BAB 24 - shoulder to cry on

1824 Kata

Bram menatap nanar pencopet yang berhasil melarikan diri sambil membawa tas Clarinta, rahangnya mengeras, rasa kesal karena tidak bisa membekuk sang pencopet, menyeruak dalam hati. Dari arah café tiba-tiba Alexandra, sepupunya menghampiri laki-laki itu bersama seorang perempuan yang tidak Clarinta kenal. "Bram, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Laki-laki yang mengenakan celana jeans dan kaos polos warna biru laut itu cuma meringis sedikit sambil melihat lukanya di lengan. Saat itu Clarinta berdiri agak menjauh darinya, Bram mengangguk dan menatapnya tajam, gadis itu seakan-akan tahu kalau dirinya diminta mendekat, Clarinta segera menghampiri sang suami. Namun, perempuan asing yang sepertinya juga sama seperti dia yang berasal dari Indonesia kelihatan sangat khawatir dengan kondisi Bram, terlih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN