BAB 20 - KERINDUAN YANG MENDALAM

1691 Kata

Sebulan pun berlalu, Tubuh Bagas Narendra terasa kaku di balik balutan beskap beludru hitam yang tebal. Kain mahal itu terasa mencekik, lebih dari sekadar pakaian, tetapi seperti rantai yang dipatrikan langsung ke tulang punggungnya. Laki-laki tampan itu duduk di kursi terhormat, di deretan bangsawan utama, di tengah upacara peresmian yayasan budaya yang diselenggarakan oleh keluarga sepupunya di ujung kota. Matahari siang menembus atap pendopo, membuat ruangan terasa panas dan pengap. Udara dipenuhi aroma kemenyan, melati, dan parfum Ningrat yang berat, campuran antara bau kemewahan dan formalitas yang kini terasa menjijikkan di hidung Bagas. Seorang orator tua sedang berbicara di mimbar, mengagungkan sejarah kasta mereka, memuji garis darah murni yang telah menjaga pusaka dan tradi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN