Seusai jam pelajaran habis, Diary sigap mengemasi alat-alat tulisnya ke dalam tas. Bersamaan dengan itu bel pun berbunyi begitu kencang. Sebagian siswa kelas 3 IPA A sudah meninggalkan kelas.
Sementara itu, di dalam hanya tersisa Diary, Gerrald, Restu dan sebagian siswa lagi yang kebetulan mempunyai tugas piket membersihkan kelas.
“Udah selesai?" tanya Gerrald yang sudah lebih dulu menyelempangkan tas hitamnya.
Diary mengangguk lalu beranjak mengikuti Gerrald yang juga sudah duluan berdiri. Terlihat, Restu pun terburu-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Sepertinya dia tidak ingin kalau sampai Diary meninggalkannya.
Tepat ketika Diary dan Gerrald sudah berjalan ke ambang pintu, Restu pun berseru,“Di-Diary, tunggu!” Restu melangkah menghampiri. Baik Diary maupun Gerrald, keduanya menoleh bersamaan.
“Restu....” gumam Diary.
Restu pun sejenak membenarkan kacamatanya yang memerosot.
“Ada apa, Res?” tanya Diary.
“A-aku ... aku cu-cuma mau a-ajak kamu pulang bareng lagi, Diary. Ka-kamu mau, kan?” tawar Restu menatap harap.
Diary mengerutkan kening, untuk sesaat ia melirik Gerrald yang sedang memandang Restu dari tempatnya. Sejujurnya, Diary ingin sekali menolak ajakan Restu karena ia sudah janji akan pulang bersama Gerrald. Akan tetapi, Diary sudah terlanjur janji pada Gerrald untuk berpura-pura menjadi teman biasa yang baru kenal dari hari ini. Maka, demi melancarkan rencana yang Gerrald bilang sebelumnya, akhirnya Diary pun menerima ajakan Restu untuk pulang bareng.
"Ya udah, yuk!" ajak Diary pada Restu. Kontan membuat cowok berkacamata itu tersenyum semringah sembari mengangguk semangat mengiyakan ajakan Diary.
"Kalo gitu, gue duluan...." pamit Gerrald datar. Kemudian, ia pun melengos seorang diri meninggalkan Restu dan Diary yang hanya bisa mengikuti langkah Gerrald dengan pandangan.
¤¤¤
Ketika Gerrald sedang berjalan seorang diri menuju parkiran, tiba-tiba Prita muncul dari arah yang berlawanan. Gadis itu kini hanya berjalan sendirian tanpa Keyna. Entah mungkin partnernya itu sudah pulang lebih dulu atau justru Prita memang sengaja sedang ingin sendiri.
Melihat Gerrald yang sudah hampir tiba di dekat motornya, Prita semakin mempercepat langkah mendekati cowok itu hingga akhirnya tahu-tahu Prita sedikit limbung sampai tubuhnya menyenggol Gerrald yang sigap segera menangkapnya.
“Astaga, Prita lo kenapa?” tanya Gerrald sedikit kaget.
“Aduh ... kepala gue tiba-tiba aja pusing, Ger...." keluh cewek itu sembari memegang kepala.
“Emangnya temen lo ke mana? Kok lo sendirian?” tanya Gerrald lagi sambil melirik kanan kiri mencari sosok Keyna yang biasanya selalu bersama Prita.
“Gue gak tau, Ger. Gue ditinggal gitu aja sama si Keyna," sahut Prita mencebik, "Adududuh ... Gerrald, kepala gue tambah pusing masa, lo bisa antar gue pulang gak?” pintanya menatap harap.
Sejujurnya, Gerrald sangat malas jika harus menanggapi Prita yang ia tahu sering sekali menjahati Diary. Tapi, melihat dia seperti orang yang tengah membutuhkan bantuan, Gerrald pun tak bisa hanya berpangku tangan apalagi mengabaikan. Naluri ingin menolongnya seketika aktif, membuat ia lantas bertekad untuk membantu Prita meski sebenarnya ia sedikit jengah pada kelakuan cewek itu.
“Gerrald, lo bisa anterin gue pulang, kan?" rengeknya mengiba, "Gue kayaknya gak kuat kalo harus pulang sendiri....”
Gerrald masih bimbang, antara bersedia atau tidak jika harus mengantar Prita pulang. Seandainya ia tolak ia malah khawatir kalau cewek itu sampai kenapa-kenapa. Bukan maksud Gerrald menaruh perasaan pada Prita, hanya saja dia itu manusia normal yang jika melihat orang lain kesusahan maka naluri ingin membantunya akan muncul dalam seketika.
“Aduh, tuh kan ... kepala gue tambah pusing. Rasanya, gue kayak mau pingsan....” ujar Prita dengan tubuh yang nyaris limbung lagi.
“Ya udah, ayo gue antar lo pulang! Ini helmnya, lo pake ya....” putus Gerrald akhirnya sembari menyodorkan satu helm cadangan yang selalu ia bekal.
Mendengar Gerrald bersedia untuk mengantarkan dirinya pulang, Prita pun tersenyum puas. Tanpa Gerrald tahu, sebenarnya Prita hanya berpura-pura merasa pusing saja demi untuk menarik perhatian si cowok.
Sementara itu, dari kejauhan Diary tampak termangu di tempat tatkala mendapati Prita yang sudah duduk di jok belakang motor Gerrald. Perasaannya mendadak tidak suka ketika secara langsung ia melihat Gerrald bersama wanita lain. Terlebih, wanita itu adalah Prita yang selama ini selalu jahat padanya. Dan Diary yakin, Gerrald tahu akan hal itu.
"Ayo, Diary!" ajak Restu menepuk bahu Diary. Lelaki itu memang baru kembali setelah beberapa saat lalu pulang lagi ke kelas karena ada barangnya yang ketinggalan.
Mengalihkan pandangan pada Restu yang sedang membenarkan kacamatanya yang selalu memerosot, Diary lantas mengangguk meski hatinya masih tidak terima setelah mengetahui Gerrald dan Prita hendak pulang bersama.
¤¤¤
Dear Diary,
Kenapa hati ini terasa ingin menangis ya saat melihat Gerrald bersama Prita di atas motor yang sama? Padahal, Gerrald kan bukan siapa-siapa aku. Dia hanya sebatas teman yang baru sekitar 2 bulan ini aku kenal dan kujadikan dia sebagai teman curhat. Namun, rasanya aku selalu nyaman ketika dia berada di sisiku.
Apa mungkin, aku menaruh rasa padanya?
Diary menyandarkan punggung ke sandaran kursi belajar, membiarkan buku hariannya terbuka begitu saja dengan pena tergeletak di atasnya. Diary menatap nanar langit-langit kamar. Sekilas, terbayang wajah Gerrald yang sedang tersenyum padanya.
Spontan, Diary segera mengerjap-ngerjapkan mata lantas menguceknya dengan kedua jarinya bersamaan. Secepat kilat, Diary pun menepis bayangan itu agar tidak bersarang lagi di dalam pikirannya.
Tok tok tok. Suara ketukan pintu membuat Diary sigap mengalihkan perhatiannya.
“Siapa?” seru Diary malas beranjak.
“Simbok, Non....“ sahut sebuah suara dari balik pintu yang masih tertutup rapat.
“Oh ... buka aja, Mbok. Pintunya gak dikunci, kok....” suruh Diary.
Sejurus kemudian, Jenny muncul dari balik pintu yang sudah terbuka. Diary pun memandang ARTnya itu dengan tatapan bertanya.
“Maaf, Non kalo Simbok ganggu. Di bawah, ada tamu.... “ tutur Jenny memberitahu.
Kening Diary lantas mengernyit, “Tamu? Siapa?” tanya Diary seraya menegakkan posisi duduknya.
“I dont know, Non ... he say, dia itu teman sekelas Non Diary di sekolah, but dulu pun sempat datang ke rumah untuk mencari Non Diary saat Non sendiri sedang tidak di rumah,“ jawab Jenny sedikit menjelaskan.
He? Berarti, dia laki-laki? Batin Diary menerka, “Oh, ya udah ... bentar lagi Diary ke bawah. Mbok Jen duluan aja, kalau bisa ... tolong buatin dulu tamu Diary minuman ya, Mbok!” titah Diary kemudian.
“Okay, Non. I will do....” angguk Jenny mengacungkan jempol.
Tanpa banyak berpikir lagi, Diary pun merapikan buku harian dan penanya yang masih tergeletak di atas meja. Lalu, ia segera bangkit dan berjalan ke luar kamar. Diary menuruni tangga dengan santai, kemudian langsung pergi menuju ruang tamu depan rumahnya.
Setibanya ia di ruang tamu, sontak Diary pun terkejut kala melihat sosok yang sempat dipikirkannya sejak tadi tengah duduk di sofa ruang tamunya saat ini. Tanpa sadar, Diary pun bergumam, “Gerrald...”
Membuat si pemilik nama lantas menoleh hingga akhirnya tersenyum lebar setelah melihat Diary muncul. Sebelah tangannya melambai ke arah Diary yang kini masih berdiri keheranan.
“Hai!” sapanya seperti biasa.
“Gerrald, ngapain kamu ke sini?” tanya Diary seraya duduk di sofa tunggal.
“Gue mau ketemu orangtua lo!” sahut Gerrald sekenanya.
"Hah, maksud lo?" tatap Diary melongo. Sontak menyebabkan Gerrald tertawa geli karena merasa lucu melihat ekspresi yang ditunjukkan Diary.
"Lucu banget sih lo, gue sampe gemas pengen cubit...." tukas Gerrald sembari meraup muka Diary sekilas.
"Ya gue mau ketemu lo lah, masa iya gue mau ngapelin pembantu lo yang pandai berbahasa inggris itu," seloroh Gerrald membicarakan Jenny.
Mendadak Diary jadi linglung karena tak menyangka bahwa Gerrald akan datang ke rumahnya. Padahal, baru saja beberapa saat yang lalu ia memikirkan cowok itu. Tapi, tak lama kemudian yang dipikirkannya sudah hadir saja di ruang tamu rumahnya. Tanpa pemberitahuan dulu pula. Siapa coba yang tidak merasa kaget?
Diary membenarkan poni yang menutupi sebelah matanya, lalu Jenny pun datang membawa nampan berisi dua gelas minuman berikut camilannya.
"Maaf, Simbok agak lama bikin minumannya, Non...." ucap Jenny lantas berjongkok karena hendak menaruh bawaannya di atas meja.
"Gak apa-apa, Mbok...." balas Diary maklum. Mengingat ART satunya lagi sedang belanja bulanan dengan Rahman, jadi Diary mengerti akan kesibukan Jenny di dapur.
“Silakan diminum, Den....” ucap Jenny mempersilakan.
“Thanks, Mbok,” kata Gerrald mengangguk.
“You are welcome," sahut Jenny terkekeh, "Yowes, Simbok ke belakang lagi toh, Non....” pamitnya undur diri. Diary pun mengangguk setuju dan membiarkan ARTnya itu melenggang kembali membawa nampan kosong meninggalkan ruang tamu.
Seperginya Jenny, Gerrald pun berkomentar, “Pembantu lo gaul banget ya, emang dia selalu bicara dengan campuran bahasa inggris gitu kalo lagi menjamu tamu?" tanya Gerrald sembari mencomot keripik kentang yang tersaji.
"Jangankan menjamu tamu, sehari-hari aja Mbok Jen suka ngomong campuran gitu...." tukas Diary tertawa kecil. Dia jadi geli sendiri kalau mengingat betapa lucunya pembantunya yang satu itu.
"Oh iya, gimana tadi?" lontar Gerrald ambigu. Meninggalkan perbincangan tentang ART Diary yang suka sekali berbahasa campuran.
Mengernyit, Diary pun balik bertanya, "Gimana apanya?"
"Ya tadi, lo balik bareng si Restu itu kan?" terang Gerrald sedikit keki.
"Oh," mendadak Diary jadi bingung sendiri, kenapa juga Gerrald harus membahas soal dirinya yang pulang bareng Restu. Padahal, dia sendiri pun pulang bersama Prita.
"Kok, cuma oh doang?" protes Gerrald tak terima.
"Ya abisnya aku harus bilang apa? Bukannya kamu juga tadi pulang bareng Prita," ungkap Diary keceplosan. Buru-buru, gadis itu pun menggigit bibir karena tak sengaja membicarakan hal yang seharusnya tidak Diary permasalahkan.
"Kok lo tau?" tatap Gerrald terkejut. Pasalnya, saat itu Gerrald tidak melihat Diary. Tapi, kenapa justru Diary malah melihatnya?
Diary mengerjap gugup, lantas ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju teras. Tak ingin berpindah bahan bincangan, Gerrald pun dengan sengaja mengikuti gadis itu. Lalu, ia kembali bertanya sambil bersandar ke kusen pintu, "Lo lihat pas gue balik bareng Prita, ya?" tebak Gerrald.
Sementara itu, Diary masih bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Rasanya dia ingin sekali menenggelamkan diri ke dasar danau. Hanya saja, di rumahnya tidak ada danau. Maka, apa yang harus Diary lakukan?
Gerrald menghela napas, sebelum akhirnya dia kembali melangkah guna menghampiri Diary yang seakan enggan untuk berbalik badan menghadap ke arahnya.
“Diary ... kok lo gak jawab?” tanya Gerrald lagi, kali ini nadanya lebih serius dibanding sebelumnya.
Sepintas, Diary melirik Gerrald yang sudah berdiri di sampingnya, namun setelah itu dia kembali mengalihkan pandangan ke arah depan, “A-aku gak sengaja aja lihat Prita naik ke motor kamu," jawab Diary akhirnya. Setidaknya, Diary sudah mampu berkata jujur. Meski sebenarnya, Diary gugup sekali saat ini.