10. Boneka Beruang

1655 Kata
"Kamu mau bawa aku kemana lagi?" tanya Diary setengah berteriak. Kini, mereka sedang berada di atas motor yang dilajukan oleh Gerrald. "Nanti juga lo tau, pokoknya ... hari ini, gue mau buat lo bahagia!" sahut Gerrald dari balik helm. Lantas, mempercepat lajuannya yang mengharuskan Diary semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Gerrald. Sekembalinya Diary dari toilet di kedai es krim, Gerrald memang langsung mengajak gadis itu untuk berkemas. Meski Gerrald tidak tahu letak kesalahannya di mana, tapi saat melihat raut wajah Diary yang mendadak muram, akhirnya dia pun mempunyai ide untuk mengembalikan keceriaan di paras cantik sang gadis.  Hingga tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah tempat yang penuh dengan arena permainan. Tempat di mana Diary selalu diajak berlibur pada saat kedua orangtuanya merayakan ulang tahun sewaktu Diary kecil dulu. Senyum Diary pun kembali terpancar. Meski tempatnya tak lagi sama seperti waktu ia kecil, tapi Diary masih bisa merasakan atmosfer kebahagiaan yang menguar di sekelilingnya.             “Ayo kita masuk!” ajak Gerrald setelah menggantungkan helm di stang motornya.             “Tapi, Ger ... aku--”  "Udah ayo, gue jamin ... lo pasti bakal bahagia sepulangnya dari sini," ikrar Gerrald tulus. Kemudian, ia pun segera menarik tangan Diary supaya tidak banyak ini dan itu lagi. Gerrald membawa Diary ke sebuah tenda permainan, permainan melempar panah. Di mana si pelempar harus menancapkan anak panahnya tepat ke titik pusat. Jika ia berhasil, maka si pemilik tenda akan memberikan hadiah sesuai permintaan si pemenang.              “Game lempar panah?” pekik Diary menatap tak percaya. Gerrald mengangguk semangat. Sudah lama sekali rasanya ia tidak bermain di wahana ini. Maka selagi ada waktu, Gerrald pun akan kembali menunjukkan kemampuannya di hadapan Diary. Ya, demi Diary apapun akan Gerrald lakukan hari ini. Terpenting, Diary bahagia dan raut sedihnya pun hilang tak berbekas dari paras cantiknya.             “Lo mau hadiah apa kalo gue berhasil tancap panah di titik pusat?” tanya Gerrald penuh keyakinan. Diary sedikit kebingungan, ia tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, ini kali pertama ada seseorang yang menawarinya hadiah dari sebuah permainan. Sebelum ini, jangankan ditawari hadiah, main ke tempat umum dengan seorang teman saja belum pernah.  “Sebutin aja! Atau, lo bisa pilih dari sekian banyaknya hadiah yang terpajang di sana....” tunjuk Gerrald tepat ke arah deretan rak yang diisi berbagai hadiah untuk pelempar panah yang berhasil menancapkan anak panah ke titik pusat dalam satu kali lemparan.  Menggigit bibir, Diary pun menatap satu persatu hadiah yang tersedia. Banyak jenis hadiah yang tertata, dimulai yang kecil sampai item terbesar. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada satu benda yang memang sejak dulu ia inginkan.             “Gimana?” tanya Gerrald lagi. Dia sudah tidak sabar ingin mengasah kemampuannya yang sudah sejak lama tidak tersalurkan. "Aku mau itu...." cicit Diary seraya menunjuk ke arah boneka beruang besar yang terpampang di rak paling atas. Gerrald pun tersenyum saat akhirnya Diary menemukan apa yang diinginkannya dari hasil permainan yang dimainkannya nanti. "Mas!" panggil Gerrald pada lelaki kurus pemilik tenda, "Saya mau lempar panah, tapi kalo saya berhasil saya pengin hadiahnya boneka beruang besar itu ya...." ungkap Gerrald bernego dulu.  "Wah, Mas ini yakin mau boneka beruang besar itu?" sahut pemilik tenda tersebut meragukan. "Yakin dong, masa cuma hoaks...." delik Gerrald mendengus. Jangankan boneka besar, ada hadiah lebih besar dari itu saja Gerrald akan jabanin kalau untuk seorang Diary. Muehehe. "Ya sudah kalo gitu, Mas bisa dapatin boneka itu hanya jika Mas bisa menancapkan anak panah dalam durasi 5 detik saja. Misalkan lebih dari itu, Mas tidak bisa mengambil hadiah yang Mas inginkan. Tapi, Mas masih bisa dapat hadiah lainnya sesuai durasi tertancapnya anak panah ke titik pusat...." terang si lelaki kurus itu rinci. "Oke kalo begitu. Saya minta anak panahnya sekarang," ujar Gerrald mantap. "Kamu yakin, Ger?" tanya Diary menatap ragu. "Lo ngeraguin kemampuan gue juga, huh?"  "Bukan gitu, tapi--"  "Udah, lo tinggal lihat aja nanti ... kalo gue berhasil, lo dapat apa yang lo mau!" tukas Gerrald sangat percaya diri. Merasa kalau Gerrald mampu membuktikan, akhirnya Diary pun tak lagi berkomentar. Daripada dia salah bicara dan ujungnya membuat Gerrald tersinggung, maka ia pun memilih diam saja dan menunggu hasil yang akan Gerrald dapat nanti. Dia justru malah mendadak gugup ketika Gerrald sudah menerima anak panah dari lelaki pemilik tenda itu. "Maaf, demi kenyamanan Masnya saat melempar anak panah, Mbaknya bisa tunggu di luar tenda?" lontar si lelaki kurus mengimbau.  "Loh, jadi ... gak bisa didamping nih?" tanya Gerrald mengerjap.  "Tidak bisa, Mas. Aturannya harus begitu, saat melempar panah yang tidak bermain bisa tunggu di luar...." jelas lelaki itu lagi. Menatap dua anak manusia di hadapannya secara bergantian. "Tapi--"  "Ya udah, gak apa-apa. Aku tunggu di luar aja," selak Diary tak ingin Gerrald banyak berdebat dengan si pemilik tenda. "Semangat, ya. Aku tunggu boneka beruangnya, hehe...." ujar sang gadis menepuk bahu Gerrald sambil terkekeh. Kemudian, Diary pun bergegas melangkah keluar tenda sesuai permintaan si lelaki kurus tadi.                                                                                     ¤¤¤ Diary berdiri sendiri di luar tenda. Sambil menunggu Gerrald yang masih di dalam, ia pun hanya mampu menggesek-gesekkan ujung sepatu flatshoes-nya ke permukaan tanah. Meski beberapa pasang manusia saling hilir mudik di sekitarnya, tapi Diary seakan tak tertarik untuk sekadar memerhatikan mereka yang sempat ia dengar berhaha hihi ria dengan temannya masing-masing. Suasana di wahana permainan itu memang sangat ramai, hanya saja, Diary masih setia menunggu Gerrald dengan harapan lelaki itu berhasil membawakan dirinya boneka yang ia mau. Akan tetapi, seandainya Gerrald gagal, maka Diary pun tak akan memaksa. Mungkin, di lain waktu ia akan beli sendiri di toko boneka. Meski sebenarnya ia pun masih mampu membeli benda tersebut, tapi Diary juga berkeinginan mendapat pemberian dari orang yang dianggapnya spesial. Ya, Diary memang selalu menganggap Gerrald adalah orang terspesial di hidupnya. Walaupun mungkin cowok itu hanya menganggapnya sebagai teman biasa, tapi tidak bagi Diary. Semenjak Gerrald masuk ke dalam hidupnya dan banyak hal yang sudah Diary ceritakan pada cowok itu, maka sejak itu pula Diary memasukkan Gerrald ke nomor teratas sebagai sosok istimewa yang akan senantiasa berada di hatinya. "Diary...." panggilan itu, kontan membuat si pemilik nama mendongak hingga mendapati sosok Gerrald sedang berdiri di ambang pintu tenda. Dilihatnya, Gerrald tidak membawa apa-apa. Diary pastikan, cowok itu pasti tidak berhasil dalam permainannya. 'Sudah kuduga....' batin Diary merengut. "Kamu gagal ya, Ger?" tanya Diary lesu, "Ya udah, lain kali pasti berhasil ... yang sabar ya, Ger...." sambungnya berusaha tersenyum. Lalu, ketika Diary sudah memutar tubuh hendak melangkah, tiba-tiba Gerrald pun memanggilnya kembali. "Diary, tunggu!" seru cowok itu menghentikan. Sontak, gadis itu pun urung untuk mengayunkan langkahnya lebih lanjut. "Ada apa lagi, Ger?" tanya Diary tanpa menoleh. "Lo mau ke mana, huh?" "Aku mau pulang, kamu bisa kan anter aku pu-" "Taraaaa...." sorak Gerrald yang kemudian menyodorkan boneka beruang besar ke hadapan Diary, membuat gadis itu refleks berbalik dan menatap Gerrald dengan sorot tak percaya. "Kamu...." ucap Diary tak selesai. "Iya, gue berhasil! Dalam hitungan 4 detik, gue mampu melesatkan anak panah itu ke titik pusat...." tukas Gerrald tersenyum girang. Terlihat sekali raut bangga di wajah tampannya. "Tapi tadi aku lihat, kamu keluar gak bawa apa-apa," ujar Diary menggaruk kepala. "Ya iyalah, kan bonekanya lagi diambil dulu sama si Mas-Mas pemilik tendanya," sahut Gerrald mengerling sesaat. Dilanjut dengan kekehan gelinya kala mengamati muka bingung yang terpampang di wajah Diary. Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia justru malah malu sendiri karena sebelumnya sudah menyangka bahwa Gerrald telah gagal dalam permainan lempar panahnya. Akan tetapi, setelah melihat boneka yang ia inginkan ada di depan mata, kontan binaran bahagia pun terpancar jelas di raut wajah sang gadis. Sigap, Diary pun langsung mengambil alih boneka di tangan Gerrald yang kemudian dipeluknya erat. "Makasiihhh, Gerrald...." ucap Diary begitu senang. Gerrald tersenyum lebar. Entah kenapa, hatinya selalu berdebar tak karuan ketika melihat senyuman gembira terpatri di bibir si gadis. Mendorong Gerrald untuk mengatakan, "Bonekanya doang nih yang dipeluk? Guenya enggak?" tatap Gerrald sambil merentangkan tangan. Sontak, mata Diary pun terbelalak lebar. Tidak hanya itu, kedua pipinya pun memerah seiring tertawanya Gerrald kala itu.                                                                                 ¤¤¤ Setelah seharian bermain, akhirnya saat sore menjelang Gerrald pun mengantarkan Diary pulang ke rumahnya. Suasana hati Diary saat itu tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Intinya, aura bahagia kini sedang menderanya.             “Thanks ya, kamu udah berkenan buat ajak aku jalan-jalan seharian ini. Thanks juga buat bonekanya,” ucap Diary seturunnya ia dari motor Gerrald.             “Sama-sama...." angguk Gerrald tersenyum, helmnya ia lepas dulu demi bisa mengobrol sejenak dengan Diary, "Jaga baik-baik ya bonekanya, anggap aja itu gue ... jadi, misalkan lo lagi butuh pelukan di saat lo sedih, lo peluk aja dia. Pasti rasanya kayak lagi peluk gue. Hehehe...." seloroh Gerrald terkekeh. Diary memutar bola mata, tapi dalam hatinya ia merasa berdebar tak karuan.             “Ya udah, gue langsung balik aja ya. Takut dicariin nyokap karena seharian ini gak kabar-kabari. Sampai ketemu besok di sekolah....” ujar Gerrald melambai sejenak, lantas ia segera menyalakan mesin motor dan pergi melesat setelah Diary mengiyakan. Sepeninggalnya Gerrald yang sudah tak terlihat lagi dalam jarak pandang, Diary pun tersenyum sendiri. Pipinya kembali memerah ketika teringat akan sepanjang hari ini ia bersama-sama dengan Gerrald. Bahkan, boneka beruang pemberian Gerrald pun terus ia dekap dan sesekali ia ciumi. Hingga akhirnya, Diary pun masuk ke dalam rumah sambil  masih saja senyum-senyum sendiri.             “Cie ... Non Diary, sedang verry happy tho?” seru Jenny tiba-tiba muncul menggoda. Menghentikan langkah, Diary pun mendengus geli,“Apa sih, Mbok....” gumam Diary tersipu.             “Bonekanya verry big ya, Non. Mbok tebak, pasti pemberian dari boyfriend-nya itu, ya?” terka Jenny sok tahu. Mendengar kata boyfriend, lagi-lagi pipi Diary pun menghangat, “Ih, Simbok rumpi deh!" bantah gadis itu membuang muka, "Udah ah ... Diary mau ke kamar dulu. Dadah, Mbok Jen....” lambai Diary sambil berlari menaiki tangga. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut sang nona, Jenny pun turut tersenyum senang. Setidaknya, nonanya itu tidak lagi bersedih karena dijahili teman-teman sekolahnya. Semoga saja, dengan hadirnya teman lelaki yang tempo hari Jenny lihat datang ke rumah, tidak akan ada lagi kesedihan yang menerpa nona mudanya itu. Batin Jenny penuh harap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN