Saingan

1634 Kata
Selamat membaca~ - Jam pulang sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu, tapi Allana, Lisa, Reza, dan Athalla belum juga pulang. Reza masih berusaha mencari jalan keluar, untuk membawa motor Athalla pulang. Karena Athalla saat ini tidak bisa mengendarainya. Dan jika Reza mengendarai motor milik Athalla, tidak ada yang menyupir mobilnya untuk mengantarkan Athalla pulang. “Lo emang gak bisa Al bawa mobil?” tanya Reza pada Allana yang tengah bersandar di mobil Reza.           Allana menggeleng. “Gue pegang kunci mobil aja langsung disuruh balikin.” Jawab Allana dengan menatap Reza dengan wajah datar.           Reza mendengus frustasi. Lisa? Bahkan Reza tahu kalau Lisa buruk dalam menyetir. Siapa yang harus membawa mobil, jika Reza menaiki motor Athalla.           Disaat mereka sedang berpikir, walaupun Allana dan Lisa tidak ikut berpikir. Ada seorang lelaki yang berjalan mendekati mereka. “Tha, kaki lo gimana?” tanya lelaki bertubuh hampir seperti Athalla namun sedikit pendek.           Athalla tersenyum, “Gue gapapa kok.” Jawab Athalla.           Allana yang tampak asik bersandar pada mobil sambil bermain gadgetnya, dikejutkan dengan suara lelaki yang menyapanya dari dekat. “Hai Al.” Sapa lelaki yang menyakan keadaan Athalla tadi.           Allana yang merasa namanya dipanggil pun, mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang menyapa.           Allana tersenyum, sebelum akhirnya membalas sapaannya. “Hai Ky.” Lelaki itu bernama Rifky. Rifky tampak tersenyum saat Allana membalas sapaannya tadi. “Lo apa kabar?” tanya Rifky pada Allana.           Allana menatap Rifky dengan bingung. Apa maksud pertanyaannya. “Kita bahkan satu sekolah. Ngapain nanyain kabar?” balas Allana.           Rifky mengangguk sambil terus tersenyum kearah Allana yang menatapnya biasa. “Gue cuma mau tahu kabar lo aja.” Ucap Rifky dengan senyumnya.           Disisi lain, Athalla menatap Rifky dengan tatapan penuh pertanyaan. Apa Rifky dekat Allana? Kenapa Rifky terus tersenyum pada Allana? Pertanyaan semacam itu terus bergelud dipikiran Athalla.           Reza yang sedari tadi sibuk mencari bantuan pun, akhirnya lega karena ada teman teamnya disini. Rifky. “Ah, Ky untung ada lo.” Ucap Reza yang tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan Allana dan Rifky. “Emang kenapa?” tanya Rifky dengan mengalihkan pandangannya kearah Reza. “Gini, gue minta tolong sama lo buat bawa mobil gue ke rumah Athalla. Karena gue bawa motornya si Athalla.” Ucap reza menjelaskan.           Sebelum mengangguk setuju, Rifky tampak main mata dengan Allana yang sibuk lagi dengan ponselnya. “Sini kunci lo.” Ucap Rifky.           Reza pun memberikan kunci mobilnya pada Rifky. Rifky pun mulai berjalan untuk duduk dikursi kemudi, sedangkan Reza sedang membantu Athalla untuk berjalan.           Reza sempat berhenti karena ingin membukakan pintu mobil bagian depan untuk Athalla, tetapi Athalla menolak. “Gue duduk dibagian belakang, sama Ana.” Ucap Athalla yang langsung diangguki oleh Reza.           Saat Athalla sudah berada didalam mobil dengan Rifky, Lisa pun menarik Reza untuk ikut naik motor dengannya. “Ngapain kamu naik motor? Mataharinya lagi terik.” Ucap Reza yang tidak memperbolehkan Lisa ikut dengannya.           Lisa menggeleng, “Udah gapapa. Lagian ya kalau aku iku naik mobil, suasananya bakal hening.” Ucap Lisa pada Reza.           Reza tidak tahu maksud dari perkataan Lisa soal keheningan tadi. “Kenapa hening? Bukannya Allana tadi udah kenal sama Rifky? Terus ada Athalla juga disana, kan Cuma kamu yang belum seberapa deket.” Jawab Reza.           Lisa terus saja menggeleng. “Kamu akan tahu suatu saat nanti.” Jawab Lisa lalu meninggalkan Reza yang berada dibelakangnya. ****           Benar apa yang dikata Lisa, suasana di  dalam mobil Reza saat ini sangat hening. Orang yang berada didalamnya sedang bergelud dengan pemikirannya masing-masing.           Mata elang milik Athalla terus saja mengawasi mata Rifky lewat kaca tengah mobil. Entah mengapa, ada perasaan yang mengganjal saat melihat sikap Rifky ke Allana tadi.           Allana yang duduk disamping Athalla pun tidak banyak bicara. Allana sedari tadi sangat fokus dengan layar ponsel dan earphone yang menggantung ditelinganya.           Sudah merasa lelah, Allana pun melepas earphone dan menaruh ponsel beserta earphonennya didalam tas. Setelah tidak disibukkan oleh apapun, Allana tetap saja diam dan lebih memilih untuk tidur.           Athalla yang masih fokus dengan kaca tengah, dikejutkan oleh sesuatu keras yang menghantam pundaknya dengan perlahan. Athallan pun menoleh dan mendapati Allana yang sedang tertidur dengan pulas.           Perlahan, Athalla membenarkan posisi duduknya supaya Allana bisa nyaman. Athalla tersenyum tipis saat melihat wajah polos Allana yang tertidur dengan pulas. Athalla mengarahkan tangan kirinya untuk membenarkan rambut Allana yang menutupi wajahnya. “Seberapa dekat, lo sama Allana?”           Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan Athalla. Ya, Rifky yang berbicara tadi. “Sedekat nadi?” jawab Athalla dengan menatap mata Rifky lewat kaca tengah mobil.           Athalla dapat melihat reaksi yang diberikan oleh Rifky saat mendengar pernyataan Athalla. Rifky mengangguk-anggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis. “Allana bukan tipe cewek yang gampang buat di dekati.” Lanjut Rifky seolah memperingatkan Athalla. “Gue tahu.”           Entah mengapa, rasa cemburu datang pada diri Athalla saat Rifky membicarakan hal tentang Allana. Seolah Rifky tahu sesuatu hal yang tidak Athalla tahu dari Allana. “Menurut lo, hal apa yang paling disukai Allana?” tanya Rifky.           Athalla merasa bingung saat Rifky tiba-tiba memberinya pertanyaan seperti itu. Apa yang harus Athalla jawab? Athalla dan Allana dekat hanya sebagai teman, bahkan sebagai teman pun Athalla tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya hal-hal yang mendalam.           Athalla diam untuk beberapa saat. Diam, bukan berarti Athalla menyerah, tetapi sedang berpikir hal apa yang sangat disukai Allana.           Selang beberapa detik, suara tawa terdengar. Namun bagi Athalla itu adalah tawa mengejek. “Polaroid.” Ucap Rifky disela tawanya. “Allana paling suka sama polaroid,”           Ini memang patut untuk dicurigai. Athalla semakin penasaran dengan kedekatan antara Rifky dan Allana, saat Rifky dapat mengetahui hal-hal mendalam tentang Allana. “Kalau menurut lo, gue bohong. Lo bisa tanya ke dia, atau masuk ke kamarnya.” Lanjut Rifky yang matanya terus fokus pada jalan raya.           Sial. Athalla merasa kalah dengan Rifky untuk saat ini. **** Mobil sudah berhenti, namun Allana tak kunjung bangun. Reza sudah berada diluar mobil untuk bersiap menopang tubuh Athalla masuk kedalam rumah. Saat Reza membuka pintu mobil bagian belakang, Rifky juga mulai turun dari kursi kemudi, menuju kursi belakang, tempat Allana tidur. Athalla melihat setiap pergerakan dari Rifky, dan itu membuat Athalla jengkel. Saat Reza ingin mengambil lengan kiri Athalla, Athalla pun menolak. “Gue bisa jalan sendiri. Mending lo gendong Allana masuk kedalam rumah.” Ucap Athalla pada Reza. “Jangan ngaco. Jalan masih belum becus, minta jalan sendiri. Lagian ada Rifky yang bisa gendong Allana.”  Ucap Reza yang menolak perintah Athalla. “Dia buru-buru mau pergi.” Jawab Athalla asal.           Reza mengernyitkan dahinya. Ia merasa ada hal aneh yang terjadi antara Athalla dan Rifky. “Emang lo mau kemana?” tanya Reza pada Rifky.           Rifky menggeleng menandakan bahwa yang diucapkan Athalla adalah bukanlah hal yang benar, Athalla pun menatap tajam Reza.           Reza pun mulai membopong tubuh Athalla untuk keluar dari mobil. Tubuh Athalla menolak saat Reza menyuruhnya untuk jalan dengan perlahan. “Tunggu Rifky jalan dulu.” Ucap Athalla dengan kedua matanya yang masih mengawasi pergerakan Rifky.           Reza menggeleng tidak percaya melihat tingkah Athalla yang berubah 99 derajat dari biasanya. Reza pun segera menyuruh Rifky untuk menggendong Allana masuk kedalam rumah Athalla terlebih dahulu.           Setelah Rifky berjalan mulai berjalan, Athalla pun ikut berjalan dengan perlahan dengan bantuan Reza. Disisi lain, Lisa sedang menatap Allana dengan getir. “Allana b**o banget sih.” ****           Rifky pun menidurkan tubuh Allana diatas sofa dengan perlahan. Tatapan mata Athalla tidak berpindah sedikitpun dari gerak gerik Rifky sedari tadi. Lisa yang melihat perang tatap antara Athalla dan Rifky hanya bisa menggigit jari, sedangkan Reza hanya berdiam diri karena tidak mengetahui apapun. “Thanks ya bro.” Ucap Reza mengucapkan terima kasih karena sudah mau membantunya.           Rifky mengangguk sembari tersenyum. “Sama-sama.”           Reza pun berdiri dan berjalan menuju dapur rumah Athalla. Jangan berpikir kalau Reza tidak sopan, karena sudah biasanya Reza seperti ini saat dirumah Athalla. “Mau kemana lo?” tanya Athalla saat melihat Reza beranjak pergi. “Ambil minum bego.” Jawab Reza.           Lisa yang berada diantara kedua orang yang sedang berperang tatap pun, akhirnya memilih untuk menyusul Reza dan membantunya untuk membuat minuman. “Kamu ngapain kesini?” tanya Reza saat Lisa membantu Reza untuk membawa gelas. “Males aja disana.” Jawab Lisa. “Terus Allana gimana? Kalau dia dicabuli sama mereka gimana?” tanya Reza yang membuat Lisa mendengus kesal. Pasalnya pertanyaan Reza sama sekali tidak masuk akal. “Mereka gak akan lakuin itu.” Jawab Lisa dengan datar.           Reza mengangguk setuju. Reza pun mulai berjalan kesana kemari untuk mengambil sirup, gula, dan es batu. Berbeda dengan Lisa yang hanya berdiam diri bersandar di pantri. “Za,” panggil Lisa disela-sela kesibukan Reza.           Reza hanya berdehem menjawab panggilan dari Lisa. “Kenapa tatapannya Rifky ke Athalla kayak gitu?” tanya Lisa yang tidak dimengerti Reza. “Maksud kamu?” “Kamu tahu tatapan tajam kan? Kayak ada yang Rifky gak suka dari Athalla, dan sebaliknya.” Jelas Lisa.           Reza diam untuk beberapa saat. Seperti ada hal yang ingin membuat Reza bungkam. “Apa kamu tahu?” tanya Lisa sekali lagi, saat Reza tidak kunjung menjawab.           Reza masih tidak menjawab. Reza sibuk dengan sendok yang dipegangnya untuk mengaduk gula, dan memasukkan es batu kedalam masing-masing gelas.           Setelah selesai dengan esnya. Reza menghadapkan badannya kearah Lisa yang sedikit melamun. Saat Lisa sadar dengan tatapan dan arah badan Reza yang menghadapnya, Lisa sempat terkejut.           Reza menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sambil berkata, “Mereka rival dari dulu.”           Lisa tercengang dengan jawaban Reza barusan. Apa yang harus dilakukan Allana saat mengetahui ini. Ia harus berhubungan dengan kedua lelaki yang bahkan tidak menyukai satu sama lainnya.           Reza pun membawa nampan yang berisi gelas minuman tadi menuju ruang tamu Athalla, dimana ada Athalla, Rifky, dan Allana disana. Lisa pun segera menyusul Reza, saat Reza sudah berjalan pergi meninggalkannya lebih dulu.           Langkah kaki Lisa terhenti saat melihat Allana yang sudah bangun dan duduk diantara Athalla dan Rifky yang keduanya masih sibuk dengan perang tatap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN