21. Rencana yang gagal

1642 Kata
Bel sekolah sudah berbunyi. Artinya, semua pembelajaran sudah selesai untuk hari ini. Bunyi bel yang menggema di seantero sekolah pun seolah menjadi pengantar setiap siswa yang mulai berbondong-bondong meninggalkan kelasnya masing-masing. Seperti halnya Diary yang baru saja keluar kelas bersama Gerrald, kali ini mereka berencana untuk pergi ke suatu tempat yang sedang ingin mereka kunjungi. "Kamu yakin lagi gak ada kesibukan apapun, Ger?" tanya Diary di tengah langkahnya yang beriringan. Melirik sekilas, Gerrald pun mendengkus geli. "Santai aja. Selama gue bukan seorang selebritis ... kapan pun lo butuh, gue pasti akan meluangkan waktu khusus buat lo seorang. Hehe...."  Diary tersipu. Ia pun hanya membalas lontaran cowok itu dengan senyum simpul yang menghiasi bibir tipisnya. Kemarin malam, tepatnya melalui chat w******p, Diary meminta Gerrald untuk menemaninya mengunjungi danau yang tempo hari cowok itu membawanya ke sana. Dengan senang hati, Gerrald pun menyetujuinya.  Bagi Gerrald, permintaan Diary adalah sebuah prioritas. Maka, tanpa perlu menolak dan sebagainya, ia pun kini akan menemani sang gadis mendatangi kembali danau favoritnya.  Mereka berdua sangat terlihat akrab dan tak sungkan untuk bergurau kecil di setiap langkahnya yang berayun serempak. Hal itu tentu saja membuat Prita yang tak sengaja melihat kedekatan mereka pun seketika menjadi geram. Kedua tangannya mengepal kuat.  Sorot matanya menatap sinis ke arah dua insan manusia yang baru saja memasuki areal parkir sekolah. Raut mukanya pun tampak berang ketika melihat riak gembira yang muncul secara alami dalam ekspresi wajah keduanya. Dalam posisinya yang setia mengawasi, gadis itu pun menggertakan giginya. Sedari beberapa menit yang lalu Prita memang sengaja berdiri di dekat tiang tinggi yang menyangga atap sekolah. Setelah mendapati dua orang yang diamatinya sejak tadi sudah tiba di dekat motor yang terparkir di sudut parkiran sana, sejurus kemudian Prita pun lantas merogoh ponsel yang berada di dalam saku seragamnya. Matanya menatap fokus guna mencari sebuah nama yang sedang ingin dihubunginya. Ketika ditemukan, ia pun langsung menekan tombol hijau berikon telepon pertanda dirinya yang sedang menyambungkan panggilan pada si penerima telepon.             “Gue minta ... sekarang lo dateng ke jalan raya deket sekolahan gue. Gak lama lagi, target menuju sana. Lo boleh incar ceweknya, tapi jangan ada sedikit luka pun yang sampai menyentuh cowoknya. Awas kalo lo berani sakitin cowoknya, gue gak akan segan-segan buat masukin lo ke penjara! Paham?” papar Prita panjang lebar. Setelahnya, ia pun langsung memutuskan kembali pembicaraannya disusul dengan senyuman penuh misteri yang kini terpatri di bibir tebalnya.             “Jangan panggil gue Prita, kalo gue gak bisa ancurin siapapun yang mau rebut kebahagiaan gue! Tunggu aja, gak lama lagi juga lo bakal terima pembalasan sakit hati gue, Diary....” gumam Prita menyeringai.                                                                                     *** Motor yang dikendarai oleh Gerrald dan Diary baru saja melaju meninggalkan lingkungan sekolah. Seperti biasa, aura bahagia melingkupi perasaan Diary saat sedang bersama dengan Gerrald. Hari ini, dia akan menikmati lagi waktunya di danau cantik itu. Setelah puas menghabiskan waktu di sana, barulah Diary yang bergiliran menemani Gerrald untuk mencari sepatu sport original yang tempo hari pernah cowok itu ceritakan. Akan tetapi, ketika mereka melintasi jalanan sepi yang jarang dilalui banyak kendaraan, tiba-tiba saja Gerrald pun mengerem motornya hingga membuat Diary terpekik kaget karena tubuhnya terentak ke depan tanpa aba-aba.             “Kenapa, Ger? Kok mendadak berhenti gitu?” lontar Diary menatap heran. Dia pun meraba dadanya sekilas saking kagetnya ia saat tahu-tahu motor yang ditumpanginya saat ini berhenti dadakan. Untuk sesaat, Gerrald pun melepas helmnya lebih dulu. Kemudian, ia pun menunjuk ke arah depan seraya berkata, “Ada orang pingsan itu, Di!“  Sontak, Diary pun mengernyit. Demi memastikan ucapan Gerrald, ia pun langsung mengintip ke arah depan dari balik punggung tegap Gerrald. Ternyata benar, seseorang tengah tergeletak di depan sana entah karena apa. "Ayo kita turun, Ger! Siapa tau dia lagi butuh bantuan kita," ajak Diary yang seketika melompat lebih dulu dari atas jok motor si cowok. Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, baik Gerrald maupun Diary kini sama-sama meninggalkan motornya demi ingin memeriksa keadaan tubuh yang tergeletak di atas aspal sana. Lagipula, sudah menjadi kewajiban mereka bukan untuk memberikan pertolongan pada siapapun yang membutuhkan? Maka, dengan segera kedua manusia itu pun langsung bergegas menghampiri tubuh asing tersebut guna memeriksanya lebih dulu sebelum bertindak lebih lanjut lagi. Hanya saja, di tengah mereka yang sedang fokus menilik orang pingsan tersebut, tanpa diduga dua orang pria berbadan kekar muncul sekaligus menyergap Diary dari samping kanan.             “Kyaa ... Gerrald!” teriak Diary melengking. Memelotot lebar, Gerrald pun langsung bersiaga dalam menghadapi dua orang berwajah sangar itu yang kini sedang berusaha menyeret Diary. “Lepasin temen gue!” seru Gerrald lantang. Namun yang terjadi, dua pria kekar itu malah tertawa pongah sambil saling melempar kode yang sama sekali tidak disadari oleh Gerrald. Tidak hanya itu, bahkan orang yang diduga pingsan oleh mereka semula pun seketika terbangun dari posisinya. Usut punya usut, dia merupakan salah satu komplotan dari kedua orang yang sekarang sedang menyergap Diary. Menyadari itu, Gerrald pun tidak terima saat melihat Diary yang tengah dipaksa untuk mengikuti mereka. Lalu tanpa pikir panjang, Gerrald pun lekas mengeluarkan jurus andalannya yang sudah ia kuasai sejak lama. Satu persatu, para penjahat itu pun melangkah maju guna melawan Gerrald. Seakan sudah lihai dalam berbaku hantam, tidak ada satu pun dari ketiga pria asing itu yang berhasil menumbangkan Gerrald. Walaupun selama perkelahian berlangsung cowok itu sempat terkena beberapa kali pukulan, tapi hal tersebut bahkan tidak memengaruhi ketangkasan yang Gerrald miliki.  Sampai akhirnya, ketika tiga pria itu sudah berhasil cowok itu kalahkan, mereka pun bergerak kompak berlari terbirit-b***t menjauhi Gerrald dan juga Diary yang terlihat masih syok atas sergapan kedua penjahat tadi.            “Lo gak apa-apa?” tanya Gerrald lekas menghampiri sang gadis setelah para penjahat itu melarikan diri pasca dihajar Gerrald sesaat lalu. Diary menggeleng pelan, tapi tangannya terlihat bergemetar efek dari keterkejutannya saat disergap para penjahat tadi, “A-aku gak apa-apa, Ger. Aku cuma kaget aja sama yang udah terjadi sebelumnya,“ jawab Diary membuang napas gusar.             “Ya udah, kita langsung balik aja ya. Ke danau bisa lain kali, okey?” usulnya yang kemudian menuntun Diary mendekati motornya lagi. Diary pun hanya menurut patuh. Mungkin Gerrald benar, tidak baik jika mereka melanjutkan perjalanan di saat keadaan hati yang sedang kalut pasca didatangi penjahat seperti barusan. Jalan terbaik untuk mereka saat ini adalah pulang. Diary pun tidak akan merasa tenang seandainya mereka meneruskan rencana yang sudah disusun sebelumnya.                                                                                        *** PLAK. Sebuah tamparan keras mendarat tepat di muka ketua dari komplotan preman yang sempat mengadang perjalanan Gerrald dan Diary sewaktu melintasi jalanan yang sepi. Di hadapannya, si penampar pun memelotot garang bersiap untuk menumpahkan segala kemurkaannya pada mereka yang tidak becus melakukan apa yang ia inginkan.             “LO b**o ATAU LEMAH, HAH? BADAN GEDE TAPI NYALI CUMAN KAYAK DEBU KAPUR TULIS. KENAPA LO SAMPE KALAH SIH? GUE BAYAR LO ITU BUAT KASIH PELAJARAN KE SI DIARY KARENA UDAH MAIN-MAIN SAMA GUE. BUKAN JUSTRU MALAH GUE TERIMA KABAR KALO KALIAN BERHASIL DIBUAT KALAH TANPA HASIL APAPUN!” Perempuan itu membentak lelaki di hadapannya. Dadanya bahkan turun naik saking murkanya ia sekarang.             “Ma-maaf, Bos. Kami kira laki-laki itu tidak bisa bela diri, tapi ternyata ... dia malah lebih jago dan pandai menangkas pukulan dari kami, Bos. Sepertinya dia sudah menguasai teknik bela diri yang handal. Makanya kami kalah telak,“ papar lelaki berambut rancung yang berpura-pura pingsan di tengah jalan tadi demi memancing agar targetnya masuk perangkap. Namun dibanding memaklumi, perempuan itu pun malah kembali meraung seakan tidak terima dengan alasan apapun yang suruhannya itu sampaikan. “Gue gak peduli, yang jelas lo semua itu gak berguna sampe-sampe gak ada satu orang pun yang becus laksanain tugas dari gue. Percuma tau gak gue rekrut lo semua buat jadi tukang pukul, toh ternyata lo bertiga gak punya nyali sedikit pun buat kasih pelajaran ke mereka. Dasar pengecut!” umpat Prita habis-habisan. Tidak ada yang berani memprotes atau berkomentar. Ketiganya hanya mampu diam dan menunduk penuh penyesalan. Andai kata mereka bisa jauh lebih baik dalam melaksanakan tugas, mungkin bosnya tidak akan semarah itu. Sayang, mereka gagal menjalankan rencana yang bosnya buat. Alhasil, kini mereka pun hanya tinggal menelan bulat-bulat amukan bosnya. Walau bosnya itu seorang perempuan belia yang usianya jauh lebih muda dari mereka, tapi demi uang ketiganya pun harus selalu patuh terhadap perintah Prita. Ya, Prita adalah bos mereka sekaligus yang memerintahkan ketiga preman itu untuk mengadang Gerrald dan Diary guna mengerjainya. Namun siapa sangka kalau Gerrald akan berhasil melumpuhkan ketiganya. Hal itu, tentu saja membuat Prita semakin merasa kesal pada Gerrald apalagi Diary. Gadis itu, selain sudah memiliki banyak penggemar di sekolah, ia pun sangat beruntung karena mempunyai Gerrald yang akan selalu melindunginya dari bahaya apapun.  "Maafkan kami, Bos. Lain kali, kami tidak akan mengecewakan Bos lagi. Kami janji...." ikrar pria berambut gondrong. Meski badannya besar dan kekar, tapi di hadapan Prita ia menjadi lunak dan memiliki rasa takut apabila dirinya didepak dari pekerjaan lepas yang sering diterimanya jika Prita sedang membutuhkan jasa pukulnya.             “Udahlah, gak ada gunanya juga lo semua di sini. Pergi sana! Gue muak lihat muka lo bertiga ... PERGI !!!“ bentak Prita mengusir. Tak ingin bosnya semakin mengamuk, ketiganya pun segera pergi meninggalkan teras rumah Prita dan berbondong-bondong keluar dari pekarangan rumah bosnya. Sementara itu, Prita masih merasa dongkol dicampuri oleh emosi yang luar biasa. Misinya untuk membuat Diary menyesal karena sudah mendekati Gerrald pun gagal total. Bahkan yang sangat membuatnya lebih marah pun ketika Prita tahu bahwa Gerrald sendirilah yang mengalahkan ketiga suruhannya demi menyelamatkan Diary saat itu.             “s**t!” umpat Prita berang. Kemudian ia pun memutuskan untuk masuk dan menenangkan diri di dalam kamarnya nanti. Namun, saat Prita baru saja hendak menaiki tangga, saat itu pula saudara kembarnya muncul dari persembunyiannya sembari geleng-geleng.             “Kenapa kamu selalu jahat? Mau sampai kapan kamu mempertahankan watak jahatmu itu saudara kembarku??” gumamnya melenguh lunglai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN