Takdir Allah 27 - Fried Rice

1854 Kata
Ezra menggendong Aisyah masuk ke UGD, para perawat yang melihat ezra membawa Aisyah berdatangan membantu pria itu meletakkan tubuh Aisyah di atas brankar rumah sakit dan membawa Aisyah untuk di periksa oleh dokter.  Ezra menunggu di ruang tunggu dengan cemas, ia terkejut karena sebelum ini Aisyah baik-baik saja. Ketika seorang dokter menghampirinya, Ezra buru-buru mendekat. “Apakah kamu saudara pasien?” tanya dokter itu. Ezra menggeleng, “Saya temannya Dok. Teman saya kenapa dok?” Dokter itu melihat Ezra sekilas seperti tidak mempercayai Ezra, lalu Ezra menunjukkan tanda pengenal dan juga fotonya berdua bersama Aisyah. Barulah Dokter itu menatapnya dengan lebih bersahabat. “Pasien sepertinya sedang dalam tekanan yang cukup berat, hingga terkena gelaja tipes, di tambah siklus bulanan yang datang bersamaan membuat kondisi tubuhnya lemah.” Jelas dokter itu. “…sekarang keadaannya cukup normal. Apa dia punya keluarga yang bisa dihubungi?” tanya dokter itu. Ezra refleks menggeleng, “Semua keluarganya berada di Indonesia.” “Baiklah kalau begitu. Anda otomatis akan menjadi wali pasien, silahkan lengkapi identitas pasien terlebih dahulu.” Dokter itu menyuruh salah satu perawat untuk mengantar Ezra menuju meja resepsionis untuk melengkapi data Aisyah. Setelah mengisi data-data Aisyah, Ezra diberitahu jika Aisyah sudah siuman. Ezra melangkah cepat menuju salah satu bangsal tempat Aisyah dipindahkan. “Erza.” Ucap Aisyah pelan. “…kenapa aku bisa dirumah sakit?” Ezra mengambil posisi duduk di samping Aisyah, menggenggam tangan gadis itu yang sedang di pasang infus. Matanya mengerjab pelan, menandakan kondisinya belum terlalu sehat. “Kau pingsan saat makan siang. Bagaimana perasaanmu sekarang?” jawab Ezra. Aisyah menghembuskan napas membuat masker oksigennya mengembun. “Kepalaku masih pusing.” Jawab Aisyah. “…Za. Aku mau pulang.” “Kamu belum sehat, Ay.” Tolak Ezra. Aisyah menggeleng pelan, menggenggam lebih erat tangan Ezra. “Aku tidak mau di sini, mau pulang.” Sejak dulu, Aisyah tidak suka dirawat di rumah sakit. Ingatan masa kecilnya saat tersesat di lorong-lorong rumah sakit dan bertemu dengan pasien membuatnya sangat takut sampai sekarang. Ezra akhirnya menyerah, ia keluar untuk bertemu dengan dokter yang tadi menangani Aisyah. Beruntung dokter itu menyetujui agar Aisyah rawat jalan. Dokter itu memberikan beberapa resep obat untuk ditebus, Ezra melakukan semuanya dengan teliti. “Nggak mau naik kursi roda, Za. Aku masih kuat berjalan.” Tolak Aisyah saat melihat Ezra datang membawa kursi roda yang ia pinjam dari rumah sakit. Aisyah turun dari tempat tidur, kepalanya tiba-tiba sangat pusing ketika menginjak ubin lantai. Saat ingin melangkahkan kaki, pijakan Aisyah oleng membuat Ezra harus membawa Aisyah duduk di atas brankar. “Pakai kursi roda atau ku gendong!” ucap Ezra tegas. “Mau jalan.” Jawab Aisyah. Aisyah memilih jawaban yang tidak ada dari pilihan yang diberikan Ezra. Kali ini, pria itu sudah tidak bisa mentolerir lagi. Ia khawatir sekali, sampai rela berjalan kesana-kemari, ia akhirnya memilih jalan yang lebih mudah. Ezra membungkuk di depan Aisyah, menaruh tangannya di belakang lutut gadis itu. Satu detik kemudian, Ezra mengangkat Aisyah dengan sempurna. Aisyah yang syok hanya menyembunyikan wajahnya di d**a Ezra. Malu sekali, di angkat dan dilihat satu rumah sakit. Ezra memasukkan Aisyah ke dalam mobil dengan berhati-hati. Ia sebelumnya sudah memposisikan mobil sehingga lebih nyaman untuk Aisyah saat dalam perjalanan pulang ke apartemen. “Thanks.” Ucap Aisyah. Ezra berbalik dan menemukan Aisyah menatapnya dengan tatapan sayu dan wajah pucat. Sesaat, ia menyesal telah mengikuti perkataan gadis itu untuk membawanya pulang ke apartemen. “Sama-sama. Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai.” Ucap Ezra. Ezra yang sedang menyetir kaget ketika mendengar Aisyah terkisap. Ia menepikan mobil lalu menoleh ke arah Aiysah. “Ada apa? Ada yang sakit?” tanya Ezra sembari memeriksa Aisyah, “…sebaiknya kita kembali ke rumah sakit.” Aisyah menahan pergerakan Ezra dengan menagkap lengan pria itu. “Kau tidak memberi tahu kakakku, bukan?” Astaga! Ezra ingin sekali menjitak kepala Aisyah. Ia bahkan menyalakan lampu hati-hati agar pengendara lain tahu jika mereka sedang dalam keadaan darurat. “Jawab dulu, baru jalan!” Aisyah memegang lengan Ezra kuat. Ezra menghela napas panjang, menatap Aisyah galak, ingin melahap gadis itu saking gemasnya. “Iya, nggak. Lagian ngabarin pake apa? nomornya aja nggak ada.” Omel Ezra. Ezra menyalakan kembali mobilnya, menaikkan kecepatannya agar bisa tiba lebih cepat. Ezra membaringkan Aisyah di tempat tidur, menyalakan penghangat ruangan lalu menyelimuti gadis itu setinggi pinggang. Gadis itu ketiduran beberapa menit sebelum mereka sampai. Barusan ia dibantu oleh petugas gedung saat membawa Aisyah naik ke kamarnya. Kebetulan, Ezra tau nomor password apartemen Aisyah karena ia yang membantu Aisyah untuk memasang kunci pintu elektronik ini. Ezra beterimakasih kepada petugas keamanan sebelum mereka meninggalkan apartemen Aisyah. Mereka tidak menaruh curiga kepada Ezra karena sering melihat mereka besama sebelumnya. Ezra ke dapur untuk memasak bubur, beruntung bahan-bahan di kulkas Aisyah sangat lengkap. Ezra cukup cepat memotong sayuran, sekejap ia sudah selesai memasak nasi dan membuatnya jadi cukup lembek, Ezra memasukkan sayuran yang sudah di masak setengah matang sebelumnya, ia juga mencampurkan penyedap rasa agar lebih enak di makan. Setelah bubur itu jadi, Ezra melihat obat yang harus dimakan Aisyah. Kebetulan jam makan malam sudah dekat. Ezra mengetuk kamar Aisyah untuk melihat keadaan gadis itu. Selain bubur, Ezra juga sudah membuat makanan lain untuk dirinya sendiri yang akan di makan bersama Aisyah nanti. Ia membuat beberapa lauk sederhana agar Aisyah memakan buburnya. Ezra terkejut tidak melihat gadis itu di tempat tidur, ia bergerak untuk mencari tetapi lebih terkejut lagi melihat di sudut kamar Aisyah sedang melakukan sesuatu yang tidak ia pahami. Gadis itu memakai kain panjang menutupi seluruh tubuhnya, hanya wajah Aisyah yang terlihat. “Hei.” Ezra memanggil Aisyah ketika melihat gadis itu membuka kain panjang yang ia pakai. Aisyah tersenyum, ini pertama kalinya Ezra melihatnya melaksanakan shalat. Ia terbangun saat ponselnya bergetar tepat di sebelahnya. Aisyah tersadar jika ia melewati shalat ashar, jadi dengan segenap tenaga yang sudah terkumpul ia bangun untuk mengganti pakaian dan wudhu untuk shalat magrib. “Kamu sedang apa?” tanya Ezra. Aisyah menyimpan sejadah dan juga mukenahnya kembali di dalam lemari. Ia sudah kuat untuk berjalan sedikit-sedikit walaupun agak lambat dari biasaya. Aisyah berbalik melihat Ezra yang sama sekali tidak beranjak satu langkahpun dari tempatnya berdiri. “Ibadah. Hal yang wajib ku lakukan lima kali sehari.” Jawab Aisyah. Ezra mengerutkan kening, “Kenapa banyak sekali? Apa tidak repot? Kenapa tidak sekalian satu kali sehari saja?” Aisyah tertawa, “Ini sudah yang paling ringan dan tidak bisa dikerjakan sekaligus karena ketentuan waktunya berbeda-beda.” “Apa yang membedakannya?” tanya Ezra lagi. Aisyah mengerjabkan matanya pelan, ia tersenyum lalu tertawa kecil. “Ibadah yang kulakukan tadi, itu adalah shalat lima waktu. Harus di kerjakan di waktu yang berbeda-beda. Pertama, Dzuhur…shalat yang dikerjakan saat matahari tergelincir ke arah barat, tempat terbenamnya matahari. Ashar, sebelum cahaya matahari menguning atau bisa juga dikatakan sudah masuk waktunya jika panjang bayang-bayang dari suatu benda lebih panjang dari pada benda itu sendiri. Ketiga, magrib dikerjakan setelah matahari tenggelam. Keempat, Isya yang dikerjakan setelah shalat Magrib dan waktunya sampai larut malam dan yang terakhir, shalat subuh di awali ketika fajar sadik muncul. Cahaya putih yang melintang sepanjang ufuk timur dan berakhir ketika cahaya matahari terbit.” Ezra mengangguk pelan, padahal tidak begitu mengerti penjelasan Aisyah. “Apa masih banyak ibadah lagi selain itu?” “Banyak, banget malah. Tapi jenis ibadah ada yang wajib ada yang sunnah, ada juga yang lain, aku lupa istilahnya apa.” jawab Aisyah. Bagi Aisyah, situasi ini sedikit lucu, ia berdiri pas di depan lemari dan Ezra di depan pintu kamarnya. Mereka berdiri dua puluh menit di tempat yang sama dan belum bergerak. Sementara Aisyah tidak tahu apa tujuan pria itu masuk di kamarnya. Ezra yang di tatap oleh Aisyah, salah tingkah. Lalu tersadar ia ke kama gadis itu untuk mengajaknya makan malam. “Ayo keluar, aku sudah membuat makan malam spesial untukmu.” Ajak Ezra. Mereka bedua berjalan menuju ruang tamu, yang memang berdekatan dengan pantry. “Nah, aku akan menyiapkan makan malam. Tunggu aku di sini.” Aisyah mengangguk, ia duduk di atas karpet berbulu yang menjadi tempatnya biasa menonton drama marathon. Sebenarnya, ada sofa tetapi ia memilih duduk di karpet untuk memudahkannya makan. Aisyah kaget ketika melihat Ezra telah membuat banyak makanan. Ada telur mata sapid an nasi goreng, serta kerupuk, pria itu datang lagi membawa piring, sendok dan juga gelas serta air mineral. Perut Aisyah sudah keroncongan melihat menu masakan yang Ezra buat. Tetapi, yang Ezra bawa berikutnya membuatnya kesal bukan main. “Nah, ini spesial untukmu.” Ucap Ezra memberikan mangkuk bubur yang sudah di campur sayuran. Aisyah sudah bersiap membuka mulutnya untuk protes kepada Ezra. Tapi pria itu menatapnya super galak. Ezra berkacak pinggang, menipiskan bibirnya lalu duduk tepat di sebelahnya. “Makan! Atau aku akan kembali membawamu ke rumah sakit!” ucap Ezra tegas. “Tapi,” Aisyah memelas, ia mengerjabkan matanya pelan sembari membuat wajah lucu supaya membuat Ezra luluh. “Makan!”  Bahu Aisyah merosot, ia menatap sedih buburnya. Lalu menatap lauknya dengan Ezra berulang kali. Ia kesal, merasa jika Ezra curang. Aisyah mencoba satu suap bubur buatan Ezra, dan matanya seketika melebar. Rasa bubur itu luar biasa. “Enak, bukan? Nah, sekarang habiskan.” Ucap Ezra sembari tersenyum geli. Aisyah heran, “Bagaimana kau bisa membuat bubur seenak ini?” “Aku hanya meniru resepnya dari internet. Tidak menambahkan apapun, hanya beberapa sayur yang aku temukan di dalam kulkasmu dan penyedap makanan yang juga tersedia di pantry.” Jawab Ezra. Aisyah hanya bergumam untuk menanggapi ucapan Ezra. Ia sudah terlena dengan bubur buatan Ezra. Aisyah memakannya dengan kerupuk, kerupuk yang rutin diterima dari Ibunya setiap bulan. Aisyah menghabiskan buburnya hanya dalam beberapa menit, tapi ia masih lapar. Sejenak ia melihat Ezra yang sedang menyantap nasi goreng buatannya dengan telur mata sapi. Terlihat lezat tetapi, pria itu juga lahap memakannya. Ketika memalingkan wajah, Ezra menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke arah Aisyah yang langsung di terima gadis itu dengan senang hati. Aisyah mengunyah nasi goreng, lalu menelannya dengan cepat. Ini tidak kalah lezat dengan buburnya tadi. Aisyah refleks membuka mulutnya, menatap Ezra dengan tatapan memohon. Ezra menyuapkan nasi goreng yang tersisa untuk Aisyah, ia menaruh telur dan juga kerupuk yang telah diremukkan di atasnya. “Kau cocok jadi chef, makananmu sangat lezat.” Ucap Aisyah setelah menelan suapan kedua. Ezra terkekeh lalu memberikan suapan nasi goreng ketiga kepada Aisyah. Ia sudah kenyang, melihat Aisyah lahap memakan masakannya membuatnya senang. Padahal masakannya hanya ini, jauh dari apa yang mereka makan di restoran tadi siang. “Za! Berikan itu padaku, suapan terakhir adalah yang paling enak.” Protes Aisyah ketika Ezra ingin melahap nasi goreng terakhir. “Enak saja! Kamu sudah makan banyak, ini punyaku.” Ezra menjulurkan lidahnya, bergeser menjauhi Aisyah. “Ah! Berikan padaku!” Aisyah merengek. “…kau bisa membuatnya lagi.” “Tuh, ada sayuran menempel di gigimu.” Ezra tetap menolak, membawa suapan terakhir itu ke dapur. Aisyah menutup mulutnya cepat, mencari sayur yang dikatakan Ezra dengan lidahnya. Tetapi setelah tidak menemukan apapun, ia beranjak mengikuti Ezra dengan mata berapi-api. “Ih! Ezra!” Ezra tertawa geli, ia puas mengerjai Aisyah. Apalagi melihat wajah gadis itu memerah karena kesal ia kerjai. Aisyah mencubit perut Ezra, membuat pria itu mengaduh lalu Mencari-cari piring nasi goreng tadi. “Sudah masuk ke dalam perutku.” Ucap Ezra mengetahui apa yang Aisyah cari. Tiba-tiba saja, mungkin karena Aisyah sedang mengalami siklus bulanan yang membuat emosinya bisa berubah-ubah dengan cepat. Aisyah cemberut, lalu matanya berkaca-kaca akan menangis. “Itu, punyaku!” Aisyah berharap Ezra berbohong dan memberikan itu padanya. Ezra panik melihat Aisyah akan menangis, tapi suapan terakhir itu benar-benar sudah ia makan dan hanya menyisakan piring dan sendok kotor. Aisyah menengadahkan kepalanya matanya sukses mengeluarkan air mata, ia menangis seperti anak kecil yang makanannya di ambil. Ezra berusaha menenangkan Aisyah, tapi tidak berhasil. Ia malah semakin membuat Aisyah menangis. “Oke, kubuatkan satu porsi lagi.” Ajaibnya setelah mendengar perkataan itu. Aisyah berhenti menangis, menatap Ezra dengan mata bulat bersinar. Ezra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kenapa setiap bersama gadisnya selalu membuatnya takjub karena sikap gadis itu yang tidak biasa. Eh, apakah Ezra bisa memanggil Aisyah sebagai gadisnya? Jika bisa, Ezra ingin sekali Aisyah menjadi miliknya, Aisyah yang sekarang menatapnya dengan mata bulat dan hidung memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN