DONGENG NYATA

1477 Kata
“Berhenti mengulur waktu dan beri tahu saja dia secepatnya!” Corn memberi ultimatum. “Aku sudah tidak sabar melihat ekspresi wajahnya saat dia mengetahui kebenarannya. Aku ingin kau menceritakan semuanya, mulai dari bagaimana Nenek sihir itu menghasut para pengawal Raja untuk membunuh istri Langit di masa lalu sampai kesalahpahaman yang terjadi diantara kalian.” “Tidakkah ini terlalu dini?” “Terlalu dini? Setelah kita menghabiskan ratusan tahun untuk semuanya?” Corn jelas marah. “Tuan putri, bukankah kau ingin meluruskan kesalahpahaman dengan caramu sendiri? Pertama kau harus memberitahunya tentang apa yang terjadi, tentang pertemuan pertama kalian, tentang kita yang menjadi tahanan waktu secara sukarela. Semuanya. Semuanya harus kau ceritakan padanya.” “Bagaimana jika dia merasa bersalah?” “Itu sudah seharusnya! Malah jika dia tidak merasa bersalah kau harus mengambil pedang dan menebas lehernya!” ujar Corn menggebu-gebu. “Langit juga berhak mengetahui semuanya karena dia bertanya padamu tentang apa yang terjadi. Dia bukanlah manusia biasa yang sepenuhnya kehilangan ingatan akan kehidupannya yang sebelumnya. Langit Arifan adalah Langit Priyanjani yang sekarang.” Binar ragu. Menurutnya itu tidak adil bagi Langit yang sudah menjalani hukuman atas apa yang dia perbuat di masa lalu, yang egois di sini adalah dirinya. Dirinya yang masih mencintai Langit, dirinya yang sangat mengasihi laki-laki itu dan dirinya yang merasa sangat senang karena bisa berada di dekat pengawal pribadinya itu. “Tapi kau sadar, Tuan putri? Pemicu ingatannya adalah sentuhan. Dia mungkin bukanlah tipe orang yang akan menyentuhmu dengan sengaja hanya karena penasaran dengan kilasan ingatan masa lalu tetapi dia adalah pengawalmu. Kemungkinan bahwa kalian akan saling bergandengan tangan sangat besar, selain itu ... dia juga pelatih bela dirimu.” Ah, benar. “Jadi meskipun kau tidak memberitahunya sendiri, sentuhan diantara kalian akan memberi jawaban yang besar.” Corn sengaja memprovokasi. Bukan karena dia ingin melihat Langit merasakan sakit yang Binar rasakan, melainkan menurutnya sudah cukup usaha Binar untuk melindungi Langit, sudah cukup bagaimana Binar dengan sukarela menjadi tahanan waktu demi bisa bertemu laki-laki yang dicintainya. Selain itu Corn juga khawatir. Dia sangat khawatir karena kehadiran Langit pastinya memancing kehadiran dua tokoh lain yang memiliki pengaruh atas peristiwa terbunuhnya Binar di masa lalu. Jika Selaras Diana sebagai selir Raja terdahulu saja sudah menampakkan diri, maka Fathan—pengawal yang membunuh istri Langit—pasti juga akan muncul sebentar lagi. “Lalu bagaimana lagi?” Binar menghela napas. “Aku benar-benar takut mengatakan apapun—bukan, aku tidak takut tetapi bagaimana, ya?” “Kau jujur saja. Katakan semuanya tanpa membuang bagian apapun.” Corn tetap mendukung agar Binar jujur kepada Langit. “Selir Ayahmu sudah datang dan mungkin orang itu juga akan menunjukkan diri. Langit harus bersiap.” Corn sudah memarahi Binar selama satu tahun. Gadis itu dibuat tidak bisa berbicara oleh hewan peliharaannya, Binar yang selalu menjaga perasaan Langit itu selalu dibuat terlihat bodoh oleh Corn. Tetapi itu memang kenyataannya. Binar memang bodoh, orang bodoh yang mengulang hidupnya selama lima kali hanya untuk bertemu dengan orang yang dia cintai. Orang bodoh yang memilih bereinkarnasi hanya untuk meluruskan kesalahpahaman. Orang bodoh yang rela menjadi tahanan waktu hanya untuk tujuan romansa dengan orang yang sudah membunuhnya. *** Ayahnya, Gibran Rinanjala sedang berada di luar untuk urusan pekerjaan tetapi Binar jelas tidak ditinggalkan dengan Cuma-Cuma. Ada dua dokter yang memantau kondisinya, ditambah Langit yang setia berdiri di belakangnya, mengikuti kemanapun langkah kakinya pergi melewati jalanan penuh bunga yang bermekaran. “Aku tidak tahu kalau bunganya akan seindah ini jika mekar secara bersamaan,” ucap Binar dengan senyum lebar. Dia berjongkok untuk menyentuh bunga berwarna kuning yang menghiasi jalanan di area taman rumahnya. “Meskipun itu hanya satu, yang namanya bunga tetap bermekaran dengan indah,” sambung Langit. Binar menoleh kepada laki-laki itu. “Sekalipun itu beracun?” “Bunga beracun justru cenderung lebih menarik dibandingkan bunga yang tumbuh normal.” Langit tetap berdiri di tempatnya. “Meskipun bunga itu tidak menyajikan harum yang membuat semua orang berdecak kagum sekalipun, dia tetaplah bunga yang tumbuh dengan usaha terbaiknya untuk menjadi indah.” Berdiri, Binar menyilangkan tangan di depan dadanya dan memicingkan mata. “Kau menjadi puitis hari ini.” Langit tersenyum. “Bukankah kamu menyukai saya yang seperti ini?” “Kapan aku mengatakan hal seperti itu?” “Entahlah. Saya tidak ingat kapan tepatnya tetapi seseorang dari masa lalu mengatakannya kepada saya. Dia mengatakan bahwa saya sangat berbakat dan terlihat seperti orang yang puitis—sayangnya dia sangat pemalu sehingga dia meminta bantuan kaki tangannya untuk mengatakannya secara langsung kepada saya.” Binar terkejut tetapi dia berusaha menutupinya dengan sekuat tenaga. “Ah, siapapun itu tetapi dia pengecut sekali. Jika dia mengangumi laki-laki itu bukankah lebih baik dia mendatanginya secara langsung dan menyatakan cintanya? Pengalamanku mengatakan bahwa menunggu itu tidak selamanya indah karena siapa yang tahu kalau orang yang kita cintai mungkin akan menjadi alasan kenapa kita meninggal. Bukankah begitu?” Langit tersenyum kecil. “Mungkin,” jawabnya. Binar membalas senyuman itu, jantungnya berdebar kencang dan dia berusaha menutupi kegugupannya dengan langsung membalikkan badan dan kembali berjalan menelusuri jalanan taman yang dipenuhi oleh bunga. “Kesalahpahaman itu cukup merepotkan, ya?!” Binar berpura-pura bertanya padahal dia ingin mengungkapkan kebenaran yang ditutup-tutupinya tanpa harus menyebabkan kecanggungan dengan melakukan pembicaraan tatap muka. “Kau tahu kisahnya? Ada seorang ksatria yang sangat dikagumi oleh putri mahkota di sebuah kerajaan yang menjadi tempat tinggalnya, kstaria itu sangat kuat dan bijaksana. Seluruh pasukan yang dipimpin oleh ksatria itu selalu kembali dengan kemenangan dan hanya ada sedikit yang terluka ... putri mahkota sebenarnya menyukai ksatria itu.” Langit mendengarkan dengan seksama. “Singkat cerita, dia tahu putri mahkota mencintainya dan karena berpikir bahwa kasta kami berbeda akhirnya dia pergi. Selama berbulan-bulan dia tidak kembali, putri mulai sakit—sangat sakit karena berpikir dia tidak bisa hidup dengan baik diluar sana, karena putri pikir dia—si ksatria tadi mungkin akan menderita karena melepas jabatannya sebagai