Allerick menghilang sejak percakapan terakhir mereka malam itu, di istana kegiatan Avyanna berubah, ia selalu bersama Mor, berlatih bela diri, memanah, pedang dan berkuda.
Kini Avyanna tengah berlatih memanah “Mor, bisakah mengganti target dengan apel saja, aku tak tega menembak seekor burung.”
“Anda akan menembak makhluk hidup lain nnati nona, anda harus terbiasa.”
“Tapi itu burung Mor dia tak bersalah.”
“Burung itu telah disihir nona, dia tak akan mati begitu saja hanya karena di panah.”
Avyanna mengangguk pasrah, Awalnya ia hanya memanah dengan apel sebagai target, namun Mor minta untuk menggantinya dengan burung, syukurnya burung itu tidak akan langsung mati, sebab telah di sihir.
“Mora pa ada penyihir?”
“Ya penyihir Istana, Daleka.”
“Kau percaya pada penyihir, bukankah berbahaya.”
Mor menggeleng “Daleka tunduk pada Tuan Allerick sebab dia telah berhutang pada istana.”
“Berhutang?”
“Daleka hampir dibunuh penduduk kemudian Tuan Allerick membebaskannya, memberinya tempat tinggal diistana untuk menjadi penyihir istana.”
“Sudah tak ada penyihir tersisa, sangat jarang menemukan penyihir yang mau bekerjasama seperti Daleka.”
“Mor bolehkah aku bertanya?”
Mor mengangguk saja, meski harusnya ia menegur Avyanna karena wanita itu tak jadi fokus pada panahannya.
“Kenapa kau memanggil Allerick Tuan, bukankah kalian sahabat sejak kecil.”
Mor menoleh dengan terkejut “Kau membaca memorinya?”
Avyanna mengangguk “Tidak sengaja, dia sedang tidak fokus.”
Avyanna melotot “Mor! Aku tau. Cara membaca memori orang yang mengunci memorinya adalah dengan membuat fokusnya terbelah.”
Mor tersenyum “Anda harus member tahu tuan Allerick nanti.”
Avyanna tersenyum lebar, melupakan pertanyaanya yang belum di jawab Mor.
~~
Avyanna melukai tangannya karena adu pedang bersama Mor sore tadi, Mor terlihat menyesal dan merasa bersalah, padahal Avyanna bilang tak apa.
Tangan Avyanna di perban, lukanya cukup dalam sebenarnya, tapi Avyanna berusaha terlihat baik-baik saja, ia prihatin dengan Mor, tidak tau kenapa Mor ketakutan padahal jelas Avyanna tak akan marah. Karena ada Allerick yang akan menyembuhkannya nanti,
Tapi Allerick tak kunjung pulang, Avyanna dengan Allerick pergi bersama Rush,Avyanna tak yakin mengingat pri abernama Rush, apakah ia tangan kanan ALlerick setelah Mor.
“Layla, bisa tanyakan pada Mor kapan Allerick pulang?”
Layla mengangguk, ia meletakan cangkir teh di meja, kemudian keluar mencari Mor.
Avyanna menghabiskan waktu pagi itu dengan diam di dalam kamar, ia sejujurnya tak terlalu menyukai kegiatan bertarung seperti yang Mor ajarkan, Avyanna lebih suka mempelajari tentang tanaman obat, atau belajar tentang klan di negeri mortal, sebelumnya ia hidup di negeri manusia, Avyanna tak pernah menempuh pendidikan yang tinggi, ia sibuk ke perpustakaan kota meminjam banyak buku disana.
Jika Avyanna fikir-fikir, mungkin benar kata Allerick, harusnya orang tuanya tak perlu repot mengasingkannya ke tempat manusia, apalagi sampai dua kehidupan, sebenarnya apa ada alasan lain?
Avyanna mengambil buku tentang berbagai sejarah klan, ia masih fokus pada sejarah klan srigala, di katakana kekuatan terbesar bangsa srigala adalah pemilik mata kutukan, itu Allerick kan?
Apa semua klan juga mengantisipasi kekuatan srigala Allerick sebab itu?
Atau Allerick memiliki kekuatan lebih? Karena seharusnya Allerick memilikinya, ia campuran bangsa srigala dan fallen angel kan?
Jika bangsa srigala di takuti karena kekuatan bertarungnya, dan yang paling di takuti adalah si pemiliki mata kutukan yaitu Allerick.
Avyanna membalik buku-buku itu, mencari sejarah tentang klan fallen angel. Dikatakan bahwa pemilik kekuatan terkuat adalah ia yang berhasil merebut black giant wings dengan duri beracun dari sang naga.
Itu Allerick juga.
Avyanna mengerti sekarang, Allerick adalah dua kekuatan paling di takuti olah dua klan sekaligus, di tambah Allerick memiliki kekuatan fatamorgana.
Tunggu, Avyanna juga memiliki kekuatan membaca memori, muncul setelah darahnya disatukan dengan Allerick dalam ikatan pernikahan, apa artinya kekuatan yang harusnya menjadi milik Allerick malah menjadi miliknya.
Avyanna mengerti ssekarang, sama seperti mereka yang di takdirkan bersama, saling menyembuhkan, sekarang mereka juga berbagi kekuatan.
Tapi, yang paling membingungkan adalah sayap yang seharusnya sudah Avyanna miliki, seperti kata Aillard, harusnya sayapnya sudah ada ketika ia menikah dengan Allerick, menemukan matenya.
Namun kenapa, sayap itu tak ada.
“Sepertinya kau sedang memikirkan banyak hal.”
Avyanna terkesiap, ia menatap Allerick yang sudah bersandar santai di dekat pintu “Bisakah kau muncul dengan cara yang normal?”
Allerick mengangkat bahu acuh “Seperti mengetuk pintu? Nah itu terlalu sopan untuku.”
Ya, hal seperti mengetuk pintu memang tak mungkin pria itu lakukan jadi Avyanna hanya pasrah “Apa yang membuatmu sibuk belakangan?”
“Kau tak perlu tau,” Allerick menatap Avyanna “Kemari.” Allerick duduk di samping Avyanna, menyentuh tangan yang masih di perban, Alleerick sepertinya sudah tau apa yang menyebabkan Avyanna terluka, pria itu hanya diam membuka perbannya, lalu fokus menyembuhkan luka Avyanna.
“Aku sudah menyembuhkanmu berkali-kali.” Allerick menatap Avyanna malas.
“Kau yang memintaku belajar pedang.”
“Kau harus bisa melindungi dirimu.”
“Aku tau.”
Keduanya hanya diam, Allerick sepertinya sudah mandi, ia mengenakan pakaian hitam santainya.
“Bolehkah aku bertanya?”
Allerick mengangguk, pria itu menuang anggur di gelas, duduk di sofa dekat jendela, menatap Avyanna.
“Kau pemilik dua kekuatan yang paling di takuti bangsa Srigala dan Fallen Angel kan?”
Allerick mengangguk, ia tau Avyanna banyak membaca, ia bisa lihat buku tentang sejarah semua klan di pangkuan gadis itu.
“Kekuatan apalagi yang harusnya kau miliki setelah menikah denganku, kau memiliki kekuatan Fatamorgana, lalu aku tiba-tiba memiliki kekuatan membaca memori, bukankah seharusnya itu menjadi milikmu, sebenrnya berapa kekuatan lagi yang akan kau dapat?”
Allerick tersenyum miring, sepertinya Avyanna mulai banyak tau “Dua kekuatan lagi, aku tidak tau kapan itu akan muncul.”
Avyanna mengangguk mengerti, mungkin Allerick tidak tau kekuatan lain apa.
“Seseorang mmberi tahuku sebenarnya Desponia punya dua ramalan.”
“Apa kau tau?”
Allerick menggeleng “Setelah mengatakan ramalan pertama, Desponia hilang entah kemana.”
“Mungkinkah ada yang menyembunyikannya?”
“Mungkin saja.”
“Kau tak ingin tau isi ramalan kedua?”
“Dia akan muncul jika saatnya tiba.” Ujar Allerick misterius, ia menyesap pelan winenya.
“Allerick, apa kau tau kenapa sayapku belum muncul. Kata Aillard harusnya sayapku muncul saat aku bertemu mate ku.”
“Aillard?”
Avyanna mengangguk “Kakakku,”
“Kau tau kenapa mereka mengasingkanmu ke negeri manusia?”
“Untuk menghindari ramalan.”
Allerick tertawa “Kau bodoh, mereka mengasingkanmu ke negeri manusia, membekukan tubuhmu di usia 18 tahun, lalu jiwamu di tempatkan di makhluk lain, mereka mengambil satu bulan sebelum ramalan terjadi, tapi kau tidak memiliki memori apapun bukan?”
“Kau merasakan hal aneh ketika datang bersama unicorn itu padaku?”
Avyanna mengingat malam itu “Hutan merah nampak berbeda, seperti memanggilku, jadi tanpa sadar aku kesana.”
“Mereka menghilangkan memorimu Avyanna, memori 18 tahunmu. Ada yang mereka sembunyikan.”
Avyanna tercengang, benar, harusnya ia mengingat memori masa kecilnya sebagai Avyanna, namun kenapa sudah banyak waktu berlalu satupun ingtannya tak muncul, apa benar ada yang orangtuanya sembunyikan?
“Allerick, aku tau cara membaca memori orang yang mengunci memori tanpa menyentuh.”
“Dengan membuat fokus mereka terbelah.”
~~~
“Layla, kau tau penyihir istana bernama Daleka?”
Layla meletakan gaun Avyanna di atas kasur “Ya nona, ia sering berada di belakang hutan, berlatih menyihir disana.”
“Apa tak masalah membiarkan penyihir di Istana?”
Layla termangu “Saya rasa tuan Allerick percaya pada Daleka nona.”
“Aku ingin menemuinya,” Putus Avyanna.
“Anda sudah meminta ijin Tuan Allerick?” Tanya Layla waspada.
Avyanna mengangguk pasti, meski ia berbohong, ia tak pernah meminta ijin pada Allerick, entah kenapa setiap Avyanna ingin melakukan sesuatu Layla selalu bertanya apa ia sudah ijin pada Allerick, seperti semua yang Avyanna lakukan harus diketahui oleh pria itu.
Atau seolah ada hal terlarang yang Avyanna tak boleh lakukan.
Layla mengangguk, “Saya akan mengantar anda menemui Daleka.”
~~
Avyanna mungkin nekad, namun ia tak mau terus menerus melakukan sesuatu yang Allerick mau, ia hanya ingin tau.
Allerick yang membuatnya selalu ingin tau.
Layla pamit menunggu di pintu belakang, entah kenapa Avyanna begitu penasaran tentang Daleka, seolah ada sesuatu yang mendorongnya mencari tau tentang Daleka.
Avyanna berdiri di belakang Daleka, dia seorang gadis yang terlihat masih muda, rambutnya merah dengan kulit yang begitu pucat, dia tengah fokus mengubah seekor burung menjadi berbagai bentuk, yang terakhir Avyanna berteriak ketika burung itu berubah menjadi naga dalam cahaya merah menyala.
Daleka berbalik, dahinya mengernyit, ia memandang Avyanna lama, senyum tipis terpasang dibibir merahnya, lalu gadis itu membungkuk pada Avyanna “Mate Allerick?”
Avyanna mengernyit, bukankah seharusnya Daleka memanggil Allerick dengan ‘tuan’
“Ada apa anda menemui saya nona?” Daleka berbalik mengelus naga berwarna merah itu lembut, naga itu tunduk di bawah kuasanya, seolah mengabaikan keberadaan Avyanna.
“Kau akrab dengan Allerick, kau tak memanggilnya dengan sebutan tuan seperti yang lain?”
Daleka menatapnya, tersenyum tipis “Mungkin,”
Avyanna berdehem “Aku ingin bertanya sesuatu, mungkin kau tau.”
“Tanyakan nona.” Sikap Daleka yang begitu tenang namun membuat Avyanna curiga menganggunya.
“Bisakah kau membantuku menghadirkan sayap pure angel miliku?”
“Hmm, bukankah seharusnya muncul ketika kau menyatu dengan Allerick?” Daleka tersenyum, ia mendekati Avyanna, menelisik penampilan Avyanna dari atas hingga bawah “Kau mencintai Allerick?”
Itu pertanyaan lancang bagi Avyanna, apa Daleka benar-benar hanya seorang yang mengabdi pada Allerick, sepertinya tidak, gadis itu begitu cantik dan nampak mencolok, atau mungkin ia berani karena siap mengutuk Avyanna kapan saja.
Tapi, Avyanna jadi memikirkannya. Apa mungkin ia mencintai Allerick, mengingat ia mungkin mencari-cari pria itu saat tak ada, apa ia merindukan Allerick, atau ketika Allerick tidak datang ke kamarnya, ia merasa kecewa.
“Jika tidak, aku bisa berikan cara memunculkan sayapmu nona.”
Avyanna mengernyit “Jika aku tidak mencintai Allerick, apa maksudmu?”
Daleka menggeleng, mengangkat bahu “Kau ingin kabur, kembali ke negerimu Pure Angel?”
Avyanna tidak pernah memikirkan untuk kabur lagi, sebab ia tak yakin ia mampu kembali ke negeri pure angel, atau ia harus ke tempat lain.
“Baiklah, pastikan saja kau tidak minum ramuan yang selalu Allerick berikan. Ramuan berwarna putih setiap malam. Ingat?”
Avyanna mengernyit, darimana Daleka tau Allerick rutin memintanya meminum ramuan itu, kata Allerick ramuan itu untuk meredam aroma pure angel murni dalam dirinya.
“Ramuan apa itu?”
“Penekan, apa yang harusnya muncul tak akan muncul, pastikan kau berhenti meminumnya jika kau sudah berencana ingin kabur.” Daleka terkekeh.
“Kenapa kau bersikap seolah ingin aku pergi?”
Daleka menatap Avyanna dingin “Kau pasti tidak tau aku adalah teman tidur Allerick sebelum kau datang.”
Avyanna menegang, benarkah? Allerick tidur dengan penyihir.
“Dia sangat tampan bukan, tapi sayang dia adalah makhluk tanpa perasaan?”
“Apa maksudmu?” Avyanna menahan emosinya, mengetahui Allerick tidur dengan Daleka membuatnya jijk sekaligus marah.
“Menurutmu kenapa Allerick di sebut makhluk terlarang? Itu karena dia terlahir tanpa perasaan, dari sekian makhluk buas di negeri ini setidaknya ada setitik perasaan untuk mereka, namun Allerick, dia makhluk sadis tanpa perasaan.” Daleka menatap Avyanna remeh “Jika kau tak berguna untuknya, dia akan membunuhmu seringan bulu, bukankah dia mengatakannya, setelah kau melahirkan keturunanya, ia akan membunuhmu.”
Daleka menatap Avyanna kasihan “Tapi aku akan selalu di butuhkan, aku punya kekuatan yang akan selalu di butuhkan Allerick.” Daleka tertawa di akhir kalimatnya.
“Daleka!” Allerick muncul di belakang Daleka dengan kepulan asap hitam. Sayapnya tengah menghilang.
Allerick menatap Avyanna marah “Apa yang kau lakukan disini, kau di larang tanpa seijinku kemanapun.”
Avyanna menatap Daleka yang tersenyum puas.
Avyanna dengan berani mengabaikan Allerick, wanita itu berbalik, menemui Layla yang masih menunggu di pintu belakang.
“Nona,” Sapa Layla, namun Avyanna hanya diam, suasana hatinya tengah buruk, Avyanna tak tau kenapa ia harus merasa marah pada Allerick, ia tidur dengan Daleka, membohonginya soal ramuan, lagipula apa yang Avyanna harapkan apa yang Daleka katakana semuanya benar, Avyanna yang terlena karena kehangatan Allerick padanya.
Avyanna berjalan ke perpustakaan istana, mungkin ia perlu berfikir jernih, memikirkan banyak hal, karena ternyata meski ia hidup di tempat lain, ia masih jadi seonggok mainan.
Ia tak bisa percaya pada siapapun, tak ada yang mungkin bisa ia harapkan untuk melindunginya.
Jadi Avyanna putuskan untuk melindungi dirinya sendiri.
Ia tak mau jadi orang bodoh untuk kesekian kali.
~~
Avyanna menghambiskan waktu untuk membaca hingga larut malam, Layla tadi memanggilnya untuk makan malam namun Avyanna menolak, ia meminta Layla membawakan beberapa makanan ke perpustakaan.
Diam-diam Avyanna pura-pura meminum ramuan yang Allerick berikan, yang sebenarnya adalah Avyanna memuntahkannya di kamar mandi.
Allerick mungkin tau ia melakukannya, tapi Avyanna tidak perduli.
Pria itu entah kemana belakangan, Avyanna juga nampak tidak perduli ia sibuk mencari tau apa yang ingin ia tau, dua kekuatan lain rupanya adalah kekuatan penghancur dan kekuatan pemanggil.
Avyanna bertanya-tanya, kekuatan mana yang nantinya akan menjadi miliknya, karena ia yakin salah satunya harusnya menjadi miliknya.
Avyanna tau ia tengah bermain dengan Allerick, ia menantang sang makhluk yang paling di takuti, namun Avyanna kekeuh pada pendiriannya,
Ia ingin pergi dari istana Allerick.
Ia tak mau jadi seonggok mainan. Anggap saja kemarahannya muncul sebab tau Allerick adalah makhluk tanpa hati, sejujurnya Avyanna sadar ia mulai menyanyangi Allerick, pria itu bersikap bergitu lembut padanya, menuruti keinginanya, dan mengkhawatirkannya, anggap saja Avyanna bodoh karena terlena.
Yang ingin Avyanna lakukan sekarang adalah menemukan memorinya yang hilang.
Karena ia mulai ragu dengan keluarganya sendiri.
“Anda masih di sini nona?” Avyanna menoleh tersenyum tipis pada Mor.
“Ada apa Mor?” Avyanna memang akan berlaku ramah pada Mor, sejujurnya ia sekarang lumayan akrab dengan Mor, pria itu baik dan cukup asik menurut Avyanna. Lebih asik dari Layla yang obrolannya selalu kaku dan membosankan.
“Saya rasa ini sudah terlalu larut untuk membaca nona,”
“Mor, bisakah kau memanggilku Avy saja, kau terlalu kaku seperti Layla,”
Mor terkekeh “Maafkan aku Avy, hanya saja mungkin tidak pantas jika Tuan Allerick mendengar nanti.”
Avyanna memutar bola mata malas “Mor, dia memang selalu mempermasalahkan hal sepele bukan, kau tau dulu saat aku di dunia manusia aku tak punya teman sama sekali, aku harap kau mau jadi temanku disini Mor, kau tau aku hanya boleh berbicara padamu dan Layla.”
Mor mengangguk “Tentu, ngomong-ngomong itu buku keberapa yang kau baca?” tanya Mor penasaran,
Avyanna nampak berfikir “Mungkin buku ke sepuluh,”
“Kau membaca lebih banyak dari yang aku duga.” Keduanya terkekeh “Kau mungkin butuh kaca mata secepatnya.”
Avyanna tertawa “Kaca mata tebal seperti kuda?”
“Ya, kau mau?”
Avyanna menggeleng cepat dengan kekehan manisnya.
“Bagaimana dengan dunia manusia, apa disana lebih baik?” Mor nampak penasaran, kini ia duduk di depan Avyanna.
Avyanna mengangguk semangat “Disana sangat canggih, orang-orang sibuk bekerja, di kantor, mereka bersekolah, dan mereka melakukan banyak hal konyol.”
“Oh ya, seperti apa?”
“Mereka menjadi badut untuk menghibur orang-orang, mereka sering mengadakan festival, hellowin, cristmas, aku suka hellowin. Treat or trick!”
“Wow, sepertinya menajkubkan.”
“Ya, aku rindu saat duniaku damai.” Tatapan Avyanna tiba-tiba menyendu, membuat Mor merasa bersalah.
“Maafkan aku,” Sesal Mor.
Avyanna menggeleng dengan senyuman tipis “Bagaimana dengamu, ceritakan padaku sesuatu.”
‘Tidak ada yang menarik, aku hanya Mor.”
Avyanna memutar mata malas “Mor, hanya Mor? Ayolah.”
Mor tertawa “Baiklah, aku Mor, aku hanya pengabdi Allerick.”
“Apa yang kau suka?”
“Mmm berada di hutan belakang untuk menengkan diri.”
“Apa yang menarik di hutan belakang?”
“Ada taman bunga dan danau di sana.”
Mata Avyanna berbinar “Benarkah, kenapa aku tidak tau.”
“Kau tak pernah kesana,”
“Pernah satu kali, menemui Daleka.”
“Untuk apa, kurasa Allerick akan marah jika kau kesana.” Entah Mor pura-pura tak tau atau apa, tapi Avyanna merasakan kemarahan Allerick ketika menemukan dirinya menemui Daleka.
“Lupakan, aku ingin kau mengajariku berkuda besok.”
Mor mengernyit “Tiba-tiba kau jadi semangat.”
Avyanna terkekeh, ia ingat ketika pertama kali belajar berkuda Avyanna terus-terusan menggerutu “Kau tau aku tak suka kegiatan seperti, aku lebih suka berada disini, membaca banyak buku.”
“Baiklah, setelah sarapan.”
Avyanna mengangguk.
~~
Avyanna tengah menyisir rambutnya di depan cermin ketika pintu kamarnya di tendang, Avyanna tetap tenang, ia tau siapa pelakunya.
Wanita itu masih tenang menyisir rambutnya.
“Apa yang Daleka katakana padamu?” Allerick nampak marah.
“Tanyakan saja padanya, bukankah kalian dekat?”
Allerick tersenyum sinis “Sejak kapan kau berani membantahku? Kau datang ke hutan belakang, menemui Daleka untuk apa.”
“Tanyakan padanya.” Avyanna meletakan sisirnya di atas meja rias.
Sudah lama Avyanna tak melihat pria itu murka padanya, kini ia melihatnya lagi, Allerick mendekat, tersenyum sinis padanya, lalu mata merah itu menatap Avyanna, ia mengutuk Avyanna untuk berbicara jujur padanya.
“Katakan apa yang Daleka katakan padamu?” Allerick tersenyum menyeramkan, hawa kemarahaannya membuat Avyanna takut, namun ia tetap pada pendiriannya.
Avyanna segera menutup matanya, ia tau jika ia tak menatap mata itu, maka kutukan Allerick tak berpengaruh.
“Buka matamu,” Desis Allerick marah.
Avyanna tetap diam, meski ia merasakan cekikan Allerick makin kuat, Avyanna bertahan, ia tak terima kenapa Allerick, Avyanna tersenyum “Mau membunuhku?”
Allerick menatap Avyanna marah “Belum waktunya.”
~~
Daleka dalam kutukan Allerick, pria itu mengutuk Daleka, merasakan kesakitan selama beberapa hari karena mengatakan hal yang harusnya tak dikatakan pada Avyanna.
“Allerick kumohon hentikan kutukanmu, seluruh tubuhku sakit.” Daleka meringis, suaranya melemah, tubuhnya terlihat baik-baik saja dari luar, namun di dalam tubuh Daleka terasa sakit, seperti di tusuk-tusuk kemudian di remas.
“Aku memperlakukanmu dengan baik di istanaku bukan berarti kau berhak melakukan segalanya sesukamu.”
Daleka terengah-engah “Maafkan aku, aku tak akan berbicara padanya lagi.”
Allerick mendengus “Hal yang memang harus kau lakukan, karena aku masih membutuhkanmu, akan kubebaskan kau Daleka.”
Daleka menatap Allerick penuh terimakasih “Terimakasih Allerick.”
~~
Allerick baru saja turun setelah menyelesaikan urusan pribadinya, ia menatap Avyanna dan Mor yang tengah latihan berkuda di lapangan istana.
Allerick mengernyit, sejak kapan kedua orang itu terlihat begitu akrab. Mereka tertawa, entah mentertawakan apa, Allerick menatap kedua orang itu tajam. Meninggalkan keduanya sebentar ternyata membuat mereka akrab, namun Allerick membiarkannya, ia percaya pada Mor.
“Allerick memperhatikanmu,” Mor menghentikan laju kuda Avyanna, pria itu membantu Avyanna turun dari kudanya.
Avyanna menatap ke atas, Allerick masih disana, memandang mereka datar.
Avyanna segera mengalihkan pandangannya, cukup canggung rasanya karena mereka belum berbicara lagi sejak pertengkaran itu.
“Kalian bertengkar?” Mor duduk di kuri bersama Avyanna.
“Belakangan dia bersikap baik, sampai aku menemui Daleka dan dia marah.”
Mor membelalak “Kau tak boleh menemui Daleka,” Bisik Mor pelan.
“Agar Daleka tidak memberitahuku kalau Allerick pernah menjadikannya teman tidur.” Dengus Avyanna.
Mor tercekat “Sebenarnya itu hal wajar, meski makhluk tanpa hati Allerick tetap punya gairah.”
“Ya, aku tau. Tapi aku hanya merasa aneh soal itu, mereka tidak melakukannya setelah Allerick menikah denganku kan?” Selidik Avyanna.
Mor hanya diam “Bukan hak ku menjawab.” Jika sudah begitu maka Avyanna tau ia tak bisa memaksa Mor, meski Mor bilang akan menjadi temannya, Avyanna tau Mor tetaplah akan lebih tunduk pada Allerick.
“Baiklah, aku ingin ke suatu tempat.” Avyanna beranjak, ia berjalan ke lorong belakang, masuk ke hutan buatan milik Allerick, Avyanna segera mengecek tumbuhan obatnya yang tumbuh dengan baik.
Wanita itu keluar dari rumah kaca, duduk di bebatuan pinggir air terjun dengan sebuah buku di tangannya, buku berjudul Werewolf Kingdom, buku itu membahas tentang silsilah kerajaan yang kini Allerick kuasai.
Dikatakan dibuku, Kekuatan mata kutukan dimiliki bangsa srigala dari Raja ke 2, tak ada pembahasan yang menjabarkan bagaimana Raja ke 2 mendapatkan mata kutukan, namun sejak saat itu bangsa srigala menjadi klan yang paling di takuti, si pemilik mata kutukan dapat mengutuk setelah melihat sang mangsa, Raja ke 2 mendapat kejayaanya menguasai banyak wilayah dengan kekuatan mata kutukan, mengambil daerah lain meski dengan cara kotor, mata kutukan di wariskan dari generasi ke generasi, yang terakhir menerimanya adalah Allerick, ia mendapatkannya dari ibunya. Kekuatan lain yang dimiliki bangsa srigala adalah kekuatan menyerangnya yang cepat, mencabik lawan dengan ganas, kecepatan berpindah tempat.
Bangsa srigala bergabung ke dalam klan hitam, klan buas yang memiliki sifat keji dan licik, bersama klan Fallen Angel, dan makhluk-makhluk yang memiliki catatan gelap lainnya.
Disebutkan juga, keturunan Raja dapat membuat portal untuk melindungi kaumnya.
“Kau cukup akrab dengan Mor belakangan?”
Avyanna mengalihkan pandangannya daari bukunya, ia menantap Allerick yang kini sudah melepas bajunya masuk ke dalam air, pria itu nampak santai di dalam sana.
“Kami teman.” Jawab Avyanna kemudian kembali berusaha fokus pada bacaanya.
Allerick terkekeh “Teman, terdengar aneh.”
Avyanna mendengus “Seperti kau yang dekat dengan Daleka.”
“Apa kau marah soal itu?” Allerick menaikan alisnya.
“Tidak, terserah kau.”
“Kemari.” Titah Allerick.
“Tidak.” Avyanna menolak, kemudian ia merasakan Allerick menatapnya lamat, ketika ia perhatikan pria itu, matanya sudah merah, siap mengutuk Avyanna.
Avyanna mengalihkan pandangannya segera. Namun terlambat, dalam titah Allerick Avyanna berdiri membuka satu persatu gaunnya, Allerick menatap Avyanna yang berjalan telanjang masuk ke dalam air kemudian mendekatinya.
Allerick mengembalikan warna matanya menjadi hitam, membuat Avyanna terkesiap dan segera memeluk Allerick karena kaget ia tiba-tiba berada di dalam air.
Allerick memeluk Avyanna, kulit keduanya bersentuhan “Kau menolak masuk beberapa menit lalu,” Sindir Allerick.
“Kau yang me-“ Ucapan Avyanna terpotong, Allerick tiba-tiba saja menyerbunya dengan sebuah ciuman dalam, kedua tubuh itu semakin dekat, tangan Allerick mulai menjelajah, aneh rasanya kerena mereka sedang di dalam air, terasa lebih intens.
Allerick melepaskan ciumannya ketika sadar Avyanna hampir kehabisan nafas “Aku mau kau sekarang.”
~~~