Pagi hari Liana terkejut saat mendapati wajah tak asing menunggu dirinya di ruang tunggu. Biasanya ruang dengan meja dan kursi hanya untuk pertemuan pengacara dan client, selebihnya napi hanya akan mendapatkan kunjungan dari bilik yang terpisahkan oleh kaca. Namun Liana heran saat mendapati bahwa yang menunggu dirinya di ruang ini bukanlah Daren pengacaranya.
Lelaki ini hampir sama tingginya dengan Daren, memiliki potongan rambut yang lebih rapi dan wajahnya jauh lebih dingin dari Daren. Siluet pria itu tampak sangat familier untuk Liana. Saat pria ini membuka kacamata hitamnya, Liana merasakan jantungnya berhenti berdetak.
“K-kamu?”
Aaron menarik senyuman dengan garis tipis, “Iya ini aku, maaf terlambat datang.”
Liana mencoba mencubit pahanya, ia merasa seperti bermimpi tapi saat ia merasakan sakit Liana sadar bahwa dia sedang tidak bermimpi. Melihat pria ini reaksi tubuh Liana menggigil, ia mengeluarkan keringat dingin saat kilatan malam pertama dengan pria itu mulai berdatangan. Meski merasa tubuhnya seketika lemas, tapi ia harus tetap kuat. Bagaimana pun hanya pria ini yang bisa membantunya.
“Aku Aaron Smith, apa kamu mengenalku sekarang?”
Ini pertama kali Liana mendengar nama itu, walau ia merasa sedikit tak asing dengan nama itu. Meski begitu ia tak bisa mengingat kapan ia pernah mendengarnya .
“Apakah, Daren sudah menghubungi Anda Tuan Smith?” tanya Liana dengan bibir bergetar, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlihat gugup.
“Apakah hubungan antara pengacara sedekat itu hingga kamu sudah memanggilnya dengan nama panggilan?” tanya Aaron dengan wajah gelap, ada rasa cemburu yang menusuk hatinya saat mendengar Liana menyebut namanya dengan panggilan ‘Tuan Smith’ tapi menggunakan panggilan yang akrab dengan Daren.
“Kami bukan hanya client, tapi juga teman.”
“Baguslah jika hanya teman.”
Liana memiliki wajah rumit saat menatap Aaron, ia tak mengerti dengan maksud perkataan Aaron.
“Tuan Smith,-“
“Panggil aku Aaron,” sela Aaron sebelum Liana sempat menyelesaikan perkataannya.
Liana sempat terdiam sesaat, “Aaron, aku ingin meminta,-“
“Aku tahu,” sela Aaron kembali, “Aku tahu apa yang ingin kamu katakan.”
Aaron mengeluarkan berkas dan mendorongnya tepat di depan Liana. Ekspresi wajah Liana berubah menjadi kosong, ia bingung dengan maksud dari Aaron memberikan dokumen untuknya. Saat ia melihat tulisan besar di atas kertas itu, ia merasakan jantungnya seolah baru saja di tembak.
“Apa maksudnya dengan proposal pernikahan ini?”
“Aku akan bersaksi untukmu jika kamu bersedia menandatangani ini. Aku juga akan merahasiakan transaksi kita malam itu dan mengatakan bahwa kita menghabiskan malam sebagai sepasang kekasih.”
Liana merasa sakit kepala secara mendadak, ia memijat pelipisnya. Ia berpikir keras untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, apakah pria ini merasa malu karena sudah tidur dengan wanita yang bukan istrinya sehingga memikirkan ide ini. Mungkinkah ia merasa bahwa harga dirinya akan jatuh dan merusak reputasi keluarganya.
Liana menghela nafas dan mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan pendapatnya, “Pada jaman sekarang sangat umum sepasang kekasih menghabiskan malam bersama, tidak perlu untuk membuat pernikahan palsu hanya untuk bersaksi pada kasusku.”
Aaron tampak tak terpengaruh dengan pernyataan Liana, ia justru merogoh pena mahal di saku jasnya dan menaruhnya di atas dokumen.
“Aku melakukan kesalahan saat itu hingga mengatakan banyak hal buruk padamu. Izinkan aku menebusnya dengan memperlakukan dirimu sebaik mungkin hingga sisa hidupku.”
Liana memastikan bahwa tidak ada yang salah dalam pendengarannya, tapi apakah hanya untuk alasan itu pria ini mengorbankan dirinya dalam status perkawinan hanya untuk menebus kesalahan.
‘Tidak sepertinya ada sesuatu yang salah.’
“Aaron, aku tidak menyalahkanmu dalam hal itu. Lagi pula aku memang melakukannya demi mendapatkan uang.”
“Tidak!” pekik Aaron, jemarinya menjadi gemetar mendengar hal itu. Ia sadar dulu pernah mengira Liana pela*ur karena bersedia tidur dengannya untuk uang.
“Aku tahu, kamu tidak punya pilihan lain waktu itu untuk mendapatkan biaya operasi Lucy.”
Liana menyipitkan matanya, ia terkejut bahwa pria ini mengetahui tentang Lucy.
“Bagaimana kamu mengetahui tentang Lucy?”
“Aku adalah Dokter yang sudah melakukan operasi transplantasi jantungnya waktu itu.”
Entah berapa kali Aaron sudah membuat Liana terkejut hanya dalam waktu sepuluh menit hari ini, belum sempat ia menstabilkan emosinya tapi lagi-lagi Aaron mengejutkan dirinya.
“Pantas saja aku seperti pernah mendengar namamu sebelumnya.”
Liana baru ingat bahwa nama Dokter hebat yang sering di bicarakan staf medis adalah Aaron Smith. Meski begitu ia masih tak menyangka dia adalah pria sama yang sudah menghabiskan malam dengan dirinya.
Aaron di sisi lain merasa muram, ia bergumam dalam hatinya, ‘Kita bahkan saling mengenal jauh lebih lama dari yang kamu kira.’
Aaron belum ingin menjelaskan tentang itu, masih ada banyak kesempatan untuk memberi tahu Liana. Tujuan kedatangannya kali ini adalah negosiasi dengan pernikahan mereka. Ia tak ingin kehilangan Liana lagi.
“Menikahlah denganku, aku juga akan merawat jantung Lucy dengan baik.”
Liana tertegun, ia tak mencintai pria di depannya sekarang. Ia tahu betul hatinya mulai tergerak pada Daren, meski itu hanya cinta sepihak baginya tapi bukan berarti ia bisa menikah dengan orang lain yang tak ada di hatinya. Aaron juga merupakan pria yang menjadi trauma tersendiri untuk Liana, melihatnya saja membuat ia teringat malam gelap yang menyakitkan saat itu.
“Waktu berkunjung hampir habis,” desak Aaron.
Liana menatap wajah Aaron dengan ekspresi yang kompleks. Ia tahu Aaron sekarang adalah satu-satunya yang bisa membuat Liana memenangkan kasusnya ia juga Dokter yang bisa merawat Lucy. Meski penuh keraguan dan rasa sakit di hatinya, Liana akhirnya memilih membubuhkan tanda tangan di atas dokumen itu.
"Sampai jumpa lagi istriku! Ingatlah satu hal, bahwa kamu sekarang adalah istri Aaron Smith. Surat pernikahan kita akan dicetak sore ini juga."
Aaron sengaja mengatakan itu untuk membuat Liana menutup harapannya bersama Daren.
"Apakah tak masalah bagimu memiliki istri yang bahkan tak memiliki perasaan untukmu?"
"Tak masalah, itu hanya masalah waktu sampai aku membuatmu jatuh cinta padaku!"
Liana menatap wajah Aaron, sejak pertemuan tiga tahun lalu pria ini masih meninggalkan kesan sama, arogan dan mendominasi.
Aaron meninggalkan ruang pertemuan, Liana menatap punggung bidang pria itu yang perlahan menghilang dari pandangan matanya. Liana mencengkeram dadanya yang terasa sakit, ada rasa bersalah pada Daren yang membanjiri hatinya. 'Jangan khawatir Liana, dia akan meninggalkan dirimu setelah bosan bermain!' batin Liana.