Om Permadi teringat peristiwa 18 tahun silam ketika Bachtiar memutuskan menikahi Marina--sekretarisnya. “Bachtiar, kamu gila! Anak yang dikandungnya itu bukan anakmu! Kenapa kamu mau menikahinya? Pakai otak warasmu!” tanya Permadi heran. “Aku kasihan padanya, Di! Dia telah diperkosa oleh orang yang nggak dia kenal dan sekarang dia hamil akibat perbuatan orang itu. Kalau sampai nggak ada yang menyelamatkannya, dia bisa depresi!” sahut Bachtiar resah. “Tapi kenapa kamu yang harus berkorban untuknya? Bagaimana perasaan Sasikirana dan anak-anakmu kalau mereka tahu semua ini?” “Jangan kau katakan apapun pada mereka! Aku mohon! Ingat itu!” Ucapan Bachtiar, 18 tahun yang silam masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Lama Om Permadi terdiam sambil menatap ke surat bersegel tersebut. Dihelanya

