Bagian 15

1019 Kata
Bu, aku tidak mengerti kenapa wanita itu terus mencoba mengambil perhatian ayah. *** Sesampainya di kafe, Hani masih meras kesal dengan Arya, dan dia gelisah ketika meninggalkan pria itu di sekolah. Karena takdir s****n ini membuat hidupnya berantakan, bahkan sekolahnya pun berantakan. Hani tidak bisa membayangkan bagaimana masa depannya nanti. Dia harus segera mencari cara agar terlepas dari ini semua. “Mas!” Sebuah panggilan dari belakang tubuhnya membuat Hani terkejut. Refleks dia menoleh dan mendapati Bu Saskia di sana. Wanita itu lagi, masih mencoba mendekati ayahnya ternyata. Haruskah ia membalas perbuatan Arya yang membuat masa sekolahnya menjadi buruk? “Kamu tidak makan?” tanya wanita yang pemilik kafe ini. Suaranya benar-benar lembut masuk ke indra pendengaran Hani. Jangan-jangan Arya terpikat oleh wanita ini karena dari suaranya? Sungguh menyebalkan. Memang Bu Saskia cantik dan single, sayangnya menurut Hani masih kalah cantik dengan Andin. Ibunya adalah wanita tercantik di dunia ini. “Aku sedang tidak lapar,” jawab Hani kemudian. Waktu memang sudah menunjukkan istirahat di mana giliran Hani dan beberap karyawan lainnya. Sebagian ada yang masih di dalam kafe untuk melayani pelanggan. “Bagaimana di sekolah? Apakah Hani baik-baik saja?” tanya Saskia penuh perhatian membuat Hani memusatkan atensinya kepada wanita itu. “Ya, dia baik-baik saja. Hanya ada kesalahpahaman sedikit di sana,” jelasnya. Terlihat Saskia mengangguk. “Oh iya, bagaimana dengan sekolah Hani selanjutnya? Apakah dia akan kuliah?” Oke, sepertinya pembicaraan ini sedikit pribadi, dan rasanya kurang pantas jika ada orang luar yang berani menanyakan perihal itu kecuali mereka telah dekat satu sama lain. Dan tentu saja Hani tahu bagaimana hubungan dua orang dewasa ini. Tidak mungkin Saskia berani membahas keluarganya jika ayahnya tidak dekat sama sekali. Sungguh saat ini Hani merasa telah dikhianati. “Aku rasa tidak baik membicarakan perihal masalah ini. Dan lagi pula aku tidak tau apa yang akan Hani ambil nantinya. Aku selalu mendukung apa yang menjadi tujuannya nanti,” jawab Hani. Terlihat wajah bos ayahnya itu sedikit berubah. Rasakan, Hani akan benar-benar membuat hubungan dua orang dewasa ini buruk. Pokoknya dia tidak ingin memiliki ibu lagi. “Mas ... sepertinya aku lupa jika ada pekerjaan yang belum selesai. Kalau begitu aku pamit masuk lagi.” Saskia beridiri dari tempatnya, wanita itu sepertinya merasa tidak nyaman ketika mendengar perkataan Hani. Hani memandang kepergian Saskia dengan senyum kemenangan di wajahnya. “Arya.” Sebuah panggilan lagi kembali ditujukan kepadanya diiringi dengan sosok yang duduk tepat di samping tubunnya dengan membawa mangkuk berisi bakso. “Wih, semakin dekat saja nih sama bu bos,” cetus Beni yang melahap bakso miliknya itu. Hani memutar bola matanya malas ketika pria ini terus-terus saja menggoda dirinya. Jika Beni tahu Arya dekat dengan Saskia, itu artinya sebagian besar karyawan kafe ini sudah tahu. Bagaimana bisa wanita itu dengan terang-terangan menunjukkan perhatiannya kepada Arya di depan karyawannya sendiri? Sungguh memalukan. “Oh iya, kamu nggak makan? Kalau mau, pesan bakso sana biar aku yang bayarin,” lanjut Beni. Hani menggeleng, dirinya sedang tidak merasakan lapar saat ini. Terjadi keheningan di antar keduanya, Hani yang masih memikirkan tentang hidupnya, sedangkan Beni terlihat menikmati bakso miliknya. “Beni, aku boleh tanya sesuatu?” ujar Hani mengingat dia butuh solusi mengenai masalahnya dengan Arya ini. Dia tidak mungkin terjebak dalam tubuh pria itu seumur hidupnya. “Boleh.” “Apa kamu punya kenalan dukun?” Pertanyaan Hani membuat Beni terkejut hingga dia hampir tersedak, buru-buru saja Hani membantu membukakan minuman untuk teman ayahnya itu. Beni dengan segera menenggak botol air mineral yang ia beli hingga setengah. Kemudian tatapannya menghunus tepat kepada Hani. “Astaghfirullah, Arya. Kamu jangan gelap mata seperti ini. Kalau kamu memang suka sama Bu Saskia, mending langsung bilang. Kalau ditolak ya mending mundur aja jangan pakai cara seperti ini.” Hani tertawa mendengar penuturan pria ini. Sepertinya Beni sudah salah paham kepadanya. “Tidak, Beni. Aku bukan akan melakukan itu,” balas Hani yang mulai mengurangi suara tawanya. “Terus kenapa kamu tanya soal dukun?” “Begini, aku memiliki teman. Dia memiliki masalah rumit dengan salah satu anggota keluarganya.” “Oh begitu, masalah apa itu?” Kali ini pria itu sudah terlihat antusias dengan hal yang akan Hani katakan, bahkan dia sudah melupakan bakso miliknya dan memilih meletakkannya di bawah sebentar. Mungkin juga dia menghindari untuk tidak tersedak lagi karena terkejut dengan segala hal yang keluar dari mulut temannya ini. “Entah bagaimana tanpa sengaja dia bertukar tubuh dengan salah satu keluarganya,” ucap Hani. Dia menunggu reaksi apa yang akan pria ini tunjukkan. Timbul kerutan di dahi Beni, dan sepertinya pria itu bingung. Maklum, Hani sangat memaklumi hal itu. “Begini,” mulainya menjelaskan lagi, “kita ibaratkan aku dan kamu adalah sebuah keluaga. Pada suatu hari kamu terbangun dari tidur, dan hari itu sangat berbeda. Sialnya kamu mendapati dirimu berada di dalam tubuhku. Dan aku juga merasakan itu. Ini seperti pertukaran jiwa. Jiwamu berada di diriku, sedangkan jiwaku berada di dirimu. Sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan temanku itu, yang jelas dia terlihat sangat putus asa.” “Astaga! Sungguh pengalaman yang aneh. Aku pernah melihat beberapa film seperti ini. Aku kira hal itu tidak terjadi di dunia nyata. Sugguh aneh. Bagaimana bisa seseorang bertukar jiwa seperti itu? Dan sekarang apa yang terjadi dengan temanmu itu?” tanya Beni. “Tidak terjadi apa-apa. Hanya saja mereka harus melakukan segala kegiatan sesuai dengan tubuh yang mereka miliki saat ini. Aku benar-benar kasihan kepadanya, bahkan aku sangat ingin membantu, sayangnya aku tidak tahu caranya,” jelas Hani. Terlihat Beni sangat serius sekali memikirkan cerita dari Hani. Ini benar-benar kejadian langka di mana ada dua orang yang saling bertukar jiwa. “Kalau kamu tanya tentang dukun, aku kurang tau sebenarnya. Tetapi, aku pernah dengan salah satu temanku memakai seorang peramal. Aku sarankan temanmu untuk ke peramal itu, siapa tau nanti ada solusi.” “Ah iya, baiklah aku akan membicarakan ini dengan temanku itu,” balas Hani terlihat senang. Baiklah, sepertinya dia harus optimis. “Tapi, Arya ... aku ingin tau siapa temanmu itu?” “Dia ....” “Apa yang kalian berdua lakukan? Cepat kembali bekerja!” Suara bariton dari arah pintu belakang kafe membuat obrolan Hani dan Beni terhenti. Dengan segera Beni meletakkan mangkuk baksonya sedangkan Hani berlari kecil menuju ke pintu itu. Huft, hampir saja. Dirinya tidak boleh mengatakan kebenaran mengenai cerita itu. Mengenai ide Beni itu bukanlah ide yang buruk. Dia akan mendiskusikan ini dengan Arya. yuk, komen di bawah ❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN