“Besok kita nggak bisa kemana-mana dulu ya, Ay. Aku ada meeting dengan kontraktor.” Ucap Ezra setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir apartemen.
“Oke, besok aku dirumah aja. Lanjut ngetik.”
Ezra mengangguk lalu merereka berpisah setelah masuk ke apartemen masing-masing.
Setelah Ezra menutup pintu, Aisyah kembali keluar dan menatap kosong tempat Ezra tadi bediri dengan tatapan sedih. Apakah Ezra tidak suka ia berhubungan dengan orang yang memakai jilbab? atau ada sesuatu yang membuat perasaan Ezra buruk?
Aisyah sebenarnya tidak ingin menutupi yang sebenarnya pada Ezra. Ia ingin berterus terang mengenai agama yang ia anut, tapi sepertinya tidak mudah menjelaskannya kepada Ezra, apalagi ia sedikit tertarik kepada pria itu.
Tapi, yang menjadi pertanyaan Aisyah saat ini. Apakah Ezra juga tertarik kepadanya? Melihat sikap yang diberikan Ezra saat bertemu dengan orang yang seagama dengannya tadi membuatnya ragu kepada Ezra. Memikirkan pria itu akan menjauh membuat hatinya sakit.
…
“Hei, Bro. How are you? I think you happy there, but why you look sad?” tanya Jeff melalui panggilan video kepada Ezra.
Ezra tertawa pelan, “Terlalu banyak pekerjaan. Setelah peresmian gedung ini, aku tidak akan lagi menerima pekerjaan dari perusahaan. Ini sama saja aku bekerja,” keluh Ezra.
Mereka berbicara singkat di panggilan video itu, Ezra menceritakan jika cabang sudah dalam tahap 99% siap untuk peresmian, hanya tinggal menyebar undangan kepada kolega perusahaan.
Sebenarnya, apa yang Ezra katakana kepada Jeff adalahs alah satu yang membuat wajahnya kusut hari ini. Tetapi, yang paling banyak mengambil andil adalah karena ia memikirkan Aisyah.
Ia frustasi karena memperlakukan Aisyah sangat dingin tadi malam dan membuat gadis itu sepertinya tidak nyaman. Sikap itu muncul begitu saja ketika ia melihat Aisyah berteman dengan teroris, hal yang tidak bisa dipahami oleh Ezra karena Aisyah merupakan gadis yang baik-baik.
Awalnya, Ezra hanya menganggap itu biasa namun ketika mendengar ucapan Jeff ia menjadi terpengaruh. Tapi, bukan hanya itu, ia juga mencari informasi tambahan di internet dan menemukan apa yang dikatakan Jeff benar. Orang-orang yang memakai tutup kepala itu orang yang kejam.
Ezra memang tidak banyak membuka berita atau artikel tentang teroris atau aksi rasis, ia menjauhi itu karena harus menjernihkan pikirannya. Ezra lalu tergelitik untuk mengirim pesan singkat ke Aisyah.
Ezra Sulwyn : Sedang apa, Ay?
Ezra memegang ponselnya, lalu menggerakan menu ponsel, menunggu pesan dari Aisyah. Tetapi, balasan itu tidak kunjung datang. Ezra meletakkan ponselnya di atas meja.
Ingin sekali ia menghubungi gadis itu, tetapi ego membuat Ezra mengurungkan niatnya.
“Damn!” maki Ezra.
Tiba-tiba, ponselnya menyala dan membuatnya refleks segera meraih benda pipih itu. Kekecewaan segera terlihat di wajah Ezra ketika membuka ponselnya, ternyata itu hanya pesan dari operator.
Ezra hampir menjatuhkan ponselnya ketika foto Aisyah tiba-tiba terlihat di ponselnya tanda gadis itu sedang menghubunginya. Ezra segera mengangkatnya di dering kedua.
Satu detik kemudian, terlihat wajah Aisyah yang masih berbaring di bantal. Sembari tersenyum kecil kepadanya, Ezra tersenyum lebar. Ini adalah salah satu pemandangan yang paling Ezra suka akhir-akhir ini, melihat wajaha bangun tidur Aisyah.
Gadis itu sangat cantik saat bangun tidur walaupun rambutnya kusut dan wajahnya bengkak. Itu terlihat menggemaskan di mata Ezra, hingga berkali-kali ia ingin menggigit pipi tembem Aisyah.
“Baru bangun tidur, Za.” Ucap Aisyah denan suara Serak.
Ezra menaikkan alisnya, tidak mengerti. Membuat Aisyah mengerucutkan bibir.
“Tadi kamu tanya, lagi apa. Aku jawab, baru bangun.” Jelas Aisyah.
Ezra ber-ah pelan, ia baru mengerti. Bahkan ia melupakan pesan yang barus aja ia kirimkan kepada Aisyah karena melihat wajah cantik gadis itu. Saat mereka melakukan panggilan video seperti ini, Ezra berkali-kali melihat leher dan bahu polos Aisyah. Itu membuatnya gemas ingin melihat lebih tetapi gadis itu selalu memperbaiki arah kamera ponsel untuk memperlihatkan wajahnya saja.
“Kenapa melihatku begitu?” tanya Aisyah.
Aisyah sekarang hanya menampilkan separuh wajahnya, separuh yang lain hilang di tutupi bantal. Membuat pipi tembem Aisyah tampak mencuat dari bantal.
“Boleh aku gigit pipi kamu?” tanya Ezra refleks.
Ezra pun terkejut dengan ucapannya, ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Aisyah melainkan bertanya balik kepada gadis itu.
Aisyah tertawa kecil, “Nih, kesini aja. Gigit semuanya.”
Ezra menatap Aisyah dengan tatapan penuh arti. Ia merasa Aisyah masih belum sepenuhnya sadar dari tidur, membuatnya tidak fokus saat berbicara. Ucapan itu sangat mengundang untuk seorang pria apalagi Ezra.
“Benar, nih? Kalau aku datang, jangan nolak, ya!”
Aisyah tertawa, “Iya, datang aja kalau berani. Lagian dari kemarin kamu ngejauhin aku.”
Ezra tersentak dengan ucapan Aisyah, ternyata gadis itu benar-benar sadar dengan perubahan sikapnya. Di layar ponsel, Aisyah menatapnya sembari menggembungkan pipi, entah apa maksudnya. Sangat berlawanan dengan kata-kata gadis itu tadi yang berterus terang.
“Aku akan datang setengah jam lagi. Wait for me.” Ucap Ezra serius.
Jantung Aisyah tiba-tiba berdebar kencang mendengar suara tegas Ezra, tatapan pria itu menguncinya, sehingga tidak bisa berpaling kemana-mana. Mata Aisyah juga menjadi bagian yang paling Ezra sukai, mata gadis itu bulat dan tampak sayu, membuatnya sangat cantik sekaligus menggemaskan.
Ezra mematikan panggilan video secara sepihak, ia berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan pimpinan perusahaan. Ezra sedang berada di kantor, hari ini rencananya ia akan mengontrol semua barang-barang yang datang khusus dari London. Tetapi, tanggung jawab itu bisa ia berikan kepada orang lain, sekarang yang paling penting adalah Aisyah.
Ezra tersenyum-senyum sendiri, kali ini ia akan nekat pergi menemui Aisyah. Ezra membeli cheesecake kesukaan Aisyah sebelum pulang ke apartemen. Ezra mengemudikan mobil di atas kecepatan biasanya.
Senyumnya semakin lebar begitu berjalan menuju apartemen Aisyah, ia memencet bel apartemen gadis itu. Di pencetan ketiga, akhirnya Aisyah membukakannya pintu.
Gadis itu masih dalam keadaan kacau dan hanya menatapnya polos.
“Kau benar-benar datang?” tanyanya dengan ekspresi kaget.
Ezra memperhatikan Aisyah hanya mengenakan celana pendek, dengan cardigan yang ia balutkan ditubuh seadaanya. Rambut gadis itu masih terurai dengan anak rambut mencuat kemana-mana.
“Aku baru bangun. Kupikir tadi itu mimpi? Apakah aku benar-benar menyuruhmu datang?” tanya Aisyah sembari mengerjab-ngerjabkan mata.
Aisyah mendongakkan kepalanya, memeriksa apakah benar Ezra benar-benar berdiri di depannya. Ia menyentuh d**a Ezra dengan telunjuknya dan benar-benar tersadar jika Ezra datang ke apartemennya.
Aisyah mengumpat dalam hati, ia pikir tadi itu hanya mimpi, saking inginnya ia berbicara dengan Ezra karena sikap cuek pria itu semalam. Membuatnya begadang dan baru tidur jam 3 pagi.
Karena mengira itu mimpi, Aisyah berbicara melantur. Ia bahkan menyuruh Ezra benar-benar datang dengan kalimat yang bisa dibilang menggoda. Mampus! Apa yang harus kulakukan dengan pria tampan ini?
“Aku datang untuk mengambil janjimu.”
Aisyah semakin syok mendengar ucapan Ezra. Ia membuka mulutnya, melihat kemanapun pria itu bergerak. Aisyah masih mengerjabkan matanya cepat, nyawanya belum terisi penuh.
“Janji?”
Aisyah merasa suhu ruang tamunya tiba-tiba naik, ia mengingat janji apa yang dimaksud Ezra. Pria itu mendekat ke arahnya yang berdiri di ruang tengah. Ezra sedikit ingin bermain-main dengan Aisyah, wajah gadis itu sangat terlihat polos. Membuatnya ingin mengerjainya sedikit.
Ezra sama sekali tidak berniat untuk melakukan apa-apa terhadap Aisyah, ia hanya datang ingin mengunjungi gadis itu karena bersikap bodoh tadi malam. Ucapannya tentang ingin mengambil janji Aisyah itu hanya bercanda.
Tetapi, demi melihat reaksi Aisyah ia penasaran ingin melanjutkan mengerjai gadis itu. Ezra tersenyum, menatap tepat di kedua mata Aisyah. Dia mendekati gadis itu dengan langkah pelan.
Sementara, Aisyah terus mundur hingga punggungnya terbentur di dinding. Ezra sudah berdiri tepat di depan Aisyah, ia harus menunduk sedikit demi bisa melihat Aisyah. Gadis itu juga mendongak menatapnya.
Ezra dapat mencium wangi teh dari tubuh Aisyah, aroma yang sangat Ezra sukai jika sedang berada di dekat dengan Aisyah. Ezra tersenyum miring, Aisyah benar-benar tidak berkutik di depannya, sejenak Ezra ingin tertawa karena melihat wajah lucu Aisyah.
Aisyah berusaha menenagkan debaran jantungnya, wangi perpaduan wangi jeruk, rumput laut, lavender, bunga kapas, dan kayu-kayuan yang tercium dari tubuh Ezra membuatnya terhipnotis.
Ezra mengurung gadis itu dengan kedua tangannya, refleks Aisyah memalingkan wajah dan menutup matanya erat. Bayangan saat mantannya melakukan kekerasan kepadanya tiba-tiba melintas.
Ezra yang merasakan perubahan ekspresi Aisyah, menyapu pipi gadis itu dengan elusan tangannya.
“Open your eyes, I wont hurt you.”
Suara serak Ezra mengalun lembut di telinga Aisyah, ia membuka pelan matanya dan menemukan Ezra sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Ia tidak perduli lagi dengan debaran jantungnya bisa di dengar oleh Ezra. Aiysah balas menatap Ezra juga tepat di kedua matanya.
Tatapan mereka terkunci satu sama lain, atmosfir di ruang tamu itu benar-benar naik akibat mereka bedua. Aisyah merasa berkeringat dan ingin melepas kardigannya.
Ezra yang awalnya hanya bermain-main, berubah seketika ketika menatap bibir kemerahan Aisyah. Bibir yang merah merekah yang hanya beberapa senti darinya.
Tangan Ezra yang semula tadi mengelus pipi Aisyah, berubah memegang tengkuk gadis itu. Ketika Ezra bergerak mendekat, tangan kanan Aisyah refleks menahan d**a Ezra membuat pria itu menghentikan gerakannya.
“I want kiss you, may i?”
Seolah tersihir dengan suara Ezra, Aisyah refleks menganggukkan kepala. Ezra tersenyum senang, ia langsung mencium Aisyah. Ezra dapat merasakan rasa cheri dari bibir Aisyah, membuatnya memperdalam ciumannya.
“Ezra…”
Suara Aisyah mengalun lembut ditelinga Ezra ketika ia melepaskan bibir gadis itu untuk mengambil napas sebelum menciumnya kembali. Ezra menggigit pelan bibir Aisyah, menyuruh gadis itu membuka bibirnya.
“Open your lips.” Geram Ezra.
Tangan Aisyah berada di d**a Ezra, berniat untuk menjauhkan Ezra darinya dan menghentikan ciuman panas mereka. Namun, otak dan hatinya tidak sejalan, Aisyah menikmati ciuman Ezra. Hatinya mengatakan jika ini salah, ia harus menghentikannya.
Tidak diberikan akses lebih, Ezra akhirnya memegang pinggang Aisyah, tangannya menyelinap di balik cardigan Aisyah dan sukses membuat gadis itu terkisap, membuka akses lebih untuk bibir Ezra.
Tubuh mereka menempel satu sama lain, pagutan mereka tambah panas dengan suara decakan lidah dan juga deru napas masing-masing. Tangan Aisyah refleks mengalungi leher Ezra, menahan agar tubuhnya yang lemas seperti jelly tidak terjatuh.
Ezra mengangkat tubuh Aisyah mendudukkan gadis itu di pantry, tangan Ezra masuk dengan mudah di balik tanktop yang dikenakan Aisyah, mengelus punggung gadis itu dengan lambat membuat Aisyah mendesah di antara ciuman mereka.
Aisyah mengeratkan pelukannya dileher Ezra, tubuhnya menginginkan lebih dari cumbuan pria itu membuat akal sehat Aisyah datang dan pergi sesaat. Puas dengan bibir Aisyah, Ezra pindah ke telinga gadis itu, meniup dan menciumnya lembut.
“Ahhh… Ezra.” Desah Aisyah pelan membuat Ezra semakin bersemangat untuk melanjutkan aksinya.
Aisyah sadar, yang kamu lakukan ini dosa! Suara hati Aisyah membuat akal sehatnya kembali dan mendorong pelan d**a Ezra.
Tidak mau berhenti, Ezra yang mengetahui Aisyah tidak memakai bra. Naik meremas gundukan gadis itu. Sementara, ciumannya turun ke bahu Aisyah setelah menurunkan sebelah kardigannya.
“Ahhh… Ezra, stop.” Aisyah bebisik.
Punggung Aisyah refleks melengkung akibat perbuatan Ezra. Napasnya menderu, ia melihat Ezra sedang menjilat bahunya dan itu pemandangan yang sangat panas untuknya.
“Ezra, please. Stop.” Pinta Aisyah.
Mata Aisyah berkaca-kaca, air matanya perlahan turun di pipinya. Kali ini, akal sehatnya menang, ia sekuat tenaga mencoba mendorong Ezra. Tangannya bergetar, ia menggelengkan kepalanya pelan. merasakan tangan Ezra masih ditubuhnya membuatnya merinding.
Ezra tidak mendengar suara Aisyah, ia mabuk dengan tubuh gadis itu yang sangat pas di pelukannya.
“EZRA!”
Ezra tersentak, ia menghentikan perbuatannya. Ia terkejut melihat Aisyah sedang menangis. Tiba-tiba Ezra diserang rasa bersalah, ia melihat hasil perbuatannya meninggalkan jejak kemerahan di leher dan bahu Aisyah.
Ezra melihat kedua tangan Aisyah bergetar masih berada dekat dengan dadanya. Hati Ezra seperti di iris-iris ketika mendengar tangis Aisyah yang semakin kuat.
Shit! Apa yang sudah ku lakukan dengan! Gumam Ezra dalam hati.
Aisyah menangkup wajahnya dengan kedua tangan lalu menangis, lagi-lagi ia melakukan kesalahan. Apa yang ia lakukan selama berbulan-bulan untuk berubah hancur seketika dengan perbuatannya sendiri.
Ezra perlahan membenahi kardigan Aisyah, ini pertama kalinya ia merasa sangat bersalah setelah mencium seorang perempuan. Ezra tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat Aisyah menangis.
Aisyah merasa tubuhnya lemah langsung menunduk dan menabrak bahu Ezra. Ia menangis di sana, Ezra ikut berkaca-kaca mendengar Aisyah terisak-isak di pundaknya.
“I’m sorry.” Ucapnya serak.
Ezra menepuk pelan bahu Aisyah, sembari terus mengulang kalimat permintaan maafnya. Setengah jam kemudian, Aisyah sudah berhenti menangis. Tetapi, posisi mereka belum berubah.
Aisyah mengangkat kepalanya pelan, menatap kosong ke depan. Ia merasa menyesal, tapi untuk apa menyesal jika iaa terus mengulang perbuatan dosa berkali-kali. Sama saja bohong, ia malah terlihat seperti mempermainkan agama.
Aisyah merasa semua tangisan dan juga permohonan untuk mengampuninya yang selama ini lakukan sepanjang mengerjakan shalat lima waktu tidak ada artinya.
“Aku minta maaf, Ay.” Ezra mengucapkan kata itu sudah puluhan kali. Aisyah tidak merespon sama sekali, ia hanya melirik Ezra dengan tatapan kosong.
Kepala Ezra seperti dipukul godam saat melihat wajah Aisyah yang menatapnya kosong. Gadis itu pucat karena menangis terlalu lama, bukannya memperbaiki hubungan mereka, Ezra malah merusaknya.
Ezra seperti ingin menampar dirinya sendiri karena melakukan ini kepada orang yang ia sukai. Lihat, akibat perbuatannya, tidak ada lagi tatapan hangat di mata Aisyah untuknya.
Ezra menangkup kepala Aisyah dengan kedua tangannya, ini mungkin akan menjadi terakhir kali mereka betemu ika Aisyah akan menjauh akibat dari perbuatannya.
“Mungkin saat ini bukanlah saat yang tepat untukku mengatakan ini, Ay. Tapi, aku tidak bisa menahannya lagi.” Ezra menghentikan ucapannya demi melihat mata Aisyah mengerjab beberapa kali lalu menatapnya. “…Aku menyukaimu. Sangat-sangat menyukaimu. Aku menciummu bukan karena ingin melecehkan atau mempermainkanmu, Ay. Aku benar-benar mencintaimu.”
Hati Aisyah bedenyut mendengar ungkapan perasaan jujur Ezra. Sebelah tangannya yang masih memegang erat kemeja Ezra lepas begitu saja. Ketika ia melakukan itu, Aisyah dapat melihat wajah kecewa dan menyesal Ezra.
“Aku tahu, kau sudah membenciku. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku yang sejujurnya. Sebelum benar-benar kehilanganmu.” Ungkap Ezra, melihat tangan Aisyah yang sudah jatuh tepat di paha gadis itu.
Ezra merasa matanya panas, ia menelan ludahnya dan sukses membuat tenggorokannya tercekat. Sebelum melangkah pergi, ia mencium puncak kepala Aisyah untuk terakhir kalinya, biar sekalian ia dibenci gadis itu. Ezra hanya ingin menunjukkan jika ia benar-benar serius.
Melihat Ezra beranjak pergi, Aisyah refleks menggapai kemeja Ezra. Sampai melangkah turun dari pantry.
“Jangan berbalik. Aku nggak mau berharap lebih, kamu juga harus dengar sesuatu sebelum pergi.” Ucap Aisyah dengan suara berbisik.
Tenggorokannya kembali tercekat ketika ingin mengaku kepada Ezra.
“Aku juga punya perasaan yang sama, Za. Ku mohon, jangan berbalik melihatku atau aku akan menyesal mengatakan kalimat selanjutnya.” Ucap Aisyah.
Ezra masih di tempatnya, ia ingin sekali berbalik dan memeluk Aisyah, tetapi demi mendengar permintaan gadis itu, ia menurutinya.
“Tapi, kita nggak akan bisa bersama, Za. Kamu benci aku, mungkin sanga tidak menyukaiku.” Aisyah menghirup napas panjang lalu melanjutkan kata-katanya. “Aku…aku orang islam, Za. Sama seperti dua orang yang kita temui kemarin, orang yang membuat kamu bersikap dingin kepadaku karena bertemu dengan mereka.”
Ezra membeku di tempatnya berdiri. Kata-kata Aisyah terulang di kepalanya, itu adalah pengakuan yang paling mengejutkan untuk Ezra. Ia berbalik, menatap tidak percaya kepada Aisyah.
Bagaimana bisa gadis yang ia sukai ternyata seorang teroris? Orang bebahaya yang bisa saja membunuhnya?
Ezra tidak berpikir panjang langsung menghempaskan tangan Aisyah dan keluar dari apartemen gadis itu.
Sementara Aisyah, merosot jatuh ke lantai, kembali menangis. Kenyataannya memang seperti ini, ia memang harus jujur, mau tidak mau. Aisyah memenuhi ruang tamu itu dengan suara isakan tangis, hingga kelelahan dan membuatnya tertidur.