan oleh pihak universitas bagi murid murid pendatang dari negara lain. Aisya pun membereskan barang barangnya, namun tanpa sengaja saat ia melewati sebuah cermin ia baru menyadari luka di pelipisnya yang telah mengering. "Astagfirullah, aku terluka! Mungkin karena pukulan orang tadi." Ucap pelan Aisya. Aisya pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan luka nya dan mengobati luka nya. "Ini lebih baik!" Ucap pelan Aisya setelah menempelkan sebuah plester luka di pelipisnya. Aisya pun kembali melanjutkan pekerjaan nya membereskan barang barangnya. Aisya tidak lupa mengabari keluarganya jika ia sudah sampai di korea dengan selamat. *** Keesokkan harinya, Aisya berangkat menuju universitas seoul untuk melakukan pendaftaran ulang, ia pun langsung menuju tempat pendaftaran dengan mengikuti petunjuk petunjuk dari banner yang dipasang di kampus. "Permisi, saya ingin melakukan pendaftaran ulang untuk jalur beasiswa," "Ah iya, silahkan isi formulirnya!" Aisya pun meraih kertas yang diberikan oleh salah satu staf dan mengisinya dengan sangat teliti, ia kembali mengeceknya sebelum kembali ia berikan pada staf tersebut. "Kami akan memberitahu melalui Email, kapan anda bisa menempati asramanya." Aisya pun mengangguk paham "Terima kasih." Ucap Aisya sedikit membungkukkan badannya. Aisya pun melangkah pergi dan memutuskan untuk berjalan jalan sebentar melihat lihat kota seoul sekaligus mencari pekerjaan paruh waktu yang bisa ia kerjakan. Ketika Aisya sedang menikmati jalan jalan nya, perhatiannya pun teralihkan dengan tulisan yang tertempel di jendela sebuah kedai makan yang menjual berbagai jajanan khas negeri ginseng itu. Senyuman pun terukir di wajah Aisya, dan Aisya pun melangkah ke dalam kedai tersebut. "Maaf, permisi! Apa saya boleh melamar untuk bekerja disini?" Pemilik kedai makanan tersebut pun mengernyitkan dahinya menatap aneh ke arah Aisya, melihat Aisya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan tatapan sinis. "Maaf, disini tidak menerima pegawai yang berpenampilan aneh seperti mu! Sudah, pergi sana!" Usir si pemilik kedai Seketika raut wajah Aisya pun berubah sendu, Aisya tidak menyangka akan mendengar ucapan tersebut di hari keduanya berada di seoul. Aisya pun melangkah pergi 'Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Ayo berjuang! Semangat!' Batin Aisya. Aisya kembali mencoba mencari pekerjaan paruh waktu, ia berjalan cukup jauh dan mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat namun, hasilnya nihil. Hingga ia sampai di sebuah restoran makanan halal yang kini berada di hadapannya, dengan penuh harap Aisya pun masuk ke dalam restoran tersebut. 'Bismillah, semoga aku diterima aamiin!' Batin Aisya seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Rupanya kali ini dewi fortuna sedang memihak pada Aisya, Aisya diterima bekerja sebagai writer di restoran tersebut. *** Sepulang bekerja, Aisya pun kembali ke rumah nya dan membersihkan dirinya, setelah selesai sholat magrib, Aisya membuka ponselnya dan mendapati sebuah Email yang masuk, ia segera membukanya. Aisya pun terlihat senang saat membaca Email yang mengatakan jika ia sudah bisa menempati asrama putrinya mulai besok. Aisya tidak membuang buang waktu nya, ia segera membereskan pakaian dan barang barang lain nya. *** Hari ini, adalah hari pertama Aisya mengikuti pembelajaran di kampus setelah beberapa hari yang lalu ia pindah ke asrama putri dan selesai mengurus dokumen dokumen yang diperlukan. Aisya masih mencari cari kelasnya, ia mencoba untuk bertanya pada beberapa orang namun tidak ada yang membantu nya karena penampilan Aisya yang memakai hijab dianggap aneh. Aisya pun mencoba untuk bertanya kembali pada seorang pemuda, "Permisi, Bisakah kau membantuku mencari dimana kelasku?" Tanya Aisya sambil menyodorkan secarik kertas. Pemuda itu pun meraihnya "Oh, Kelas bahasa ini berdekatan dengan kelasku, aku akan mengantarmu!" "Begitu ya? Kalau begitu terima kasih atas bantuannya!" Ucap Aisya sedikit membungkuk. Pemuda itu pun melangkah lebih dulu dan diikuti oleh langkah Aisya. Sesampainya di depan kelas, Aisya hendak berterima kasih pada pemuda tersebut namun, pemuda itu langsung pergi terburu buru. 'Kenapa rasanya, aku pernah bertemu dengannya?' Batin Aisya. Namun, Aisya tidak terlalu memikirkan nya. *** Jam pelajaran pun telah usai.. Aisya yang hendak pulang, tanpa sengaja melihat seorang gadis yang diseret ke belakang gedung kampus oleh beberapa orang. Aisya pun berinisiatif untuk mengikuti mereka, Aisya mendapati pemandangan yang mengejutkan, matanya membola ketika ia melihat seorang gadis yang sedang dirundung oleh orang orang tersebut. Aisya pun bermaksud mencoba untuk menolongnya, "Hentikan! Apa kalian tidak merasa malu pada diri kalian sendiri, menyiksa orang seperti itu?" Teriak Aisya. Choi Seo jin, salah seorang gadis yang ikut menyiksa gadis itu pun menghampiri Aisya dengan tatapan sinis memperhatikan Aisya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ini bukan urusanmu! Lebih baik kau pergi! Dasar gadis aneh!" Ucap Seo jin menatap sinis Aisya. "Ini menjadi urusanku, karena kau menyakiti temanku!" Ucap Aisya penuh penekanan. Seo jin dan teman temannya pun tertawa mendengar perkataan Aisya "Teman katamu? Sejak kapan Teroris sepertimu bisa memiliki teman?" Tanya sinis Seo Jin. Aisya yang merasa kesal pun lebih memilih untuk tidak melayani perkataan Seo Jin dan memilih mencoba untuk membantu gadis itu berdiri, dan hendak membawanya pergi, namun Seo Jin yang tidak terima diabaikan oleh Aisya pun menghalanginya dan hendak menarik hijab yang dikenakan oleh Aisya. Tiba tiba sebuah tangan kekar pun meraih lengan Seo Jin, pandangan Seo Jin pun teralihkan ke arah si pemilik tangan. "O-Oppa?" Mata Seo Jin pun membola saat menatap pemuda yang kini berada di hadapannya. "Jangan ganggu dia! Lebih baik kau pergi!" Ucap tegas pemuda itu dan menghempaskan kasar lengan Seo jin. Seo Jin yang merasa tidak seimbang pun hanya berdecak kesal dan melangkah pergi bersama teman temannya. "Kalian tidak apa apa?" Tanya Pemuda itu. Aisya pun menggeleng pelan "Terima kasih sudah membantu kami." Pemuda itu pun mengangguk pelan dan tersenyum tipis, Ia pun melangkah pergi begitu saja. Aisya masih menatap kepergian pemuda tersebut 'Sepertinya aku pernah bertemu dengannya.' Batin Aisya. Namun, lamunannya pun buyar ketika gadis yang ia tolong menepuk bahunya pelan. "Kau tidak apa apa?" Tanya gadis tersebut "Ah I-iya, Aku tidak apa apa." Jawab Aisya Gadis itu pun menatap Aisya "Terima kasih sudah membantuku, Namaku Kim Aera." Ucap Aera sambil mengulurkan tangannya. Aisya pun meraihnya "Namaku Aisya." Ujarnya. Aisya pun mulai menjalin pertemanan dengan Aera. *** Setelah kejadian tersebut, Aisya dan Aera mulai akrab, mereka saling bercerita satu sama lain, bertukar pikiran, bahkan saling mengunjungi untuk belajar bersama, perbedaan tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berteman. "Oh ya, Apa kau mengenal pemuda yang menolong kita waktu itu?" Tanya Aisya sambil mengunyah makanannya. "Oh, itu Kim Do Hyun dia adalah mahasiswa sastra." Jawab Aera "Oh? Apa kalian bersaudara?" Aera pun tersedak oleh makanannya, "Ohok.. Ohok.." Aisya bergegas memberikan segelas air minum pada Aera, setelah meminumnya Aera tiba tiba tertawa karena mendengar pertanyaan polos dari Aisya. "Tidak, kami tidak satu keluarga, hanya saja kami satu marga, Marga Korea enggak serta merta muncul begitu saja. hal ini berkaitan dengan sistem kasta pada masyarakat Korea zaman dulu. Mulanya, di era sebelum tahun 1000 masehi, Raja Wang Geon yang berkuasa pada zaman dinasti Goryeo membuat peraturan yakni pemberian nama marga pada para bangsawan. Hal ini dimaksudkan agar mudah mengetahui mana yang merupakan keturunan raja ataupun yang bukan. Marga Korea seperti Kim, Lee, dan Park menjadi marga khusus kerajaan. Saat itu, rakyat biasa yang tak memiliki hubungan dengan kerajaan juga boleh menggunakan marga di luar ketiga marga kerajaan. Namun dengan syarat harus mengikuti seleksi dan ujian pegawai negeri sipil untuk meningkatkan derajat keluarga. Singkatnya, sistem kasta kemudian dihapuskan pada abad ke-19 di Dinasti Joseon. Di abad ke-20, semua penduduk Korea memiliki marga sebagai identitas nama keluarga. Pada saat dikeluarkannya kebebasan memilih nama marga, banyak orang yang menggunakan marga Kim, Lee, dan Park sebagai pilihannya. Sekarang, marga tersebut dipakai sebagian besar warga Korea, khususnya Korea Selatan." Jelas panjang lebar Aera. Aisya pun mengangguk pelan, "Ternyata serumit itu ya?" Ucap polos Aisya. Aera pun hanya tertawa melihat reaksi Aisya. *** Hari hari pun berganti.. Aisya dan Aera semakin dekat, Aera banyak membantu Aisya selama di kampus, dan terkadang Aera mampir ke restoran tempat Aisya bekerja. Hingga suatu malam, saat Aisya dalam perjalanan pulang setelah bekerja ia dicegat oleh beberapa orang pria yang tengah mabuk. Aisya terlihat ketakutan dan sedikit panik, Aisya mencoba menghindari mereka namun Pria pria tersebut, menyeret Aisya ke sebuah gang sepi dan gelap, mereka menarik hijab Aisya dan mengunci pergerakan Aisya, dan mencoba untuk menyentuh Aisya. Aisya menangis dan berteriak sekencang mungkin berharap ada yang mendengar teriakannya dan ia mendapatkan pertolongan. Beruntung seorang pemuda yang tidak sengaja lewat mendengar teriakannya, pemuda itu pun mencari asal suara tersebut, saat pemuda itu menemukannya ia sangat terkejut melihat Aisya yang dikunci pergerakannya oleh dua orang pria, dan satu orang pria yang melepas paksa hijabnya dan mencoba melucuti pakaian yang dikenakannya. Pemuda itu pun berlari dan menendang pria yang melepas paksa hijab Aisya. "Brughhh!!" Pria itu pun jatuh tersungkur, sedangkan kedua temannya nampak terkejut dan mencoba melawan pemuda tersebut. Aisya yang merasa syok, ia pun jatuh pingsan dan samar samar melihat wajah pemuda tersebut. "Do Hyun," Ucap pelan Aisya sebelum akhirnya ia jatuh pingsan. *** Aisya tersadar dari pingsannya, dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang cukup luas. Aisya pun langsung terduduk dan melihat ke sekitarnya "Dimana ini?" Gumam Aisya. Pintu pun terbuka dan menampakkan sosok yang tidak asing lagi untuk Aisya. "A-aera?" Aera pun langsung berlari dan memeluk erat Aisya. "Kau tidak apa apa?" Tanya Aera Aisya pun menggeleng pelan "Kenapa aku ada disini?" Tanya Aisya heran. Aera pun mulai menceritakan kejadian mengerikan yang hampir saja menimpa Aisya, "Jadi, Do Hyun yang menolongku dan membawaku kemari?" Aera pun mengangguk "Beruntung, saat itu ada Do Hyun yang menolongmu! Kau harus berterima kasih padanya." Ujar Aera. Aisya pun terdiam..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN