CHAPTER 12
Ingatan yang hilang.
Dragomir mundur ke belakang menatap Allerick setelah memeriksa Avyanna yang kini tertidur pulas, berkelana mencari ingatannya “Saya tidak dapat memastikan kapan nona Avvyanna akan bangun Tuanku, tergantung seberapa cepat ia merasa puas akan memori yang ia dapatkan, tak ada obat untuk tumbuhan memoire hanya waktu yang dapat menjawab.” Jelas Dragomir hormat.
Allerick bersedekap “Baiklah Dragomir, aku tau memang tak ada yang bisa dilakukan.”
Dragomir mengangguk “Berikan Nona Avyanna ini Tuan, agar nutrisinya tetap terjaga.” Dragomir memberikan sebuah cairan berwarna keemasan pada Allerick.
Ketika Dragomir pergi dari ruangan itu, Allerick menghampiri Avyanna, menatap wajah damai gadis itu, Allerick menunduk, berbisik di telingan Avyanna “Jangan terlalu terkejut.”
Ditengah lingkaran putih, Avyanna duduk ditengah-tengahnya, ia terikat pada sebatang pohon tua yang menjulang tinggi, tanpa daun, pohon yang tampak hampir mati.
Diluar lingkaran Avyanna melihat kedua orang tuanya tengah menggendong seorang bayi. Wajah mereka terlihat gelisah, dan bayi itu menangis kencang.
“Apa yang harus kita lakukan?” Ucap sang Ibu, ia terlihat panik menatap sang Ayah.
“Kita tidak akan membunuhnya, dia anak perempuan satu-satunya, jika kita bisa menikahkannya dengan kerajaan lain yang lebih besar, kerajaan kita akan makmur selamanya.”
Avyanna menahan nafas, bayi itu dirinya kan?
“Lalu bagaimana, Desponia mengatakan ia adalah Mate makhluk hina itu.” Sang Ibu nampak tak setuju.
“Aku akan memindahkan raganya ke salah satu tubuh makhluk mortal, sementara itu kita akan menyegel tubuhnya disini, hingga umurnya 18 tahun, lalu dia akan kita nikahkan dengan salah satu Raja paling berkuasa di negeri kita, kerajaan sedang kritis, kita kekurangan kekayaan alam dan kita hampir menggalami kemiskinan.”
Avyanna mendengar percakapan itu dengan jelas, namun ia tak dapat menggerakan seluruh tubuhnya. Avyanna tersentak, ternyata itu alasan dirinya di pertahankan. Hanya untuk dinikahkan dan memperbaiki keadaan istana, tapi Avyanna merasa itu mungkin sering dilakukan, jadi ia mencoba memahami.
Avyanna melihat keseharian bayi yang tak lain adalah dirinya, ia sering di tinggalkan sendiri, walaupun menangis tak ada yang akan memberinya s**u atau menenangkannya, hanya jika ada Aillard yang datang membawa sebotol dot padanya maka Avyanna kecil bisa tenang.
Sepanjang tahun itu, hanya Aillard yang selalu menimangnya, memberinya makanan dan meminta pelayan memandikan dan menggantikan baju.
Avyanna seketika tecekat, ia tak mengharapan memori ini, menyesakan, Avyanna tidak menyukainya, dadanya terasa panas karena sakit, tiba-tiba hatinya yang biasanya sejuk kini memanas, emosi bergejolak. Namun ini masih setengah dari memorinya.
Memori berganti, Aillard tengah bermain bersama seorang gadis kecil, Itu pasti Avyanna yang sudah tumbuh, warna matanya sama dengannya “Avyanna anak pembawa sial, Avy mate si makhluk terkutuk.” Avyanna menatap nanar pemandangan di depannya, Aillard mengajaknya bermain keluar, mereka tengah berada di bukit, berlarian disana, lalu ada segerombolan anak-anak yang tiba-tiba mengelilinginya, Aillard segera menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
“Hentikan!” Teriak Aillard murka, Avyanna kecil sudah menangis sembari memegang baju Aillard penuh takut.
“Avyanna anak aneh! Avyanna anak aneh!” Anak-anak itu terus berteriak mengatainya aneh.
Aillard murka, pria itu memukul anak-anak itu membabi buta, tak perduli dirinya yang tak seharusnya meladeni anak kecil, tapi Aillard marah, sampai para pengawal kerajaan menghampiri mereka dan memisahka anak-anak itu yang hampir mati di tangan Aillard.
Aillard dan Avyanna dibawa ke istana, Ibu dan Ayahnya berlari menghampiri mereka, tapi mereka hanya menghampiri Aillard, sang Ibu mengecek wajah Aillard yang lebam dan keadaan yang cukup berantakan, sang Ayah menatap Avyanna tajam “Aillard, sudah ayah bilang jangan bawa dia keluar istana.”
“Tapi Avy bosan di istana Ayah.” Bela Aillard.
“Mulai sekarang Avyanna akan tinggal di kastil belakang istana, hanya pelayan yang boleh mengunjunginya, kau paham!” Titah sang ayah.
“Tidak! Kalian tidak adil. Avyanna adalah adiku!” Teriak Aillard marah, ia memberontak namun penjaga istana membawanya masuk kedalam istana secara paksa.
Ayah dan Ibunya menatapnya dingin “Bawa dia ke kastil Desy.”
Avyanna kecil meremat jarinya takut, mulai saat itu, Avyanna kecil hanya menghabiskan waktu sendiri di kastil, yang mengunjunginya hanyalah pelayan yang bertugas membersikan kastil dan mengantarkan Avyanna makanan.
Malam itu Avyanna jatuh sakit, ia meringkuk di atas kasur yang tidak terlalu empuk, ia kedinginan, ia berharap ada salah satu orang yang akan mengantarkannya bubur dan selimut yang cukup hangat, atau setidaknya menyalakan perapian untuknya sampai ia merasa sedikit hangat, namun nihil, malam itu Avyanna yang berusia 10 tahun menangis, ia merasa diasingkan dan tidak diharapkan.
Aillard bahkan tak mengunjunginya sama sekali.
Krek.
Avyanna menegang, suara tumpukan kayu yang dilemparkan ke tungku membuatnya terpaksa membuka mata, ia menemukan pria dewasa berpakaian serba hitam menyalakan perapian, Avyanna menatapnya takut “Siapa kau?”
Pria itu berbalik, Avyanna menatapnya dalam, wajahnya sangat tegas dengan aura gelap yang menguar. Tiba-tiba jantungnya berdegup menyenangkan, dan Avyanna tak bisa melepaskan pandangannya dari pria itu.
“Allerick,” Gumam Avyanna dalam lingkaran, Allerick pernah menemuinya dulu?
Avyanna kecil hanya diam, pria itu mengeluarkan sayap hitamnya hingga membuat Avyanna menjerit, pria itu mengepakan sayapnya menjauh melalui jendela besar. Setelah kepergiannya, Avyanna tak bisa tiddur, fikirannya dipenuhi pertanyaan akan siapa pria itu, bagaimana ia bisa masuk, dan untuk apa ia menyalakan perapian, apa ada yang menyuruhnya?
“Dengar Desy, anak itu tak boleh lecet, atau harganya akan berkurang nanti.” Desis sang Ibu tajam, sepertinya Desy baru saja dimarahi karena Avyanna dibiarkan bermain di taman istana kemudian melukai kakinya karena ceroboh, ia jatuh karena tersandung akar pohon dan kakinya membengkak.
“Maafkan saya yang mulia, Tuan Aillard memaksa untuk membiarkan Avyanna bermain di taman.” Jelas Desy takut-takut.
Hati Avyanna teriris mendengarnya, ternyata mereka masih tak berubah, padahal Avyanna berusaha menurut dan menjadi anak baik, Avyanna juga ingin bebas. Apa perasaanya tak berarti? Tapi Avyanna masih bersyukur karena Aillard memperdulikannya, setidaknya ada Aillard kan?
Avyanna yang saat itu berusia 10 tahun tengah duduk di atas balkon kastil, dari sana ia bisa mendengar suara pesta perayaan ulang tahun Aillard yang ke 900 tahun di rayakan dengan meriah, Ibunya melahirkannya hanya untuk melengkapi keturunan, agar kerajaan memiliki satu putri di istananya. Di umur sang Ibu yang harusnya tak dapat mengandung lagi, Ayahnya terus berdoa pada sang pencipta untuk diberi keturunan perempuan.
Lalu doanya terwujud, sang istri hamil, melahirkan anak perempuan yang cantiknya membius semua orang.
“Bunuh bayi ini yang Mulia, dia akan membawa mala petaka, dia terlahir sebagai Mate bangsa musuh.”
“Half Werewolf dan Fallen Angel.” Keadaan di pesta itu seketika senyap, orang-orang tau siapa yang tengah berbicara, ialah Desponia. Si peramal, semua ramalannya tak pernah salah, ia dikaruniai mata buta namun bisa melihat dengan jelas dengan indranya yang tajam.
Ayahnya yang sebelumnya nampak senang terlihat murka “Kami tidak akan membunuhnya!”
“Apa maksudmu! Kau ingin menghancurkan negeri suci ini, bunuh dia!” Seru seseorang.
“Ya, menjadi mate makhluk terkutuk itu sangat menjijikan!”
“Kami tak akan pernah sudi!”
“Bunuh dia!”
Seruan penolakan itu membuat Ayah dan Ibunya menggeram marah “Diam! Aku yang akan memutuskan! Aku tidak akan membunuhnya, ia akan menjadi istri Pangeran Zander nanti.”
Pangeran Zander yang saat itu menggantikan sang ayah tersenyum tipis, sebenarnya ia sudah di beritahu, dan ayahnya setuju, maka ia pun setuju, ada keuntungan masing-masing yang akan didapatkan dua kerajaan.
“Biarkan bayi itu tumbuh, hingga usia 18 tahun kemudian kami akan menikah.”
Kerajaan Zander yang begitu diagung-agungkan membuat keadaan sejenak tenang, emosi mereka mulai meredam, dari semua pengaruh kerajaan Pure Angel, kerajaan keluarga Zander adalah yang paling ditakuti, kerajaanya makmur, mereka memiliki banyak kekuasaan dan diagungkan dalam bertarung.
Maka sang bayi yang baru lahir itu dibiarkan hidup, dengan banyak gunjingan dan pandangan jijik bahkan dari rakyat dan keluarganya, Sang Ayah dan Ibu tiba-tiba berubah membencinya, kerajaan mereka di cap terkutuk dan itu mempermalukan kerajaan, maka mereka menyembunyikan Avyanna hingga waktunya tiba, tanpa cinta dan kasih sayang.
Avyanna kecil sering menangis sendirian, tak ada yang ingin berdekatan dengannya, tak ada yang mau menemani dan bermain dengannya.
Ketika ia berlari menghampiri sang ayah dengan kaki kecilnya, ia melah diabaikan seolah tak ada.
Ketika ia menghampiri sang ibu sambil membawa bunga, bunga itu malah di buang.
Avyanna dalam istana tak akan pernah di anggap ada. Ia hanya penngemis dalam istananya sendiri, mengemis agar keberadaanya diakui, mengemis agar ia bisa diperlakukan sebaik orangtuanya memperlakukan Aillard.
Tapi sejak kelahirannya, Avyanna hanyalah anak gadis yang akan selalu siap untuk di jual.
Setega itukah orang tuanya, ulang tahunnya tak pernah di rayakan, Avyanna akan kena masalah jika ia keluar rumah apalagi ada seseorang yang melihatnya, sepanjang hidupnya apa ia akan dikurung di dalam kastil?
Avyanna remaja mulai tumbuh lebih cantik, usianya 16 tahun, kecantikannya makin tersohor, semua orang penasaran akan betapa cantik gadis itu. Tapi semua orang juga tak bisa melupakan fakta bahwa ia adalah mate makhluk terkutuk.
Diam-diam di malam hari saat acara makan malam Avyanna menyelinap keistana, menipu penjaga kastil kalau ia sudah tidur dikamarnya dengan sebuah guling, Avyanna saat itu berdiri di belakang tembok, mendengar percakapan keluarganya di meja makan. Ada Ibu, ayahnya dan Aillard. Untuk pertama kalinya Avyanna melihat wajah Aillard dari dekat, selama ini ia hanya meliihat Aillard dari kejauhan, sedang berlatih terbang dan memanah di lapangan.
Kakaknya tampak lebih pendiam, Avyanna mendengar dari penjaga istana yang suka bergosip kalau Aillard sering mencoba menerobos kastil untuk menemui Avyanna.
“Ayah, apa harus memindahkan raga Avy ke salah satu makhluk mortal?” Aillard nampak tak setuju, jelas sekali.
Sang ayah menatap Aillard “Hanya ini yang bisa dilakukan, bersyukur ayah tidak membunuhnya karena ramalan itu.”
Aillard membanting sendoknya di meja cukup keras “Avy juga anak ayah, apa ia hanya dilahirkan untuk menjadi mainan kalian!”
Avyanna yang masih menguping saat itu merasa sakit, ia kira mereka sedikit perduli, nyatanya mereka terpaksa mempertahankan dirinya.
“Aillard! Ayahmu benar, ia adalah mate makhluk hina. Akan sangat menjijikan jika ia menikahi makhluk itu. Tapi kerajaan membutuhkannya, syukur ia memiliki rupa yang bagus untuk di jual!” Bentak sang Ibu.
Sejujurnya, kedua orangtua Avyanna menyayangi gadis itu awalnya, sebelum ramalan itu membawa petaka, mereka para Pure Angel sangat membenci bangsa Fallen Angel, maka mendengar anak mereka adalah mate makhluk itu, mereka merasa jiji, namun tak sanggup membunuh Avyanna.
Dalam diam Avyanna merasa sakit, malam itu ia kembali ke kastil dalam keadaan sakit hati yang amat, gadis itu menangis memeluk lututnya, ia merasa sangat tak berdaya.
Avyanna tak tau harus bagaimana,jika ia ingin pergi, maka kemana ia harus pergi, ia tak tau siapapun, semua orang membencinya. Semua orang menganggapnya hina.
Perepian menyala tiba-tiba,tangisan Avyanna terhenti, ia beringsut mundur ketika asap hitam mengepul dari perapian kemudian memunculkan sosok pria yang sama seperti malam ia sakit, beberapa tahun lalu.
Avyanna menatapnya takut, pria itu menatapnya lamat “Siapa kau?” Avyanna tergagap. Namun ia mencoba berani.
“Kau akan tau nanti. Ikuti ritual pemindahan raga dan kita akan bertemu lagi, mereka tak akan berani menikahkanmu jika kau belum cukup umur.”
Avyanna sejenak merenung, ketika ia kembali menatap dimana pria itu, sudah tak ada, hanya ada kepulan asap hitam didepannya.
Avyanna memakai tudung biru di kepala, ia menyelinap keluar memanjat tembok belakang, gadis itu berjalan dengan santai, mengikuti jalan setepak menuju desa, gadis itu tersenyum riang, ia menemukan pasar, disana tampak ramai, Avyanna menatap takjub keadaan itu, banyak pedagang kecil-kecilan yang sedang bertransaksi, namun Avyanna hanya fokus pada penjual bunga yang sudah tua itu, Avyanna menghampirinya, ia merogoh sakunya, menemukan beberapa uang koin, dengan gugup Avyanna menutup wajahnya.
“Tolong bunga Daisy.” Ia menyerahkan uang pada pedagang bunga yang sudah tua itu, meski bunganya sudah layu, Avyanna hanya ingin membantunya.
“Oh nona, uangmu lebih.” Ujar penjual bunga itu.
“Ambil saja.” Avyanna tersenyum.
“Terimakasih nona!” Avyanna mengangguk, gadis itu berjalan riang dengan setangkai bunga Daisy ditangannya.
“Hei kau makhluk menjijikan!”
Avyanna mengabaikan segerombolan pria yang mengikuti langkahnya kembali ke istana, langkah kaki mereka mendekat, Avyanna menatap keadaaan jalan setapak yang nampak sepi, gadis itu panik ketika tudungnya di tarik, pria-pria itu mengelilinginya, kemudian bersiul.
“Lihat, dia sangat cantik!” Seru salah satu pemuda.
“Sayang dia harus jadi mate makhluk hina.” Pria yang berjumlah empat orang itu tertawa.
Avyanna bergerak mundur, ia berbalik kemudian berlari sekuat tenaga, namun tenaganya tak sebanding, pria-pria itu dengan mudah mengejarnya, Avyanna di dorong ke atas tumpukan jerami, jubahnya di tarik, Avyanna berteriak begitu terkejut “Pergi!”
“Kau sangat cantik.” Salah satu dari mereka menyentuh lengan Avyanna.
Gadis itu menepisnya “Biarkan aku pergi.” Avyanna ketakutan luar biasa, ia menyesali keputusannya keluar istana, ia hanya ingin melihat diluar istana, sebelum upacara perpindahan raga dilakukan beberapa hari. Avyanna hanya ingin sedikit bebas.
Tapi ia lupa kalau ia tidak berpengalaman dengan dunia luar.
“Hei, dia putri sang Raja, jangan melewati batas.” Salah satu pria itu ternyata cukup waras.
“Kau lupa, dia bahkan diasingkan, orangtuanya membencinya.”
“Ya, tapi dia tetap akan menjadi istri Raja Zender nanti.”
“Ah sial!”
Avyanna menghembuskan nafas lega, gadis itu merasa tenang ketika pria-pria itu pergi meningalkannya.
Avyanna menarik nafas pelan, gadis itu berdiri berusaha berjalan kembali ke istana.
Sayangnya ia telah di tunggu di pintu belakang oleh prajurit istana, Aillard yang melihatnya berlari menghampirinya kemudian memeluk Avyanna erat.
“Kemana saja?”
Avyanna meringis, gadis itu merasa bersalah “Maafkan aku.” Avyanna menunduk dalam.
Aillard menghela nafas pelan, ia tak bisa marah, namun orangtuanya akan menghukum gadis itu.
Aillard menatap Desy yang meminta Avyanan masuk kedalam. Avyanna di bawa ke hadapan Ayah dan Ibunya.
Gadis itu menunduk ketika orangtuanya menatapnya penuh murka, apalagi ketika ayahnya mendekat kemudian melayangkan tamparan keras padanya, Avyanna tak bergeming.
“Memang pembawa sial!”
“Berani sekali kau keluar dengan kutukan itu!”
Avyanna menguatkan dirinya memandang sang Ayah, untuk pertama kali ia dapat memandang ayahnya “Aku hanya ingin tau seperti apa dunia di luar istana ayah.”
Sang Ayah terdiam, menatap mata sebiru samdura itu untuk pertama kali setelah terakhir ia menggendongnya “Rakyatku membencimu, cukup sadari itu.”
“Ayah dan Ibu juga?”
“Ya.” Satu kata itu mampu meruntuhkan Avyanna.
“Kemari!”Titah sang ayah, Avyanna menurut, ia masuk kedalam peti, berbaring disana. Akhirnya hari pemindahan raga tiba, Avyanna harusnya menolak, namun entah kenapa ia mengingat percakapannya dengan pria malam itu, yang mengatakan untuk mengikuti ritual pemindahan raga. Ketika Avyanna mendektat, sebuah peti putih ada di depannya, Avyanna pun tengah menggunakan gaun putih, di dalam ruangan itu ada orangtuanya dan Aillard yang sejak tadi memandangnya. Avyanna berdir di depan peti seorang makhluk mortal didalamnya, kalau tak salah namanya Eve, gadis bernama Eve itu di bawa kebangsa Imortal, sebagai wadah raga Avyanna nanti.
Avyanna diminta berbaring di peti dengan menggenggam tangan gadis bernama Eve itu, seseorang berjubah putih menyalakan apa diantara mereka kemudian menggores lengan Avyanna dan Eve, Avyanna mendengar pria berjubah membaca mantra pemindahan raga, sebelum itu Avyanna diminta meminum cairan berwarna hitam, cairan penghilang memori.
Avyanna perlahan terlelap. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang ia tau Aillard berlari kearahnya, berbisik “Aku mencintaimu Avy, bukan sebagai seorang kakak. Maafkan aku.”
Avyanna tersentak, ia merasa sekurjur tubuhnya panas, kayu yang mengikatnya terbakar, cahaya putih menyerangnya, tak ada memori lagi yang terlihat, namun seorang wanita dengan mata buta menghamirinya, dengan mudah masuk kedalam lingkaran.
Desponia.
“Sudah saatnya ramalan kedua kau dengar.” Desponia melepaskan ikatan Avyanna dengan mudah, wanita itu menatapnya, menyentuh dagu Avyanna untuk menatapnya.
“Abraxas membawa ramalan samar, entah menjadi penghancur atau mendamaikan.” Desponia menarik Avyanna berdiri, menghindari kayu tua yang perlahan dilalap api.
“Siapa Abraxas?” Avyanna tak mengerti.
Desponia tersenyum, tak mengatakan apapun, namun Desponia menutup matanya dengan tangannya, Avyanna serasa ditarik kembali ke raganya, Avyanna tau, memorinya telah berakhir, dan ia tau Desponia baru saja memberitahunya ramalan kedua, ramalan yang Avyanna belum pahami.
Terakhir, Avyanna tau ia telah kembali kedalam raganya.