Pengantin

1431 Kata
  Aku dan kamu pernah memiliki mimpi untuk bersama, tapi apa daya jika Allah SWT tidak izinkan? Sebab, hidup ini memang berjalan bukan karena kehendak kita. *** Masih terbayang setiap detik waktu yang dilewatinya bersama pria itu. Bagaimana kekanak-kanakannya dia saat berhadapan dengan Rio. Apa-apa Rio. Pria itu bagaikan ikan mas ajaib yang ketika dipanggil tiga kali, maka akan datang menemui Raina. Raina ingat percakapan mereka sewaktu SMA. Dialog yang selalu terpatri di hati wanita itu. Bukti betapa sayangnya Rio sebagai ... sahabat? Entahlah. Raina tidak bisa menafsirkan hubungan rumitnya dengan pria itu. (KAK INI FLASHBACK JADI AKU PAKE GADIS SAMA LELAKI YA. WAKTU MEREKA SMA) Raina meletakkan sendok makan. “Rio, pokoknya aku mau naik gunung,” gigihnya setelah diajak salah satu teman pecinta alam. “Lanjutin dulu makannya.” Dia mendekatkan mangkuk soto yang baru berkurang dua sendok. Mencoba mengabaikan wajah masam Raina. Usai makan barulah Rio mengatakan alasannya tidak mengizinkan gadis itu pergi. Matanya menatap bola mata Raina yang berkali-kali menghindar. “Liat mataku.” Bola mata Raina berputar malas sebelum menatap ke arah sahabatnya, bibir gadis itu maju tiga sentimeter. Kekesalan itu bertambah saat Rio mencubit pipi Raina saking gemasnya. Dengan cepat tangannya memukul Rio. “Gak usah pegang-pegang!” Rio berdeham. “Gini loh. Aku kan ada acara sama Bunda, jadi aku gak bisa jagain kamu. Kalau ada apa-apa, aku gak ada buat kamu. Ditunda dulu ya, nanti muncak kalau gak barengan sama acaraku. Kalaupun aku izinin kamu, hati aku gak bakal tenang. Jangan bikin aku bikiran!” Lelaki yang baik adalah dia yang bisa menghadapi perempuan dengan baik. Memilih menggunkan perasaan daripada logika saat emosi seorang perempuan bergejolak. Persis yang dilakukan Rio hingga membuat Raina takhluk, menyudahi obsesi ikut kegiatan ektrem itu. Mengingat kenangan tidak ada usainya. Terlihat keduanya memiliki keinginan yang sama di balik setiap sekon yang mereka habiskan bersama itu. Mereka sama-sama memiliki harapan dapat hidup bahagia berdua nantinya. Namun, malam ini, semuanya harus dipendam, dikubur dalam-dalam. Rindu? Jangan ditanya. d**a Raina rasanya sudah sesak karena rindu yang semakin menjadi. Meluap-luap, tapi hanya sia-sia. Bagaimana pun manusia berusaha sekuat tenaga, kalau Allah tidak berkehendak, dia tak bisa apa-apa. Manusia memang mampu berkehendak, namun kehendak Allah-lah yang menjadi nyata. Kaki Raina terasa sangat berat saat menginjakkan kaki di sebuah rumah mewah yang terletak di Jakarta Selatan. Dia mencengkeram kuat gaun putihnya. "Jangan macem-macem!" bisik mamanya. Air mata Raina sudah kembali menggenang di kelopak matanya. "Jangan nangis. Tampakkan ekspresi bahagiamu." Tangan mamanya mencubit kecil lengan Raina. Sakit. Lebih sakit dari apa pun. Raina heran, bagaimana bisa mamanya tega melakukan ini semua hanya demi harta. Di dalam, sudah ada dua saksi, satu penghulu, dan seorang pria yang mengenakan jas hitam. Dia adalah Yusuf Mandala Putra. Bahkan, sampai saat ini, Raina masih tidak mengerti kenapa pria itu mau mengeluarkan banyak uang untuk memenangkan dirinya di perlelangan hina itu, dan lihatlah sekarang, betapa dia begitu niat menyiapkan segala keperluan pernikahan ini. Mengapa harus sampai segitunya, kalau pernikahan ini saja tidak didasari atas cinta? Lagi pula, Raina yakin, sebagai pria yang mapan, pasti banyak wanita lain yang mengantre untuk dinikahinya. "Pak Yusuf, akad nikah sudah bisa kita mulai." Suara sang penghulu, membuat Yusuf mengerjapkan mata. Sadar terlalu lama menggagumi wajah cantik calon istrinya. Penghulu itulah yang berperan menjadi wali nikah Raina, sebab nasab wanita itu yang tidak jelas. Raina duduk di samping pria yang sebentar lagi menjadi suaminya. Bagi Raina, seluruh bumi seolah sedang berguncang, langit gelap gulita. Mimpi memiliki suami yang mampu membimbing hingga ke Jannah akan lenyap seketika. Dia mencengkeram gaunnya kuat, saat tangan penghulu dan Yusuf berjabat tangan. Yusuf dapat mengatakan qobul dengan lantang. Lima belas menit menjadi waktu pergantian status Raina sekaligus momen terburuk dalam hidupnya.  Penghulu dan beberapa orang yang hadir sudah berpamitan. Di rumah mewah itu hanya ada papa Yusuf, mama Raina, dan sepasang pengantin baru. Raina masih duduk di tempat semula dia menyalami tamu. Kemudian papa Yusuf meninggalkan mereka tanpa satu patah kata pun. "Mama akan pulang sekarang. Mulai sekarang, kamu akan tinggal bersama suamimu. Semua barangmu akan Mama kirim segera."[O31]  "Tapi, Ma...," ucap Raina berat hati. Dia takut sekali. Bagaimana kalau Yusuf menyakitinya? "Gak ada tapi-tapian, Raina." Kemudian, mama Raina mendekati Yusuf. "Bukankah anakku sangat cantik, menantuku?" bisiknya. Yusuf tidak menanggapi sama sekali. "Jangan lupa uang bulanan untuk mama mertuamu ini, ya," ujarnya penuh percaya diri. "Maaa," rengek Raina begitu mamanya melangkah menuju mobil mewah barunya. Ya, mobil yang dia beli dari uang Yusuf sebagai tebusan anaknya sendiri. Raina menunduk, sepertinya pengorbanannya yang ingin membuat mamanya berubah, gagal. Itu hanya alasan sang mama untuk memenuhi nafsunya. Sekarang tinggal mereka berdua. Raina hanya mengigit bibir bawah, berat rasanya harus berbakti dengan suami yang sama sekali belum dia kenal. Ketika Yusuf menyentuh tangannya, Raina refleks menjauh. "Kamu istri saya. Bertingkahlah sebagaimana mestinya." Jangan pernah lupakan nada bicara Yusuf, dingin dan menyebalkan. Bahkan, tidak tampak perubahan mimik wajahnya. Begitu datar. Raina pikir wajah pria itu tidak memiliki otot untuk bisa berekspresi. Melihat tidak ada reaksi lebih dari Raina, Yusuf pun melangkah begitu saja memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Saat wanita itu masih saja diam di tempat, Yusuf menurunkan kaca mobil. “Apa kamu mau menginap di sini?” sindirnya. Raina menghela napas lalu dengan enggan memasuki mobil, duduk di samping suaminya.[O32] [MD3]  Saat mobil mulai melaju, Raina masih berkelana dengan pikirannya, sedangkan Yusuf sudah asyik membaca koran terbitan hari ini ditemani sepuntung rokok. Ternyata, pria di sampingnya masih berlangganan koran harian, kuno juga. Meski jendela mobil terbuka, asap itu memenuhi mobil, membuat Raiana batuk-batuk. “Bukannya mamamu ngerokok?” “Iya, tapi gak pernah di depanku.” Setelahnya, tidak ada lagi yang berbicara. Yusuf tetap mengisap rokoknya tanpa memedulikan Raina yang terlihat begitu tidak nyaman. Hal sekecil ini saja suaminya tidak bisa menghargainya. Raina jadi semakin pesimis dengan hubungan mereka kedepannya. Yusuf benar-benar berbeda dengan Rio. Jika saja Rio yang menjadi suaminya. Ah, Raina jadi merindukan pria itu. "Rio,” gumamnya begitu saja. Meskipun Raina berkata lirih, Yusuf mampu mendengar jelas nama pria yang baru saja keluar dari mulut Raina. Wanita itu pun meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rio. Namun, nomor pria itu tidak bisa dihubungi. "Pria mana yang kamu hubungi?" tanya Yusuf dengan nada merendahkan seolah Raina w************n yang memiliki banyak pria simpanan. Tersinggung, Raina mengerutkan dahi, menoleh menatapnya. "Maaf, Tuan Yusuf. Saya bukan w************n seperti dugaan Anda,” katanya penuh penekanan. "Kalau enggak murahan, mana ada hubungin pria lain di depan suaminya sendiri." Yusuf tipe manusia yang tidak mau miliknya dimiliki orang lain. Meski cinta kepada Raina masih hambar, dia tetap harus menjaga apa yang seharusnya dijaga. Raina mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Hah, bahkan aku yakin kamu menikahi aku karena sebuah alasan busuk." Tidak ada jawaban hingga Raina sampai di apartemen milik Yusuf. Wanita itu masih mencoba mengubungi Rio, tetapi tak memberikan hasil. Tidak ada pilihan lain selain salat. Kaki Raina berjalan menuju kamar mandi. Dia melakukan tata cara wudu sebaik dan sesempurna mungkin. Setiap wudunya, Raina membayangkan bahwa dia akan bercakap dengan Allah SWT sehingga harus menyiapkan sebaik mungkin. Perbincangan pun dimulai saat dia takbiratul ikram lalu membaca Al-Fatihah. Setelah salam, Raina beristigfar, karena dia tidak mau menjadi seburuk-buruknya manusia yang tahu berbuat dosa serta kesalahan tetapi enggan bertobat. Istigfar juga bisa menjadi doa. Dari pengajian yang dia dengar, penghalang salah satu keinginan kita adalah dosa. Maka kita dapat menghapus dosa itu dengan istigfar. Selama Raina salat, Yusuf justru termenung. Pikirannya kembali mengingat wanita yang muncul di pernikahannya. Kenapa wanita itu harus muncul di saat yang tidak tepat? Baiklah, Yusuf jadi semakin ingin membalaskan dendamnya. Dia akan berusaha mencintai Raina, agar wanita itu menyesal membiarkannya menikahi wanita lain. Menyesal karena pergi tanpa pesan dan memutus hubungan sepihak. "Kamu gak salat? Daripada bengong." Raina melipat sajadah lalu mengambil sajadah lebih besar. “Ini aku siapin buat salat.” Alih-alih mengambil air wudu, Yusuf mengganti kemeja dengan kaus oblong di depan mata Raina. Dia sangat tidak tertarik dengan tawaran istrinya. Raina merasa risih melihat perut seperti roti sobek di depan matanya itu. “Males,” jawabnya mengundang istigfar di bibir Raina. Kemudian, pria itu mengambil handuk. "Besok pagi kita ke kantor,” katanya sebelum masuk kamar mandi. "Kenapa aku harus ikut?" Raina sangat tidak tertarik pergi bersamanya. Namun, menolak permintaan suami bisa mendatangkan laknat. "Kamu Ibu Mandala mulai malam ini. Pasti banyak orang yang curiga dengan pernikahan mendadak ini. Jadi, bersikaplah sewajarnya seperti pengantin baru yang kasmaran." Yusuf mengatakan itu tanpa sekali pun menoleh kepada sang istri. Sikapnya seolah memberikan tembok pembatas antara dirinya dengan Raina. Geram mendengar penuturan Yusuf, Raina pun melontarkan pertanyaan dengan nada tinggi. "Sebenarnya, apa sih tujuan kamu menikahiku?” "Apa pun jawaban saya, yang jelas bukan karena cinta.” Setelah mengatakan itu, Yusuf menutup pintu kamar mandi. Saat itulah Raina terjatuh lemas di lantai. Mau dibawa ke mana hubungan yang sejak awal tidak sehat ini? Di balik pintu kamar mandi pun, Yusuf memejamkan mata. Entah hubungan apa yang sedang dia jalani saat ini. Menikahi wanita yang sama sekali tidak dia cintai. Pikirannya pun terus mengingat kenangan manis bersama wanita di masa lalunya, yang begitu dia rindukan. ***   Mau tanya dong berapa banyak yang nunggu cerita ini hihi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN