BAB 2. CLARISSA

809 Kata
BAB 2. CLARISSA Suasana dikelas 11 Ipa 2 pun semakin ramai pasca Bu Nida memperkenalkan Clarisa sebagai murid baru. Setelah berkenalan kini ia duduk bersama Putri, mulai bercanda dan ngobrol dengan jihan juga yang duduk didepannya. Sekarang Clarisa dikenal dengan panggilan Risa Cowo-cowo dikelas itupun mulai membicarakan Clarisa yang memiliki paras cantik dan manis serta bentuk tubuh yang bisa dibilang cukup ideal. Clarisa POV Bell istirahat pun berbunyi "Kantin yuk Put, Han, gue udah laper" ajakku setelah mendengar bunyi bell "Yuuuk.." sahut Putri dan Jihan Aku, Jihan dan Putri sudah duduk dibangku kantin sambil menikmati bakso dan es teh. Tiba-tiba dari arah lapangan terlihat Riko, Radit, dan Axel berjalan ke arah kantin. "Risss, Puttt liat tuh, dari arah lapangan ada kakak ganteng abis main baskett ya ampun" tunjuk Jihan ke arah lapangan dengan nada suara yang sedikit meninggi. "Mereka pasti idaman cewe-cewe disini yaaa?" tanyaku penasaran. "Ya gitu deh Ris, itu yang bawa bola basket namanya ka Axel dia agak-agak playboy sih, nah yang tengah itu ka Riko orangnya lucu" jelas Putri sambil melahap makanannya. Tanpa aba-aba suara Jihan pun mengagetkan "Nahhhh.. klo yang itu tuhh yang ga pake dasi itu ka Radit wakil ketos yang paling kecee, kegatengan dan ke-cool an nya nomor 2 disini". "Nomor 2 ? nomor satu nya siapa? Axel? apa Riko?" tanyaku. "Yaaa nomer satunya udah pasti ketosnya lah Riss, dulu gue suka sama dia tapi saingannya jangan tanya Riss, hampir cewe satu sekolah kaliiii" cerocos jihan. "Oh ketosnya? trus yang mana ketosnya?". Putri pun berbisik kearahku. "Ketosnya kaya pangeran riss, jangankan mau ngobrol, mau ketemu aja susah padahal satu sekolah, miriss banget ga sih Riss". "Berarti mereka satu geng? tapi ketos nya jarang gabung gitu?" "Iya gituu, dia ngobrolnya kalo ga sama gengnya, gurunya, keluarganya ya paling sama Ka Zea" "Ka Zea siapa? pacarnya?" tanya ku semakin penasaran. "Bukan, kata orang-orang mereka sahabatan, kak zea satu-satunya cewe yang deket sama Kak Daffa, tapi disekolah jarang keliatan bareng, paling kalo lagi acara kan Ka Zea sekretaris Osis jadi ya ngurusin tugas Osis berdua terus" Setalah mendengar penjelasan dari Putri aku pun mengangguk tanda mengerti. "Ohh namanya Daffa" gumam ku. *** Malam harinya aku hanya menyiapkan beberapa buku dan alat tulis karena memang aku belum menerima tugas apapun karena baru sehari masuk kelas. Aku merentangkan tubuhku dikasur kesayanganku menghadap langit-langit kamar. Tiba-tiba aku teringat Cowo galak yang kemarin diruang guru. "Ko tadi seharian gue ga liat cowo ganteng itu sihh, eh maksudnya cowo galakk ituu" gumam ku membuat ku semakin teringat kejadian kemarin. *** Hari ini freeclass. Aku, Jihan dan Putri berjalan dikoridor kelas 12 untuk nonton latihan paskibra dilapangan. Aku berhenti dan jongkok karena tali sepatu ku terlepas, setelah selesai, aku sedikit berlari mengejar langkah Putri dan Jihan yang sudah lumayan jauh di depan. Tiba-tiba tubuh ku menabarak seseorang yang baru saja keluar dari pintu kelas 12 Ipa 1 "Kaya anak kecil banget sih? ngapain lari-larian dikoridor!? , liat_ kertas gue masuk selokan, jadi kotor, basah udah gitu bau!" bentak kakak itu sambil mengambil kertas yang sudah letoy dan luntur terkena air selokan. Akupun memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku dan melihat ke arah kaka itu. Ternyata dia adalah ka Radit, ka Exel dan ka Riko. "Jir cantik banget dit, jangan dimarahin kasian" bisik ka Riko tetapi suaranya masih bisa terdengar pelan. "iya Dit, busettt tega beneerr lu marahin dede emeshh kaya ginii" ujar ka Axel terang-terangan. Apa sih ko mereka jadi pada diskusi, gue tau mereka ngomongan ke imutan gue ini. Ka Radit pun yang sedari tadi diam mulai mengeluarkan suaranya yang jelas banget tegas trus marah banget. "Ga bisa gitu Xel, Rik! yang namanya salah tetep aja salah, jangan liat tampangnya! masalah nya tu ini kertas kegiatan osis yang baru aja dikonsep semaleman sama Daffa!" ka Radit keliatan benar-benar emosi gara-gara kecerobohan gue. "Matilah gue, dia beneran marah" batin ku. Ka Radit kembali memarahiku dengan muka yang semakin seram. "Ini kalo Daffa tau gimana hah? lo semua mau ngomong apa?? daftar kegiatannya belom sempet diketik, gue juga belom baca semua, deadline woii!" "Stopp! udah Ditt, gausah pake acara bentak-bentak cewe segala, dia ketakutan dia juga udah minta maaf kan, masalah kertas konsepnya kita bisa diskusiin ulang sama Daffa" suara ka Riko yang mencoba memperbaiki keadaan. Beberapa siswa yang berlalu lalang pun berhenti untuk menyaksikan kejadian memalukan ini. Tiba-tiba kakak galak yang kemarin diruang guru sudah berdiri dihadapan kami dengan ekspresi bertanya-tanya. "Hmm.. ini daff, apa, ini ,kertas itu yang tadi, kertas konsep kegiatan osis yang lu kasih ke gue,, udah ancur kena air selokan" ucap ka Radit gelagapan karena tatapan kaka galak itu sangat tajam. "Lo main-main?" sepatah kata yang keluar dari mulut cowo galak itu, eh maksudnya Ka Daffa. ka Axel pun kembali mencoba meredakan situasi ini. "Eh engga Daff, sebenernya yang buat kertas nya ancur yaa cewek cantik ini, tapi dia ga sengaja, udah minta maaf juga kok Daff" "Lo?" tunjuk ka Daffa ke arahku dengan tatapan super tajam tapi tetep dengan gaya coolnya. "Ya Ka, maaffff bangett, kan aku ga sengaja, beneran,seriuss, duariuss, sumpahh Kak" suaraku mulai tertahan dan mataku mulai berkaca-kaca. "Ikut gue!" tanpa aba-aba Ka Daffa langsung menarik tanganku berjalan dengan langkahnya yang cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN