Setengah jam sebelum waktu masuk tiba di sekolah, Diary justru baru sempat menuruni tangga di rumahnya. Diiringi langkah yang tak bersemangat, gadis itu kini menghampiri meja makan. "Loh, Di. Mami kira kamu udah berangkat sejak pagi tadi?" Diana sedikit kaget ketika melihat anaknya yang justru malah baru datang hendak sarapan. Diary tak menyahut. Dia lebih fokus pada sehelai roti tawar yang akan ia olesi dengan selai stroberi kesukaannya. "Perlu Mami antar ke sekolahnya, Di?" lontar Diana menawarkan diri. "Gak usah, Mi. Diary udah biasa pergi diantar Pak Rahman," ujar gadis itu menolak. "Ya gak apa-apa dong. Kan sekali-sekali kalo Mami yang anter gak bikin kamu rugi juga," tukas Diana mencoba membujuk. "Enggak ah, Mi. Biar Pak Rahman aja yang anterin kayak biasa." Selai pun sud

