36. Quality time yang menyenangkan

1685 Kata
"Main-main ya ke rumah kalo ada waktu luang. Diary ini jarang main juga loh. Makanya dia masuk banget kategori anak rumahan. Ya kan, Di?" seloroh Diana terkekeh. Cowok berjambul itu ikut tersenyum semringah ketika mendapat respon yang baik dari mami Diary. Padahal, ia tak menyangka bahwa dirinya akan disambut begitu hangat oleh mami Diary. Ya, walaupun Diarynya sendiri terlalu banyak bengong dan tidak fokusnya sih. Tapi, bagi si cowok berjambul saat ini, sudah lebih dari cukuplah ia mendapat sambutan yang sebegitu baiknya dari salah satu pihak orangtua si gadis yang selama ini disukainya. "Ya sudah, kalo begitu ... kami pamit dulu ya, Nak...." Diana menggantungkan kalimatnya. Tampaknya dia sedikit lupa dengan nama si cowok berjambul tersebut. "Restu, Tante...." sahutnya seakan mengerti apa yang menjadi kendala maminya Diary. "Oh iya, Nak Restu!" seru Diana terkekeh geli. Sementara itu, Diary masih setia dengan raut melongonya yang belum juga berlalu. Pasalnya, bagaimana ia tidak melongo berkepanjangan jika sampai detik ini saja gadis itu masih dibuat kaget oleh penampilan baru yang Restu tunjukkan. Saat kali pertama dia mendapati cowok itu ketika tiba-tiba datang menghampirinya beberapa saat lalu, Diary dikejutkan dengan satu fakta yang tak diduganya sejauh ini. Restu muncul dengan penampilan barunya. Tidak ada lagi kacamata berbingkai hitam persegi yang bertengger di matanya lagi. Tidak ada sikap pemalu yang biasa Diary temui dari dalam Restu yang dulu bahkan untuk membela diri saja tidak pandai. Restu yang sekarang Diary lihat di depan mata adalah Restu dengan versi baru. Ibarat aplikasi, dia seperti baru saja diperbarui instalannya oleh si pengguna. "Diary!" panggil sang mami mengejutkan. Gadis itu sedikit terkesiap, lantas melirik maminya yang kini sedang menatapnya keheranan. "Melamunin apa? Ayo pamitan dulu sama temannya. Kita kan mau pulang," ujar Diana mengingatkan. Lalu, perhatian Diary pun kembali teralih pada Restu yang saat ini tengah tersenyum simpul menatap dirinya yang mendadak linglung.                                                                                            *** Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam saja, akhirnya Diary dan Diana sampai juga di rumah. Ibu dan anak itu lantas mengempaskan b****g secara kompak ke atas sofa di ruang tengah. "Gimana, Di? Kamu senang?" tegur Diana melirik anaknya yang tengah merebahkan kepala ke sandaran sofa. Menengok, gadis itu pun mengangguk seraya tersenyum. "Makasih ya, Mi. Diary senang banget. Setelah sekian lama ... akhirnya Diary bisa merasakan kembali kehangatan dari Mami kayak dulu waktu Di masih kecil," tuturnya lembut. Diana turut tersenyum, "Maafin Mami ya, Nak. Selama ini, Mami bahkan malah selalu lebih mengutamakan pekerjaan dibanding anak gadis Mami sendiri. Sampai-sampai, Mami baru sadar kalau kamu sudah tumbuh menjadi anak gadis yang sangat cantik dan menarik hati," tukas Diana terkekeh. Dipuji sang mami, Diary pun tersipu malu. "Apaan sih, Mami? Berlebihan gitu deh mujinya. Diary kan jadi malu...." "Dih, malu katanya. Pikirmu, yang muji kamu itu pacarmu apa pake acara malu segala," lontar Diana geleng-geleng. Sementara itu, Diary hanya tergelak geli sembari meraih remot televisi guna dinyalakannya. "Oh ya, Di. Cowok yang tadi itu, beneran teman sekelas kamu ya?" tegur Diana mengalihkan topik pembicaraan. Sambil fokus memindah-mindahkan chanel di televisi, Diary pun mengangguk. "Iya. Dulu Diary sempat jadi teman dekat sama Restu. Tapi belakangan ini, hubungan pertemanan kami agak sedikit merenggang entah kenapa...." "Maksud kamu?" tanya Diana melirik. Tersirat rasa ingin tahu dari raut wajahnya sekarang. Diary membenahi posisi duduknya sejenak. Ia pun menghela napas sembari menaruh remot televisi yang dipegangnya semula ke atas meja. "Jadi, semenjak Diary mengubah penampilan seperti sekarang ... Restu tuh mendadak kayak yang menjauh gitu, Mi. Diary dekati juga dia malah menghindar. Padahal, Diary sendiri gak tahu penyebab dia mendadak jaga jarak gitu. Eh tahu-tahu, pas di kafe tadi dia muncul gitu aja dengan penampilan baru yang bikin Diary sukses terkejut," papar gadis itu menjelaskan. Diana mengerjap, "Loh, penampilan baru apa maksudnya? Mami kok sedikit gak paham sama perkataan kamu barusan," "Mi, Restu yang sejak awal Diary kenal tuh gak setrendi yang Mami lihat pertama kalinya di kafe tadi. Makanya Diary banyak bengong itu karena Diary terlalu kaget sama perubahannya...." "Memangnya, sebelumnya dia seperti apa?" tanya Diana lagi seakan ia sangat penasaran dengan cerita sang anak. "Ya gitu deh, Mi. Hampir satu server lah sama Diary. Dia lebih ke terlihat culun dengan kacamata berbingkai hitam yang dipakainya. Jauh bangetlah pokoknya sama penampilannya yang tadi Mami dan Diary lihat...." tukas gadis itu tak habis pikir. Mendengar serentetan penjelasan dari mulut sang anak, Diana pun mulai paham. Dia berpikir, teman anaknya itu telah bertransformasi menjadi sosok yang baru dari sebelumnya. Tapi tak dapat dipungkiri, Diana sudah keburu jatuh hati saat melihat cowok itu pertama kalinya. Bukan maksud Diana menaruh hati pada seorang pemuda seusia anaknya. Namun yang Diana maksud, mendadak dia berkeinginan membuat pemuda itu lebih dekat lagi dengan Diary. Jika dilihat, Restu itu sangat baik dan santun bagi Diary. Apabila mereka menjadi pasangan, maka Diana tidak akan menampiknya alias sangat merestui seandainya Diary dan Restu berpacaran suatu hari nanti. Diary menguap. Berlanjut, ia pun menggeliat sambil kemudian bangkit berdiri. "Mau kemana?" tanya Diana mendongak. "Mau ke kamar, Mi. Diary ngantuk," jawabnya nyengir lebar. "Huu dasar! Diajak main jauh dikit, bawaannya udah ngantuk aja pas pulang ke rumah...." dengkus Diana geleng-geleng. "Kan Mami sendiri yang bilang. Diary itu anak rumahan. Jadi, kalo dibawa keluar sebentar aja ... pas pulang ke rumah ya bawaannya pengen tidur aja apapun alasannya. Gaya anak rumahan banget kan, Mi?" selorohnya terkekeh. "Ada-ada saja kamu!" sahut Diana. Lalu, Diary pun segera melenggang setelah sebelumnya mengecup pipi sang mami sejenak.                                                                                  *** Seusai mengerjakan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok, Diary kembali merapikan semua peralatan tulisnya ke dalam tas sekolahnya. Lalu, ia pun memeriksa ponsel yang masih diisi daya guna melihat batrenya. Ketika mendapati batre ponselnya sudah berwarna hijau alias penuh, ia pun lekas mencabutnya dan menekan aplikasi chatingan serta masuk ke dalam room chatnya bersama Gerrald. Dilihatnya, cowoknya itu sedang online kebetulan. Seperti biasa, Diary pun mengirimkan stiker bertuliskan halo untuk mengawali percakapannya. Gerrald Pacar : Udah kelar prnya? Anda : udah. Kamu lagi apa? Gerrald Pacar : lagi nunggu kamu ngabarin aku :p Seketika, kedua pipi Diary pun menghangat. Jadi begini ya rasanya chatingan sama pacar yang romantis seperti Gerrald? Gerrald Pacar : Cie yang lagi normalin detak jantungnya *emot hati* Diary pun membelalak. Lalu, ia segera mengetik kembali kata demi kata yang akan dikirimkannya pada sang pacar. Anda : Apa sih? Siapa juga yang degdegan *emot julur lidah* Gerrald Pacar : yaudah kalo gak mau ngaku. Gerrald Pacar : lagi apa sekarang? Udah ada rencana buat tidur belum? Diary mendadak malas mengetik. Alhasil, dia pun segera menekan tanda video call agar bisa bertatap muka secara langsung dengan Gerrald. Tak lama kemudian, panggilan pun tersambung. Didapatinya, Gerrald sedang tersenyum dengan earphone terpasang di kedua telinganya. "Kok tiba-tiba VC?" tanya Gerrald mengernyit. "Males ngetik. Takut kepeleset jari...." jawab gadis itu nyengir. Dilihatnya Gerrald pun menggembungkan pipi yang dilanjut terkekeh. "Kamu udah kerjain pr, Ger?" Kini, giliran Diary yang bertanya. "Udah dong. Eh iya, kamu lagi gabut gak?" "Hah? Maksudnya?" "Aku lagi gabut nih. Tadinya pengen main ke sana, tapi Bunda malah pergi ke kondangan sama Ayah. Jadi, aku disuruh jaga rumah deh sampe mereka pulang nanti." Diary melihat Gerrald merengut sebal sehabis curcol sebelumnya. "Ya udah, puasa main aja dulu kalo gitu. Hehehe," "Aku nyanyi aja ya," cetus Gerrald tahu-tahu. "Hah? Apa?" Diary setengah memekik. Tak lama kemudian, Gerrald pun sudah memangku gitar saat Diary lihat di layar ponselnya. "Jangan dimatiin ya!" pintanya sambil bersiap memetik senar gitar. Jreng~ "Biarkan aku jadi yang terhebat, Jadilah kamu kekasih yang kuat...." "Aku manusia yang paling butuh kamu. Membutuhkanmu, Hatiku memalingkan pandang hanya padamu, Pada hatimu. Jangan lelah.... Menghadapiku, Biarkan aku jadi yang terhebat, Jadilah kamu kekasih yang kuat.... Genggam tanganku bernyanyi bersama. Karena kamu kekasih terhebat," Bolehkah Diary menjerit bahagia? Oh, tidak! Diary tidak akan segamblang itu. Atau Diana yang sedang ada di bawah akan langsung datang mengetuk pintu untuk mencari tahu perihal apa yang terjadi pada anak gadis satu-satunya itu. "Gimana, enak gak suaraku?" tegur Gerrald setelah menaruh kembali gitarnya. Kini, layar kembali dipenuhi oleh muka tampan Gerrald yang sudah selesai bernyanyinya. Alih-alih menjawab apa yang ditanyakan sang pacar, Diary justru malah masih terhanyut dengan nyanyian Gerrald sesaat lalu. Bagaimana bisa cowok itu berhasil telak membuat hatinya melambung sebahagia ini? Apa Diary boleh berkata jujur? Diary sangat bahagia sekali hari ini. Selain sudah menghabiskan waktu sepanjang siang tadi dengan maminya, kini ia pun dibuat tersenyum-senyum sendiri oleh pacarnya sendiri. Ah, betapa mulai sempurnanya kehidupan ini. Perlahan, penderitaan yang selama ini Diary alami berangsur hilang. Digantikan oleh kebahagiaan yang datang bertubi-tubi melanda hidupnya. Seandainya boleh bernegosiasi dengan Sang Pencipta, maka Diary ingin selalu meminta dilimpahkan alur yang bahagia di setiap harinya. Jangan pernah ada kekalutan apalagi masalah yang mendera. Namun apa daya? Bukankah selama manusia masih bernapas masalah akan datang silih berganti? Lantas, apa yang harus Diary perbuat untul mencegah masalah agar tak datang lagi? Entahlah, mungkin ... Diary hanya meminta pada Tuhan untuk mengurangi beban masalah yang akan dihadapinya di masa yang akan datang. Setidaknya, tidak untuk jarak yang dekat. Dia masih ingin merasakan kebahagiaan yang tiada habisnya dari orang-orang yang dikasihinya. "Di, aku udahin dulu ya VC-nya!" ucap Gerrald meminta izin. "Mau kemana?" tanya Diary mengernyit. "Kayaknya Ayah sama Bunda udah pulang deh. Aku lupa tadi kunci pintunya. Jadi, aku harus buka pintu dulu sebelum mereka omelin aku gara-gara kelamaan membiarkan mereka berdiri di luar," terang Gerrald meringis. "Oh gitu. Ya udah, kabari aku kalo kamu udah santai lagi ya, Ger...." pinta Diary tersenyum "Aye aye, Capten!" seru Gerrald sembari menghormat. Lalu, setelah itu sambungan video call pun terputus. Menyisakan rasa gembira yang membekas di hati sang gadis. "Semoga kamu selalu bersikap semanis itu ya, Ger. Aku gak berharap kamu tetap stay di hidup aku. Tapi setidaknya, selama kamu jadi pacar aku ... aku mau kamu selalu seperti itu. Menjadi Gerrald yang romantis dan menunjukkan rasa kasih serta sayang yang begitu nyata," gumam Diary penuh harap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN