Clarinta menghentikan tariannya dan mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang sakit luar biasa. Mutya yang menemaninya sedari tadi jadi panik dan bingung, "Kay, kamu kenapa?" "Perutku sakit sekali, Mut." Clarinta menekan perutnya sambil menahan sakit. "Lebih baik kita duduk dulu," pinta Mutya sambil membimbing perempuan itu duduk di bangku panjang yang ada di sanggar tari. Clarinta menuruti anjuran Mutya. Saat hendak menuju ke kursi, tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang mengalir dibetis. Dihentikan langkahnya dan dilihatnya ada darah yang mengalir dibetis. Mutya yang juga ikut melihatnya jadi semakin panik dan kaget. "Kay, kamu berdarah? Kamu harus ke dokter!" "Yuhuu! What happen hunny binny witty?" Suara Sonya terdengar menggelegar begitu memasuki sanggar tari. "Sonya, k

