Tuduhan di Malam Pertama Ban 67 : Dia Putramu Zaki meraih jaketnya, lalu dompet juga ponsel. “Kakak pergi dulu, Sayang. Jangan tidur dulum tungguin sate kepitingnya!” Zaki mendaratkan ciumannya di pipi sang istri. “Iya, Kak, aku Cuma rebahan aja kok dan akan nungguin kamu pulang bawa pesananku,” jawab Vaulin sambil merebahkan diri di tempat tidur. Zaki melangkah menuju pintu lalu keluar dari kamar. Ia akan mencari rumah makan yang yang menjual kepiting dan akan meminta mereka membakarnya, dan nanti di rumah baru dikeluarkan isinya lalu ditusuh ke tusuk sate. Dahinya berkerut saat mengingat tekstur daging kepiting yang sepertinya tak bisa ditusuk itu. “Ah, pokoknya harus dapatin kepiting dulu saja.” Zaki bergumam sepanjang jalan dengan mata mata yang mencari rumah makan bertulis