seorang ksatria. Lucunya, raja yang saat itu menjabat mencari tahu alasan kenapa putrinya tidak kunjung sembuh dan akhirnya dia menugaskan pengawal untuk mencari kstaria itu.” Binar berhenti melangkah, dia sedikit membungkukkan badannya guna memetik bunga mawar merah yang bermekaran. “Tetapi kau tahu apa yang terjadi? Ksatria itu rupanya sudah memiliki istri yang sedang mengandung,” lanjut Binar. “Singkat cerita, selir raja yang sangat tidak menyukai putri mahkota mendengar kabar itu dan menyuruh salah satu pengawal untuk membunuh istri dari ksatria tadi. Dia sengaja melakukannya agar ksatria tadi dendam pada putri mahkota, sebab selir raja itu tahu bahwa raja yang sangat mencintai putrinya akan membuat ksatria tadi menikah dengan putrinya tanpa mempedulikan tingkatan kasta.” “Kenapa putri mahkota mau menikah dengan ksatria yang sudah pernah berumahtangga?” “Pernikahan tidak dilakukan secara langsung. Ada jeda waktu dan selama itu ksatria tadi merencanakan balas dendam karena dia berpikir putri mahkota lah yang memberi perintah kepada pengawal kerajaan untuk membunuh istri dan anak dalam kandungannya. Pada akhirnya sang putri berpikir bahwa ksatria itu menikah dengannya karena rasa cinta.” “Bukankah sang putri mahkota terlalu naif?” Binar terkekeh. “Lebih tepatnya terlalu bodoh,” katanya. “Tetapi siapa yang bisa menyalahkan atau mengatakan apapun jika alasannya adalah cinta? Pada akhirnya kisah itu berakhir dengan kesimpulan bahwa sang putri mahkota mencintai ksatria tadi. Sangat.” “Pada akhirnya—” “Dia terbunuh di tangan suaminya sendiri, pada malam pertama setelah pernikahan mereka dengan sebuah pedang tajam yang ditusukkan ke dalam perutnya.” Binar melirik Langit. “Tetapi kau tahu apa yang dilakukan sang putri mahkota? Dia menahan diri untuk tidak meringis atau menimbulkan suara-suara yang mungkin akan menimbulkan kecurigaan. Dia tidak ingin suaminya ditangkap karena membunuhnya dan dia juga tidak ingin meninggal tanpa mengamati wajah yang sangat dicintai itu terlebih dahulu. Dia ... sangat bodoh, bukan?” “Hm. Sangat.” “Ya, sangat bodoh. Tetapi kau tahu apa yang lebih bodoh lagi?” Binar benar-benar menatap Langit. “Fakta bahwa putri mahkota itu memanjatkan keinginan kepada semesta agar dia dan suaminya dipertemukan kembali adalah kegilaan yang cukup dilakukan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta. Sang putri memilih menjadi tahanan waktu dan bereinkarnasi berkali-kali hanya untuk mencari suaminya di dunia ini.” “Sudah berapa kali reinkarnasi?” “Di dalam kisah disebutkan bahwa sang putri melakukan lima kali reinkarnasi sampai dia bisa bertemu dengan suaminya.” “Berapa lama itu?” “Ratusan tahun atau bahkan hampir ribuan tahun lamanya.” Langit menatap mata Binar. “Bukankah itu harga yang sangat mahal hanya untuk menemui seorang pembunuh?” “Siapa yang bisa menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta, Langit Priyanjani? Bagi sang putri dia sedang menunggu suaminya dan bukan pembunuhnya.” “Lalu apa yang ingin dikatakan oleh sang putri ketika mereka sudah bertemu?” Binar terkekeh. “Bukankah kau sudah tahu?” “Maaf?” “Akhirnya aku menemukanmu.” Dan Langit terdiam selama beberapa saat sampai dia sadar bahwa dia sudah mendengar kalimat itu satu tahun yang lalu. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN