Setidaknya hidupku lebih baik dari teman-temanku, dan aku baru menyadarinya sekarang. *** Hani sengaja menunggu kepulangan Arya di depan kafe Saskia. Tentunya dengan jaket tebal yang menyelimuti tubuh munggilnya karena malam ini hari cukup dingin. Beberapa pengunjug kafe nampak masih keluar masuk. Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan Hani di mana sudah hampir menunjukkan kafe akan tutup. “Eh? Hani, ya?” seru Beni yang kebetulan membuang sampah keluar. Hani pun tersenyum kepada pria yang selalu bersamanya itu, dan mengangguk sebagai jawabannya. “Lagi nunggu Arya ya?” “Iya, Om,” jawab gadis ini. “Kenapa nggak tunggu di dalam saja? Di luar dingin,” usul Beni membuat Hani menggeleng. “Tidak usah, Om. Di sini saja. Lagi pula kafenya akan tutup sebentar lagi,” sahut Hani.

