11 MAJU

1097 Kata
"Serius Lo Dai?"   "Wah udah gila ni anak!"   "Huust.berisik!"   Badai hanya mengulum permen lollipop yang kini ada di mulutnya itu. Hari ini timnya sedang meeting. Membahas tentang alat-alat baru yang akan mereka gunakan. Tapi dia terlalu jengah saat mendengar celetukan dua temannya yang duduk di samping kanan dan kirinya itu.   Ari dan juga Ridwan. Dua teman satu timnya itu tadi mendengar saat Badai meminta ijin cuti untuk menikah kepada atasannya. Pak Malik. Dan beginilah dua temannya itu dari tadi penasaran dengan  itu semua.   Dia sendiri terlalu malas untuk membahas itu. Lagipula dia juga harus segera menikah dengan Embun. Terlalu mendesak menurutnya. Dia tidak mau pria yang bernama Iwan itu terus menerus mengganggu Embun. Entahlah, otaknya sudah korslet atau apa karena dia terlalu peduli dengan Embun.   "Ari, Ridwan, Badai...kalian pindah di depan saja kalau masih ribut begitu."   Dapat teguran dari Pak Malik Badai langsung melotot kepada kedua temannya.   "Berisik ah kalian!" dan dua temannya hanya menyeringai lebar. **** "Jadi satu Minggu lagi? Wooww berarti si Sinta buat gue dong dai?"   Pertanyaan Ari langsung membuat Badai menjitak kepala temannya itu. Mereka kini sedang menyesap kopi pahit di kedai kopi dekat dengan kantor.   "Enak aja. Sinta seksi itu punya gue."   Badai menunjuk dirinya sendiri tapi Ridwan langsung berdecak sebal.   "Hei calon suami orang tuh kagak boleh ngecengin cewek lain lagi. Kualat Lo Dai."   Badai langsung menggerutu mendengar ucapan Ridwan dan membuat Ari tertawa terbahak.   "Gue belum nikah kali, masih ada seminggu lagi."   Ucapannya terhenti saat mendengar dering ponselnya berbunyi. Badai dengan malas merogoh saku celananya. Dua temannya tampak penasaran menatapnya. Membuat Badai langsung berbalik dan kini memunggungi kedua temannya itu.   "Ya  ma ada apa?"   Badai langsung menjawab saat mendengar suara mamanya.   "Badai, malam ini juga bawa calon istri kamu ke rumah ya. Papa dan Mama mau ketemu."   Badai langsung memejamkan matanya dan mengacak rambutnya. Semalam dia memang berbicara dengan sang Mama soal keinginannya untuk menikah dengan Embun. Tapi hari ini dia benar-benar belum siap membawa Embun ke rumahnya.   "Mah besoklah. Badai hari ini sibuk loh mah."   "Enggak bisa Dai. Papa ingin bertemu sekarang juga."   Suara telepon di putus langsung membuat Badai menggerutu lagi. Rupanya dia salah mengatakan akan menikah dengan Embun. Sungguh sangat salah.   "Hayo ada yang lagi galau nih."   Ejekan Ari membuat Badai langsung beranjak dari duduknya. Dia harus segera menemui Embun hari ini. Kemarin dia hanya akan menghubungi Embun lagi setelah dia mengurus semuanya. Tapi hari ini dia segera ingin bertemu Embun.   "Udah makan tuh makan pisang gorengnya. Sekalian bayarin kopi gue ya. Mau cabut nih gue." Badai mengambil tas ranselnya dan segera di selempangkannya. Lalu memberi hormat kepada kedua temannya yang masih terus mengejeknya itu.   ***** Saat Badai sampai di depan pintu rumah Embun. Wanita itu sedang ada pasien. Dan terpaksa Badai harus menunggu di ruang tamu. Karena terlalu lelah akhirnya dia tertidur.   Suara langkah kaki membuat Badai membuka matanya dan menatap Embun yang kini sudah tampak segar itu.   Embun duduk di sofa di depannya dan masih menatapnya.   "Masih ada pasien?" Badai menguap sekali lagi dan menatap jam yang melingkar di tangannya. Sudah sore rupanya, sepertinya dia tidur beberapa jam di sini.   "Sudah pulang. Jadi kenapa kamu ke sini?"   Badai langsung menegakkan tubuhnya dan kini menatap Embun dengan malas.   "Papaku ingin bertemu denganmu malam ini."   Tentu saja ucapan Badai membuat Embun langsung membelalakkan matanya.   "Memangnya kamu sudah bilang sama orang tuamu?"   Badai langsung bersedekap dan kesal melihat Embun saat ini. Kenapa juga dia lelah- lelah menemui Embun kalau tanggapan Embun seperti itu.   "Kamu ini sebenarnya sehat gak sih? Kemarin siapa yang minta dinikahin? Padahal aku juga gak hamilin kamu, gak ambil kesucian kamu."   "Jaga bicaramu ya!"   Embun langsung membentaknya dan membuat Badai berdecak sebal.   "Jadi bekerjasama lah. Aku butuh memenuhi janjiku untuk menikahimu dan kamu butuh aku untuk melindungimu dari Iwan. Jadi imbang kan?"   Embun langsung menatapnya. Tapi kali ini wanita itu tidak menatapnya dengan marah.   "Maaf. Iya aku butuh itu. Iwan pagi tadi ke sini lagi, dan tadi Wanda menelepon aku dan menangis karena Iwan tetap ingin  kembali kepadaku."   Badai kini mengibaskan tangannya. "Aku tidak mau mendengar dramamu itu. Salah sendiri pria macam Iwan kamu kasih hati."   Badai kini menguap lagi. Dia masih mengantuk sebenarnya.   "Lalu kita menikah begitu saja?"   Pertanyaan Embun membuat Badai langsung mengangguk.   "Iyalah. Memangnya kamu mau aku melamarmu, memberimu cincin atau ehmm...."   Embun menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Badai.   Tapi Badai sudah berdiri. Ingin segera mengakhiri semua ini.   "Udahlah nanti juga mamaku yang akan urus semua. Sekarang ikut aku ke rumah. Kalau di tanya kenapa kita akan menikah bilang saja kamu jatuh cinta kepadaku saat aku menyelamatkanmu."   Tentu saja hal itu membuat Embun langsung berdiri dan menatapnya dengan sebal.   "Aku tidak jatuh cinta kepadamu."   Badai kembali mengibaskan tangannya dan menyeringai.   "Cepat atau lambat juga kamu akan jatuh cinta kepadaku. Tidak bisa beralih dari pesonaku pasti."   Badai langsung berbalik dan meninggalkan Embun yang entahlah di belakangnya mengatakan apa. Dia sudah puas membuat wanita itu tidak bisa berkutik.   *****   "Nama yang cantik ya Embun. Jadi kalian bertemu saat Badai menyelamatkan dari kebakaran Minggu lalu itu?"   Suara manis mamanya membuat Badai memutar bola matanya. Mamanya pasti menggodanya.   "Iya Tante." Embun sejak di ajak ke sini, tampak sangat diam dan gugup. Wanita itu hanya terus menunduk saat mereka akhirnya bertemu dengan kedua orang tuanya dan juga Kak Aya.   "Bidan ma Embun ini. Aya aja periksa di sana."   Tentu saja Cahaya langsung ikut makan malam itu. Kakaknya itu terlalu senang dengan pertemuan ini.   Embun tampak terkejut dengan kemunculan Kak Aya di ambang pintu. Dia yang baru saja datang langsung melangkah menuju meja makan. Dimana Badai, Embun, papanya dan juga sang mama sudah duduk di sana.   "Hei sayang. Baru datang ya?" Mamanya langsung mengecup lembut pipi Kak Aya. Dan  kakaknya itu beralih ke papanya yang langsung memeluknya. Selalu sang papa terlalu menyayangi kakak perempuannya itu. Kadang Badai merasa iri.   "Kakak kamu?" Bisikan itu membuat Badai beralih ke Embun yang duduk di sebelahnya. Dan Badai langsung teringat bagaimana Embun mengira Cahaya adalah wanita yang di hamilinya.   "Iyalah kakakku. Emang kamu pikir siapa? Owh aku mengerti di kira..."   Badai langsung tertawa terbahak dan membuat kedua orang tuanya dan Aya menatapnya. Sedangkan pipi Embun sudah merona merah.   "Kak Aya sini deh. Ini kamu tuh dikira Embun kekasihku coba? Dikiranya saat kemarin periksa itu aku bawa cewek yang aku hamilin."   Tentu saja Embun langsung melotot kepadanya dan menepuk lengannya agar Badai berhenti mengejeknya.   Cahaya yang sudah duduk di depan mereka tersenyum.   "Ah manisnya. Embun kamu cemburu ya. Manis deh."   Cahaya malah mengatakan itu dan membuat Embun langsung menunduk dengan malu.   "Jadi kalian memang saling mencintai kan? Papa hanya ingin tahu kalau pernikahan ini tidak ada indikasi lainnya? Benar kan Badai? Kamu mencintai Embun?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN