28 NGIDAM

890 Kata

"Ndut...makan terus deh."   Suara Badai membuat Embun menghentikan kunyahannya. Entah kenapa sejak hamil dia jadi merasa lapar terus menerus. Sudah satu Minggu sejak dia mengetahui kalau dia hamil.   Dan Badai semakin protektif kepadanya. Dia tidak boleh membuka tempat prakteknya setiap sore. Hanya boleh bekerja di klinik pada pagi sampai sore hari.   Sungguh itu membuat Embun kesal. Kadang Badai bersikap berlebihan kepadanya.   "Aku lapar Dai."   Badai kini duduk di sebelahnya dan mencomot kentang goreng yang tengah di makan Embun.   "Kok udah pulang?"   Embun menatap Badai yang kini melepas kuncir rambutnya dan menggerai rambutnya itu.   "Shiftku udah habis kok. Lagian sehari ini gak ada peristiwa penting, cuma jaga di kantor aja."   Badai kini menoleh kepada Embun yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN