16 m***m

1068 Kata
Badai menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk yang tengah di hias sedemikan rupa dengan tebaran bunga-bunga mawar di atas seprai Putih itu.   Seperti kamar pengantin biasanya. Badai hampir memejamkan matanya. Terlalu lelah hari ini. Baru saja teman-temannya berpamitan, tapi masih banyak tamu dari keluarganya yang belum pulang. Asyik bercengkerama di taman.   Setelah membawa Embun kembali ke kerumunan keluarganya, Badai tidak bertemu dengan Embun lagi. Wanita itu sudah di sita oleh keluarganya. Biasanya keluarga besarnya memang menceritakan apapun itu kepada anggota baru di keluarga.   Suara pintu terbuka membuat Badai membuka matanya. Dia melihat Embun masuk ke dalam kamar itu dengan ragu-ragu. Wajahnya juga terlihat begitu lelah.   "Aku di paksa masuk ke sini."   Suara Embun yang tampak takut-takut itu membuat Badai tersenyum. Dia menegakkan tubuhnya dan kini duduk di atas kasur. Lalu menepuk sisi di sebelahnya.   "Come here!"   Badai meminta Embun untuk duduk di sebelahnya. Tapi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya. Badai mengangkat alisnya.   "Jangan bilang kamu mau menunda malam pengantin kita? Aku tidak punya kesabaran kalau soal itu."   Tentu saja masalah seks dan cinta itu bisa di kesampingkan. Dia pria normal. Jadi tidak mau mengesampingkan masalah ini. Toh walau Embun bukan seleranya dalam tanda kutip. Badai juga tetap akan melaksanakan malam pernikahannya. Malam pertama. Bukankah itu bonus karena dia sudah mengorbankan diri untuk masuk ke dalam belenggu pernikahan ini.   Embun langsung melangkah dengan gaun pengantinnya yang membalut tubuh Embun menjadi  lebih terlihat seksi itu.   "Jangan m***m ya Dai. Kita tahu kamu dan aku itu menikah karena terpaksa. Dan kita tahu kamu tidak suka denganku karena aku jelek. Jadi kamu mau bercinta dengan istri jelekmu?"   Sindiran Embun membuat Badai menggelengkan kepalanya dan kini menyeringai lebar.   "Hei kamu kan istriku sekarang. Menurutku kamu hari ini terlihat lebih baik daripada biasanya jadi yah ini kan hari istimewa kita. Aku masih perjaka loh, masa kamu gak mau...aduuuhh.."   Badai mengusap kepalanya yang terkena lemparan bantal dari Embun.   "Jangan ngaco deh Dai. Aku lelah dan mau mandi."   Badai memberengut mendengar ucapan Embun. Tapi dia membiarkan Embun langsung masuk ke dalam kamar mandi.   "Ah woman. Shy shy cat deh."   Badai langsung berbaring di atas kasur lagi dan tersenyum.   "Ehm tapi ini tidak buruk. Pantas saja papa dan opa memaksaku untuk menikah. Kalau begini aku pasti sudah menikah dari dulu."   Badai menggumam sendiri. Kini kedua lengannya terlipat di balik kepalanya.   "Wah tapi aku pasti sudah terkena mantra dari penyihir itu. Owh ampun."   Badai mengusap wajahnya lagi. Lalu terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Kamar mandi yang ada di seberang kasur itu tentu saja langsung terlihat oleh Badai.   Dia mengangkat alisnya melihat Embun keluar dan hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi tubuhnya itu.   Badai langsung beranjak bangun lagi.   "Wooooww kamu sudah berubah pikiran? Sini sayang."   Badai merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Embun. Tapi tatapan galak kini terlihat dari wajah Embun.   "Jangan macam-macam. Aku hanya lupa membawa baju untuk ganti."   Embun hanya mengatakan itu tapi tidak beranjak dari depan pintu kamar mandi. Wajahnya pun tampak ketakutan dan mendekap handuk itu erat-erat.   Badai tersenyum lagi melihat tubuh mulus Embun terpampang di depannya.   "Mau ambil baju? Kenapa tidak kamu ambil sendiri? Sama Mbok Yem baju-bajumu sudah di masukkan ke dalam lemari."   Badai menunjuk lemari baju di samping ranjang. Tapi Embun langsung menggeleng.   "Enggak mau. Aku harus berjalan ke sana dan memberikanmu pemandangan yang...ah"   Embun menunjuk kondisi tubuhnya yang hanya terbalut handuk itu.   Badai tertawa mendengar ucapan Embun. Dia suka melihat Embun yang terpojok dan tidak bergerak di depan sana.   "Wow kamu takut sayang? Kemana sikap pemberanimu selama ini?"   Badai menunjuk Embun dengan mengejek. Embun tampak merona dan kini menatap kesal kepadanya.   "Badai! Aku kedinginan ini."   Badai menyeringai lagi. Lalu menepuk sebelahnya.   "Aku bisa menghangatkanmu. Sini."   Embun tampak menatapnya tak suka. Dengan merapatkan handuknya lagi. Embun tampak melangkah perlahan. Terlalu hati-hati. Sehingga membuat Badai tertawa lagi.   "Kenapa harus ganti baju segala karena nanti malam aku juga yang akan menghilangkan pakaianmu."   Embun tak menjawab dan terus melangkah menuju lemari pakaian. Dengan cepat setelah sampai di depan lemari Embun langsung membukanya.   Badai sendiri sudah tidak bisa menyembunyikan gairahnya melihat tubuh Embun yang tampak menggoda itu. Badai segera beranjak dari atas kasur dan melangkah mendekati Embun yang masih sibuk memilih pakaian.   "Hai,..."   "Astaga!"   Embun benar-benar terkejut saat Badai menepuk bahunya sehingga membuat wanita itu berjenggit dan berteriak.   "Memangnya aku menakutkan?"   Badai menyentuh kedua bahu Embun dan kini membalikkan tubuh istrinya itu sehingga mereka berhadapan.   "Badai bisa minggir gak?"   Suara Embun bergetar dan dia yakin kalau Embun gugup berada di depannya.   "Enggak mau."   Badai menggelengkan kepalanya dan kini menggoda Embun lagi. Lalu menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka.   "Aku akan membuatmu.."   Tapi tiba-tiba tubuhnya terdorong dan seketika Embun berlari meninggalkannya.   Badai tertawa lagi melihat Embun yang dengan cepat sudah masuk ke dalam kamar mandi lagi. Sungguh kenapa semua ini menyenangkan?   *****   Mungkin karena Badai yang terlalu lelah atau Embun yang terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Akhirnya dia tertidur. Dan saat membuka matanya dia mengerang karena merasakan hangatnya sinar mentari membelai wajahnya.   "Kenapa hari sudah pagi?"   Badai mengusap wajahnya lagi.   "Karena kamu tidurnya terlalu pulas semalam. Udah ya aku mau ke klinik ada panggilan mendadak."   Badai langsung menoleh ke arah suara itu. Dan melihat Embun yang seperti biasanya. Memakai baju membosankan itu.   "Kamu mau kemana?"   Embun masukkan ponsel ke dalam tasnya dan kini beranjak berdiri dari kursi yang ada di depan meja rias.   "Ke klinik. Ada pasienku yang butuh bantuan ku saat ini."   Badai langsung mengerang lagi.   "Kamu ini membosankan. Ini kan hari pernikahan, atau katakanlah hari bulan madu kita. Aku saja cuti kenapa kamu tidak ambil cuti juga?"   Embun hanya mengangkat bahu dan segera melangkah menuju pintu kamarnya.   "Eh wait. Aku antar kamu."   ****   "Kenapa gak mandi?"   Embun meliriknya dengan kesal saat mereka akhirnya sampai di dalam mobil. Badai memang hanya sikat gigi, cuci muka dan berganti baju.   "Kan kamu buru-buru."   Jawabannya membuat Embun mendengus kesal.   "Yah nikah sama playboy yang banyak di gilai cewek ternyata membuat kecewa. Kamu jorok."   Badai tersenyum lagi. Dia membelokkan mobilnya menuju klinik tempat praktek Embun.   "Kan kamu yang tahu rahasiaku. Itu tidak masalah. Selama aku masih ganteng dan menggiurkan itu sah-sah saja."   Badai menghentikan mobilnya dan kini menoleh ke arah Embun lalu mengerlingkan matanya.   Embun tentu saja menatapnya dengan galak. Tapi Badai menyentuh lengannya saat Embun akan membuka pintu.   "Wait. Ciuman selamat paginya dong."   Badai menyentuh pipinya membuat Embun mengangkat tangannya.   "Mau aku tampar lagi?"   Badai menggeleng dan tersenyum tapi kemudian memajukan tubuhnya untuk mendekati Embun. Membuat wanita itu terpojok menempel di pintu.   "Aku yang akan menciummu kalau begitu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN