TITIK TEMU
[29] Kejadian pagi ini!
__________________________
Albi melepaskan rompi PMR-nya. Cowok itu kembali menatap daftar nama siswa yang pingsan hari ini. Mengapa banyak sekali siswa yang tidak mempedulikan sarapan pagi. Sehingga menambah beban hidup anak PMR yang berjaga hari ini—termasuk dirinya. Albi meregangkan ototnya yang kaku. Sudah berapa tandu yang diangkatnya. Sudah berapa banyak tubuh yang dirinya topang atau gendong dengan gaya bridal style seperti drama percintaan yang sering ditonton Liliana dan Sofya. Padahal, hari Senin Minggu lalu, tidak ada yang pingsan sama sekali. Paling hanya satu atau dua orang yang pusing.
Namun berbeda dengan hari ini, hampir setiap kelas menyumbang siswa pingsan. Apakah sedang ada ajang penghargaan pingsan estetik? Mengapa banyak sekali orang yang menyusahkan sepagi ini. Membuat beberapa anak PMR yang seharusnya istirahat, menjadi berkerja dua kali lipat. Sekarang UKS penuh, terasa panas karena AC sedang rusak dan tersisa kipas angin yang nyalanya tidak terlalu kencang. Aroma minyak angin semakin semerbak, membuat kepalanya sedikit pusing.
Beberapa temannya pun memilih untuk ngadem di depan ruang UKS karena sumpek. Ada juga yang masih bertahan di dalam ruangan bersama dengannya. Namun sibuk kipasan dengan buku tebal daftar siswa yang datang ke UKS. Albi sendiri hanya diam saja, tidak tahu harus berbuat apa dengan kondisi sepanas ini. Dia tidak mungkin keluar begitu saja dan melupakan tugasnya. Jika ada yang meminta obat, setidaknya dia bisa membantu mengambilnya.
"Wah, gila sih! Cewek cantik memang suka begitu. Kalau gue lihat dari awal dia masuk, memang mukanya udah tukang bully banget deh!" Tandas salah satu teman Albi dari luar ruangan.
Albi beranjak dari duduknya karena penasaran dengan siapa orang yang sedang mereka bicarakan. Terdengar juga suara ribut-ribut dari luar yang membuat banyak siswa berlarian ke tengah lapangan kembali. Padahal upacara baru dibubarkan sekitar tiga menit yang lalu. Namun mereka malah kembali ke lapangan lagi. Terdengar gerutuan dari beberapa anak PMR yang masih stand by di depan pintu ruang UKS; malas jika harus bertugas untuk mengamankan orang yang pingsan lagi.
Albi menghentikan langkah kakinya di depan pintu UKS, "ada apaan sih? Kok rame-rame di lapangan?"
"Katanya sih anak kelas sebelas IPA-2 pada nyalahin Shena karena sempat gagal buat ngibarin bendera waktu upacara tadi," ucap salah satu anak PMR yang sempat mendengarkan obrolan beberapa siswa yang lain.
Jika biasanya, Albi tidak pernah peduli dengan keributan. Kali ini, dirinya mendekati keributan yang ada karena penasaran. Apalagi saat mendengarkan nama 'Shena' yang sempat disebut. Albi seakan sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semua bukan hanya tentang kejadian saat upacara, namun ada hal besar lainnya yang terjadi.
"Lo enggak bisa jadi pengibar bendera? Kenapa mau-mau aja ditunjuk? Lo mau bikin malu kelas sebelas IPA-2, hah?" Bentak salah satu cewek yang menggulung lengan seragamnya.
Shena menatapnya dengan malas, "sejak awal, gue udah bilang kalau gue enggak bisa! Teman Lo aja yang maksa. Lagian itu cuma kesalahan kecil! Gue enggak tahu kalau enggak ada balik kiri."
"Halah ... bilang aja kalau Lo mau bikin nama kelas kita jadi jelek!"
"Lo memang cewek yang menyeramkan, ya!"
"Dasar cewek tukang bully!"
"Cewek kasar!"
"Cewek enggak tahu diri!"
Shena menatap semua cewek yang mengatainya, "kalau punya mulut dijaga, ya! Percuma sekolah kalau mulut enggak pernah di sekolahin."
"SUDAH! DIAM KALIAN SEMUA!" Bentak Nandan yang melerai para cewek-cewek yang mengerubungi Shena.
Albi hanya menatap dari belakang, mengamati teman-temannya yang berdatangan satu-persatu untuk membela Shena. Tentu saja semua reaksi para cewek kepada Shena bukan hanya karena masalah kesalahan dalam upacara. Namun, semua berdasar kepada video yang sedang viral di internet. Albi pun mengetahui itu bukan karena dirinya kepo. Tetapi karena teman-temannya yang memberitahu.
"Nandan, Lo ngapain sih belain cewek enggak benar kaya dia?" Tunjuk salah satu cewek yang beberapa hari lalu Shena lihat bersama dengan Nandan ketika berada di lapangan kepada Shena.
Rilo yang berada disamping Nandan hanya menghela napas panjang sambil menatap cewek itu, "sesama perempuan harusnya saling dukung. Kenapa sih pada repot menuduh ini itu tanpa sebab? Gue suka heran sama ciwi-ciwi yang sering banget saling tuduh. Padahal kalian 'kan satu spesies. Harusnya saling memberi dukungan dan memotivasi satu sama lain."
"Bacod!" Umpat seorang cewek membalas ucapan Rilo dengan wajah sebal.
Nandan menatap semua cewek yang kadangkala sering datang ke kelasnya itu, "yuk, bubar, yuk! Gue banyak kerjaan, nih."
"Nandan ... Lo enggak perlu bantuin dia! Gue enggak suka," ucap cewek itu kembali dengan wajah kesal.
Liliana dan Sofya tanpa basa-basi langsung menarik tangan Shena, membawa cewek itu untuk pergi dari kerumunan. Terdengar teriakan dari cewek-cewek itu karena kepergian Shena begitu saja.
Albi hanya menatap kepergian Shena dengan kedua teman ceweknya. Dia tidak tahu mengapa cewek-cewek suka sekali melakukan tindakan gegabah seperti melabrak cewek lain dengan beramai-ramai. Menurutnya, mereka tidak menunjukkan suatu kekuatan. Namun hanya sebuah sikap pengecut yang bergerombol karena tidak mau menanggung kebodohan dan ketakutan sendiri.
Beberapa saat kemudian, para cewek yang sempat berkumpul di tengah lapangan bubar dengan sedikit kesal. Sedangkan Nandan sebagai sang pahlawan kesiangan pun hanya memasang wajah lelah karena meyakinkan para fans-nya untuk membubarkan diri. Mengapa Albi mengatakan itu? Karena Nandan adalah orang yang paling humble kepada semua orang sehingga para cewek sering sekali baper padanya. Ditambah lagi, Nandan adalah anggota OSIS yang aktif sekali dalam organisasinya dan sering melakukan organisasi dengan semua kelas. Sehingga dirinya sangat dikenal diantara Albi dan Rilo yang katanya tajir melintir.
Intinya, dalam kelompok mereka; Nandan si populer, Rilo si kaya raya, dan Albi yang pintar satu angkatan. Mereka adalah perpaduan yang sangat pas dalam pertemanan.
"Albi," panggil Nandan dan Rilo dengan bersamaan. Keduanya langsung mendekat ke arah Albi yang masih berdiri di dekat lapangan.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Nandan mengintrogasi Albi.
Albi mengangkat kedua bahunya acuh, "lihat keributan yang dibuat sama cewek aneh itu. Kenapa harus dibela sih? Merepotkan!"
"Lo tega banget deh kalau udah benci sama orang!" Imbuh Rilo yang hanya diangguki oleh Nandan.
Albi menggelengkan kepalanya pelan, "gue cuma berpikir secara realistis! Hidup akan berjalan dengan mudah kalau kita tidak saling ikut campur masalah satu sama lain!"
Setelah mengucapkan itu, Albi kembali ke UKS meninggalkan Rilo dan Nandan yang saling menatap. Mereka tidak tahu apa maksud Albi yang terkadang memang abu-abu. Seringkali tidak terbaca!
"Susah kalau ngomong sama orang pintar!" Ucap Nandan yang memilih untuk kembali membantu anggota OSIS yang lain, membereskan semua peralatan upacara.
•••••