Beberapa menit kemudian, Marcel merapikan kemejanya dan mencuci tangannya dengan tenang, seolah baru saja mencuci tangan dari debu biasa. Ia menoleh ke arah Alma yang masih berusaha menutupi seragamnya yang rusak.
"Pergilah ke kamar pelayan. Ganti bajumu dengan yang baru yang sudah kusiapkan di sana. Jangan keluar sampai aku memanggilmu!" ucap Marcel tanpa menoleh lagi.
"Kau monster, Marcel. Suatu saat nanti, kau akan menyesal telah memperlakukanku seperti sampah," bisik Alma dengan suara serak.
Marcel berhenti di depan pintu, menatap pantulan Alma di cermin.
"Mungkin, tapi untuk saat ini, sampah inilah yang membuatku merasa hidup. Sampai jumpa nanti malam di kamarku, Alma. Hmmm, nanti lagi yah?" ucap Marcel nakal dan tersenyum manis. Untuk kalu ini, manis sekali.
"Ciihhhh," ucap Alma sambil membuang muka dan segera masuk ke kamar mandi.
Pintu toilet tertutup, Alma berdiri di depan cermin lalu menatap jejak merah di lehernya.
"Nakal," gumam Alma sambil menyentuh jejak kepemilikan Marcel tersebut. sisa-sisa cairan Marcel di pahanya. Alam telah mencapai titik nadir. Di Bali yang indah ini, Dia menyadari bahwa dirinya bukan lagi manusia di mata Marcel Lion, melainkan hanya sebuah alat pemuas yang bisa dibuang kapan saja jika sang pemilik sudah bosan.
_
Metia Lion bukan wanita yang mudah dibodohi. Sebagai mantan model papan atas yang berhasil menduduki kursi nyonya di keluarga Lion, ia memiliki insting seekor hewan liar. Sudah berminggu-minggu Marcel bersikap aneh, sering pulang terlambat, aroma parfum wanita yang asing di kemejanya, dan yang paling mencurigakan, Marcel sering terlihat menatap ponselnya dengan tatapan obsesif yang gelap.
Pagi itu, butik Alma’s Couture kedatangan tamu, yang auranya mampu memadamkan cahaya matahari. Metia melangkah masuk dengan kacamata hitam besar dan tas Hermès edisi terbatas.
"Tempat yang cukup manis untuk seorang desainer pemula," ucap Metia, suaranya halus namun setajam silet.
Alma, yang sedang memotong pola di meja belakang, langsung mengenali suara itu. Jantungnya berdegup kencang.
"Nyonya Metia ... selamat datang. Suatu kehormatan bagi saya," sapa Alma sopan.
Metia melepas kacamatanya, menatap Alma dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya berhenti lama pada leher Alma yang ditutupi syal sutra, usaha sia-sia untuk menyembunyikan tanda merah yang ditinggalkan Marcel semalam.
"Aku butuh gaun untuk acara gala Lion Group bulan depan. Aku dengar dari Marcel, kau adalah asisten yang sangat berbakat," Metia menekankan kata sangat dengan nada mengejek.
"Saya akan berusaha memberikan yang terbaik, Nyonya" jawab Alma sopan.
"Mari, silakan duduk. Saya akan mengambilkan katalog kain."
Metia tidak duduk. Ia justru berjalan berkeliling butik, menyentuh kain-kain dengan gerakan yang menghina. "Katakan padaku, Alma ... berapa lama kau mengenal putraku? Marcel itu pria yang sulit. Dia sangat pemilih soal ... koleksi."
"Saya hanya bekerja untuk beliau, Nyonya. Hubungan kami murni profesional," Alma mencoba menjaga suaranya agar tidak gemetar.
"Profesional?" Metia tertawa kecil, suara tawa yang dingin. Ia mendekati Alma, mengintimidasi jarak sosial mereka. "Marcel itu singa. Dan singa tidak pernah memelihara domba kecuali untuk dimakan. Kau terlihat seperti domba yang malang, Alma. Apa kau tahu apa yang terjadi pada domba-domba Marcel sebelumnya? Mereka semua berakhir di tempat sampah setelah bulunya dicabuti."
Alma menelan ludah. "Saya tidak mengerti maksud Nyonya," tanya Alma sambil mengernyitkan keningnya.
"Oh, kau mengerti. Jangan bermain lugu denganku. Aku tahu bau keringat Marcel, dan aku bisa menciumnya di ruangan ini. Hati-hati, Sayang. Jika kau mencoba masuk ke lingkaran Lion dengan cara yang salah, aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan punya kaki untuk berjalan lagi."
_
Kedatangan sang singa yang tak terduga, di tengah ketegangan itu, pintu butik terbuka. Marcel masuk dengan langkah angkuh, tampak terkejut melihat ibunya ada di sana.
"Mom? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marcel, matanya langsung melirik Alma yang tampak pucat.
"Hanya memesan baju, Marcel. Kenapa? Kau takut aku mengganggu 'asisten mu'?" Metia tersenyum penuh kemenangan.
"Dia sangat manis. Pantas saja kau sering betah di sini."
Marcel mendekati Metia, mencium pipinya, namun tatapannya tetap terkunci pada Alma.
"Aku hanya lewat untuk mengambil berkas. Alma, ke ruangan belakang sekarang. Ada hal penting yang harus kau siapkan."
Metia mengangkat alis.
"Sepertinya kalian sangat sibuk. Baiklah, aku pergi dulu. Alma, jangan lupa sketsa gaunku. Dan ingat ... aku suka warna yang jujur, bukan warna yang menyembunyikan noda."
Setelah Metia pergi, suasana butik menjadi sangat mencekam. Marcel langsung mengunci pintu depan dan menarik tirai penutup jendela.
_
Marcel benar-benar bintang yang tinggi. Aku hanyalah noda kecil di kehidupan sang aktor tersebebut
"Apa yang dia katakan padamu?" bentak Marcel, suaranya rendah namun penuh amarah. Ia menyudutkan Alma ke meja pola.
"Dia tahu, Marcel! Ibumu tahu semuanya! Dia mengancam ku!" isak Alma. "Hentikan kegilaan ini sebelum mereka benar-benar menghancurkan hidupku!"
"Biarkan dia tahu! Biarkan seluruh dunia tahu kau milikku!" Marcel tidak peduli. Ancaman ibunya justru memicu adrenalin dan gairah liarnya. Pria itu manarik syal sutra di leher Alma, memamerkan bekas tanda merah yang ia buat semalam.
"Marcel, jangan ... ibumu mungkin masih di luar!"
"Justru itu yang membuatnya lebih nikmat, sayang," desis Marcel. Ia mengangkat Alma ke atas meja pola, menyingkirkan semua sketsa dan penggaris besi hingga berhamburan ke lantai.
"Kau sakit, Marcel!" ucap Alma sambil menatap tajam kepemilikan pewaris Lion grup itu.
Marcel membuka ritsleting celananya dengan kasar. Kejantanannya yang luar biasa, yang keras dan panas, langsung mendamba kehangatan Alma. Ia tidak menunggu lebih lama lagi tapi langsung mengangkat kaki Alma ke bahunya dan menghujamkan miliknya dengan satu sentakan brutal.
"Shhhhh Marceeeel!" Alma memekik, tangannya mencengkeram tepi meja kayu.
"Katakan! Siapa pemilik mu? Ibumu tidak bisa melindungi mu dariku, Alma!" Marcel memacu gerakannya dengan tempo yang sangat cepat. Suara meja yang berderit nyaring dan desahan berat memenuhi butik yang sunyi itu.
Marcel meraup p******a Alma, meremasnya dengan tenaga yang hampir menyakiti, namun Alma justru mendesah lebih kencang. Rasa takut tertangkap oleh Metia justru berubah menjadi bensin bagi api gairah mereka. Alma merasa seolah ia sedang menari di atas jurang kematian, namun pelukan Marcel adalah satu-satunya hal yang nyata.
"Ahh! Ahh! Marcel hmm nikmat sekali ... lebih dalam lagi, sayang! Aku... ahhh!" Alma meracau, tubuhnya melengkung saat Marcel menghantam titik terdalamnya berkali-kali tanpa ampun.
"Kau milikku ... selamanya milikku ...," geram Marcel. Ia mempercepat tempo hingga puncaknya, menyemburkan benih panasnya ke dalam diri Alma dengan erangan puas yang membelah keheningan.
Beberapa saat kemudian, Marcel merapikan pakaiannya, menatap Alma yang masih terengah-engah dengan tatapan posesif.
"Jangan takut pada Metia. Dia tidak akan berani menyentuhmu selama kau masih bisa memuaskan ku."
Marcel keluar dari butik tanpa rasa bersalah. Namun, di seberang jalan, di dalam mobil limusin yang kacanya gelap, Metia Lion masih di sana. Ia melihat Marcel keluar dengan kemeja yang sedikit berantakan, lalu melihat Alma yang mencoba merapikan tirai jendela dengan tangan gemetar.
Metia mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang.
"Cari tahu semua tentang wanita itu. Ayahnya, utangnya, dan setiap napas yang dia ambil. Aku ingin dia lenyap sebelum acara ulang tahun perusahaan dimulai."
Mata elang Metia berkilat penuh kebencian. Permainan baru saja dimulai, dan bagi Metia, Alma hanyalah noda yang harus segera dibersihkan dari garis keturunan Lion.
"Kali ini, aku akan menangkapmu, gadis kecil! Dasar menjengkelkan!"