BAB 5 - KEAHLIAN YANG TERKUAK

1383 Kata
“Kamu tahu konsekuensinya, Bagas!" Suara Endah memang tidak berteriak, tetapi ketegasannya memotong udara. "Pernikahan ini demi nama baik keluarga kita! Demi kehormatan leluhur! Kamu tidak bisa main-main dengan ini! Kamu nggak bisa seenaknya menunda begitu saja!" Bagas tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi Gendis melihat tubuhnya yang tegap sedikit menegang. Gadis itu mengamati Bagas menghela napas, gestur yang sangat mirip dengan yang dia lihat di kamar tadi. Sebuah gestur lelah dan putus asa. "Aku hanya… butuh waktu, Ibu," akhirnya Bagas menjawab, suaranya terdengar rendah, tetapi Gendis bisa merasakan nada perlawanan di dalamnya. "Bukan seperti ini caranya." "Waktu? Waktu apa lagi yang kamu butuhkan? Semuanya sudah diatur! Dan lagi usiamu sudah matang untuk menikah! Tunggu apalagi?" Endah lalu berbalik, kini menghadap Bagas sepenuhnya. Gendis melihat ekspresi wajah Endah yang keras, penuh kekecewaan. "Kamu tetap akan bertunangan besok! Ini bukan lagi soal keinginanmu, Bagas. Ini soal kewajiban! Kewajiban yang sudah digariskan untukmu! Apa kamu nggak ngerti?" Bagas memejamkan mata sejenak, lalu membukanya, tatapannya kini memancarkan sesuatu yang Gendis kenali, rasa tercekik, terperangkap. Ditatap ibunya dengan tatapan yang penuh permohonan, tetapi juga perlawanan yang samar. "Aku hanya nggak ingin…" ujar Bagas, suaranya tercekat. Pria itu tidak melanjutkan kalimatnya. Endah hanya mendengus, seolah menganggap perkataan Bagas tidak penting. "Nggak ingin apa? Nggak ingin melanjutkan tradisi? Nggak ingin menghormati darah leluhurmu? Kamu ini pewaris Ndalem Suryawinata, Bagas! Bukan anak jalanan yang bisa memilih takdirnya sendiri!" Gendis terdiam, terpaku di balik tiang. Dia melihat bagaimana Endah memarahi putranya sendiri, pewaris sah Ndalem ini, dengan kekejaman yang sama dinginnya dengan ancaman yang perempuan paruh baya itu berikan padanya. Dilihatnya Bagas yang tampak begitu kuat dan berkuasa, kini terlihat begitu rapuh, terjepit dan tercekik oleh kasta, tradisi dan ibunya sendiri. “Ternyata… Gusti Bagas juga nggak bebas,” batin Gendis dalam hati, sebuah kesadaran yang dingin menusuk hatinya. “Dia juga terikat, sama seperti aku, mungkin malah lebih parah.” Bagas menunduk, tidak lagi menatap ibunya. Laki-laki itu terlihat seperti patung yang terbuat dari batu, menerima semua omelan itu tanpa perlawanan. Gendis merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Ada rasa iba, tapi juga rasa takut yang semakin besar. Jika Bagas, seorang bangsawan, pewaris takhta, tidak bisa melawan Endah, apalagi dirinya? "Kamu harus mematuhi takdirmu, Bagas. Seperti leluhurmu sudah mematuhinya," Endah berkata, suaranya melembut, tetapi Gendis tahu itu adalah kelembutan yang lebih menakutkan dari kemarahan. "Dan kamu harus menikahi Lintang. Nggak ada pilihan lain." Bagas hanya menghela napas, sangat panjang. Dia tidak menjawab, hanya terpaku menatap lantai, seolah mencari jawaban di sana dan Gendis yang masih bersembunyi di balik tiang, melihat bahu Bagas yang kokoh itu mulai merosot. Sebuah tanda kekalahan yang jelas, tanda bahwa Bagas, sang pewaris, juga adalah tawanan. Satu hari pun berlalu. Namun, gema percakapan antara Bagas dan Endah, serta sentuhan listrik yang tidak disengaja itu, masih melekat kuat di benak Gendis. Apalagi hari itu proses pertunangan Bagas dan calon istrinya dibatalkan, rupanya pria itu meminta waktu untuk memikirkannya. Setiap sudut Ndalem Suryawinata terasa lebih mengintimidasi, seolah dinding-dinding berukir itu kini memiliki mata. Pagi itu, Gendis kembali berhadapan dengan rutinitasnya sebagai abdi dalem. Dia ditugaskan membersihkan area gudang penyimpanan kuno di sayap timur, sebuah tempat yang jarang disentuh dan penuh debu. Udara di sana terasa pengap, berbau apek, bercampur aroma kayu lapuk dan sesekali aroma wangi melati kering yang entah dari mana asalnya. "Hati-hati, Gendis. Jangan sampai ada yang pecah atau bergeser," pesan Yu Painah yang mengawasinya sejenak sebelum pergi ke dapur. "Benda-benda di sini banyak yang pusaka, meski sudah nggak kepakai. Gusti Putri Endah sensitif soal itu." Gendis mengangguk, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju kebayanya. "Nggih, Yu. Saya akan jaga baik-baik." Gadis itu mulai membersihkan gudang, menyapu lantai kayu yang berderit dan mengelap lemari-lemari tua yang dipenuhi guci, patung-patung kecil, dan tumpukan kain batik usang. Tangannya yang dulu lincah menorehkan eyeliner secara presisi, kini sibuk menggosok noda yang membandel. Pikirannya melayang, mengingat kembali percakapannya dengan sang Matriaki tentang ancaman "tanpa ampun" yang masih terngiang. Dia juga teringat wajah Bagas yang lelah, tatapan matanya yang penuh kehampaan. “Dia juga nggak bebas,” bisik Gendis dalam hati, merasakan sedikit rasa iba yang tidak seharusnya dia rasakan. Saat Gendis membersihkan sebuah peti kayu jati berukir di sudut yang paling gelap, tangannya menyentuh sesuatu yang aneh. Bukan guci atau patung, tapi sebuah kotak kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kain lurik yang sudah dimakan usia. Gendis menariknya keluar. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena firasat. Kotak itu terbuat dari kayu sono keling, ukirannya sangat sederhana. Namun, elegan. Saat dia membukanya, aroma melati kering yang kuat langsung menyergap indranya. Di dalamnya, tergeletak rapi kuas-kuas rias dan palet kecil berisi sisa-sisa warna. Semua kuas dan palet itu terbungkus kain sutra tipis yang mulai menguning. Tiba-tiba gelombang emosi mulai menghantam hatinya, rasa rindu, marah, sedih dan bangga bercampur menjadi satu. Diraihnya salah satu kuas, kuas powder besar yang bulunya masih terasa selembut sutra. Jemarinya membelai bulu-bulu itu, merasakan sensasi familiar yang sudah lama dia lupakan. Gendis lalu memejamkan mata, membayangkan kanvas wajah, sentuhan warna, garis, dan bentuk yang bisa dia ciptakan. Sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya. “Ini aku,” batinnya. “Ini jati diriku yang sebenarnya, yang harus aku kubur hidup-hidup di Ndalem ini.” "Gendis!" Suara itu terdengar tajam dan dingin, menusuk hingga ke tulang. Gendis tersentak kaget dan menjatuhkan kuas itu dengan bunyi klatak kecil ke dalam kotak. Jantungnya melompat ke tenggorokan. Bergegas dia berbalik, mendapati Bagas Narendra berdiri di ambang pintu, matanya yang gelap menatap tajam ke arah gadis itu, lalu turun ke kotak yang terbuka dan kuas yang tergeletak di lantai. "Apa... apa yang Gusti lakukan di sini?" Gendis tergagap, segera membungkuk dalam, tubuhnya gemetar. Dia mencoba menutupi kotak itu dengan kakinya, tetapi sudah terlambat. Bagas lalu melangkah masuk, tatapannya tidak lepas dari kotak kecil tersebut. "Seharusnya aku yang tanya. Kamu lagi ngapain di sini dan... apa itu?" Dia menunjuk kuas dengan dagunya. Gendis menelan ludah, berusaha mencari alasan yang masuk akal. "Itu... itu hanya kuas tua, Gusti. Untuk membersihkan debu di celah-celah ukiran." Gadis itu berbohong. Dia merasa pipinya memerah. Bagas segera membungkuk, mengambil kuas itu dengan jemarinya yang panjang dan anggun lalu memutar gagang kuas, mengamati bulu-bulunya yang lembut dan bersih. "Kuas debu?" Nada suaranya sinis, tetapi juga ada intrik dan rasa ingin tahu di sana. "Sejak kapan kuas debu terbuat dari bulu selembut ini?" Bagas mengangkat kuas itu dan mengamati lebih dekat. Gendis merasa seluruh darahnya surut. Dia tertangkap basah, tidak bisa lagi mengelak. Bagas tidak bisa dibodohi. "Nggih, Gusti... maafkan saya." "Maafkan untuk apa?" Bagas mengangkat wajahnya, matanya menembus Gendis. Ada campuran kekesalan, tapi juga rasa penasaran yang mendalam di sana. "Kamu perias ya?" "Dulu, Gusti," Gendis akhirnya mengakui, suaranya nyaris tidak terdengar dan gemetar. Dia merasa seperti anak kecil yang tertangkap mencuri permen. "Saya... memang pernah bekerja sebagai juru rias profesional." "Jadi, tanganmu yang halus saat memijatku kemarin itu... bukan karena membantu ibumu ‘kan, tapi karena ini? Karena kebiasaan memegang kuas?" Gendis mengangguk pelan, merasa bersalah sekaligus lega karena rahasianya akhirnya terungkap, meski dengan cara yang memalukan. "Nggih, Gusti. Saya... saya nggak bermaksud menyembunyikannya." "Mbah Kismo melarangmu ya?" tanya Bagas, suaranya kali ini lebih lembut, tetapi tatapannya tetap intens, seolah sedang menyelidiki sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pelanggaran aturan. "Melarangmu menunjukkan keahlian ini di Ndalem.” "Nggih, betul, Gusti." Gendis merasakan air mata mengumpul di pelupuk mata. "Saya... saya tahu saya telah melanggar aturan Ndalem. Saya hanya... saya hanya nggak bisa menahan diri saat melihatnya. Saya kangen," ujarnya sambil menatap kotak itu. Bagas menatapnya lama, tatapannya kini tidak lagi menghakimi, tapi penasaran. Laki-laki itu lalu duduk di atas peti kayu yang ada di samping kotak, membuat Gendis merasa lebih kecil dan tidak berdaya. "Kangen?" Dia mengulang kata itu, seolah mencoba memahami emosi yang asing baginya. "Apa artinya kangen dengan keahlian seperti itu? Apa... apa bedanya dengan keharusan?" Gendis memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap Bagas yang kini tampak lebih manusiawi, daripada bangsawan dingin yang dia kenali. "Itu... itu seperti napas saya, Gusti. Seperti jiwa saya. Saya bisa mengubah wajah orang, membuat mereka merasa percaya diri, cantik dan itu kebanggaan saya. Sebuah karya seni, bukan sekadar tugas." Bagas mengangguk pelan, tatapannya kini berubah menjadi lebih reflektif. "Aku mengerti." Suasana di gudang itu terasa semakin tegang, dipenuhi pengakuan yang tidak terduga ini. Bagas lalu meletakkan kuas itu kembali ke dalam kotak, tetapi tangannya masih menempel di sana, seolah enggan melepaskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN